Friday, August 13, 2010

JEJAK ISLAM DI LAMPUNG.

ISLAM MASUK KE LAMPUNG LEWAT TIGA PENJURU

JEJAK ISLAM DI LAMPUNG (1)


PENGANTAR

SELAMA Ramadan 1431 Hijriah, Lampung Post menelusuri jejak masuknya agama Islam di Lampung. Penelusuran dimulai dengan menggelar diskusi terbatas bersama tokoh agama K.H. Arief Makhya dan K.H. Nurvaif Chaniago, dosen IAIN Raden Intan Dr. Fauzie Nurdin, Khairuddin Tahmid, M.A, dan dosen STAIN Metro Drs. M. Soleh. Lampung Post juga melakukan reportase ke berbagai peninggalan sejarah Islam yang tersebar di Lampung.

Barangkali, tidak semua orang mengetahui agama Islam masuk Lampung sekitar abad ke-15 melalui tiga pintu utama. Dari arah barat (Minangkabau) agama ini masuk melalui Belalau (Lampung Barat), dari utara (Palembang) melalui Komering pada masa Adipati Arya Damar (1443), dan dari arah selatan (Banten) oleh Fatahillah atau Sunan Gunung Jati, melalui Labuhanmaringgai di Keratuan Pugung (1525).

Dari ketiga pintu masuk agama Islam itu, yang paling berpengaruh melalui jalur selatan. Ini bisa dilihat dari situs-situs sejarah seperti makam Tubagus Haji Muhammad Saleh di Pagardewa, Tulangbawang Barat, makam Tubagus Machdum di Kuala, Telukbetung Selatan, dan makam Tubagus Yahya di Lempasing, Kahuripan—diduga keduanya masih keturunan Sultan Hasanuddin dari Banten. Di Ketapang, Lampung Selatan, terdapat makam Habib Alwi bin Ali Al-Idrus.

Selain itu, menurut buku Sejarah Perkembangan Pemerintahan di Lampung Buku II, terbitan DHD Angkatan 45 Lampung tahun 1994, halaman 49-53, disebutkan pada sekitar abad 18, sebanyak 12 orang penggawa dari beberapa kebuaian di daerah ini mengunjungi Banten untuk belajar agama Islam. Mereka adalah penggawa dari Bumi Pemuka Bumi, penggawa dari Buai Subing, Buai Berugo, Buai Selagai, Buai Aji, Buai Teladas, Buai Bugis, Buai Mega Putih, Buai Muyi, Buai Cempaka, Buai Kametaro, dan Buai Bungo Mayang.

Di Belalau, Islam dibawa empat orang putra Pagaruyung (Minangkabau). Sebelumnya, di wilayah ini telah berdiri sebuah kerajaan legendaris bernama Sekala Brak, dengan penghuninya suku bangsa Tumi, penganut animisme.

Bangsa Tumi mengagungkan sebuah pohon bernama Belasa Kepampang atau nangka bercabang. Konon, pohon ini memiliki dua cabang, satunya nangka dan sisi yang lain adalah sebukau, sejenis kayu bergetah. Keistimewaan pohon ini, jika terkena getah kayu sebukau bisa menimbulkan koreng dan hanya dapat disembuhkan dengan getah nangka di sebelahnya. (ALHUDA MUHAJIRIN/U-3)



Sumber : Lampost Edisi 11 Agustus 2010

JEJAK ISLAM DI LAMPUNG (2): Masuk lewat Budaya Setempat

MESKIPUN penyebaran agama Islam di Lampung dominan melalui selatan (Banten), bukan berarti bisa menjamah seluruh daerah di Lampung.

Hal itu juga terungkap dalam diskusi yang digelar Lampung Post dengan narasumber tokoh NU K.H. Arief Makhya, Ketua PW Muhammadiyah Lampung K.H. Nurvaif Chaniago, dua dosen IAIN Raden Intan Bandar Lampung Dr. Fauzie Nurdin dan Khairuddin Tahmid, M.A., serta dosen STAIN Jurai Siwo Metro Dr. M. Soleh, beberapa waktu lalu.

Dari utara, misalnya, Islam mudah masuk dari Pagaruyung (Minangkabau). Dari utara, Islam masuk dari Palembang melalui Komering.

Dari utara, Islam dibawa empat putra Raja Pagaruyung Maulana Umpu Ngegalang Paksi. Fase ini menjadi bagian terpenting dari eksistensi masyarakat Lampung. Kedatangan keempat umpu ini merupakan kemunduran dari Kerajaan Sekala Brak Kuno atau Buay Tumi yang merupakan penganut Hindu Bairawa/animisme.

Momentum ini sekaligus tonggak berdirinya Kepaksian Sekala Brak atau Paksi Pak Sekala Brak yang berasaskan Islam. Empat putra Maulana Umpu Ngegalang Paksi adalah Umpu Bejalan Di Way, Umpu Belunguh, Umpu Nyerupa, dan Umpu Pernong.

Umpu berasal dari kata ampu tuan (bahasa Pagaruyung), sebutan bagi anak raja-raja Pagaruyung Minangkabau. Di Sekala Brak, keempat umpu tersebut mendirikan suatu perserikatan yang dinamai Paksi Pak yang berarti empat serangkai atau empat sepakat.

Setelah perserikatan ini cukup kuat, suku bangsa Tumi dapat ditaklukkan dan sejak itu berkembanglah Islam di Sekala Brak. Pemimpin Buay Tumi dari Kerajaan Sekala Brak saat itu wanita yang bernama Ratu Sekerumong yang pada akhirnya dapat ditaklukkan Perserikatan Paksi Pak.

Sedangkan penduduk yang belum memeluk Islam melarikan diri ke pesisir Krui dan terus menyeberang ke Jawa dan sebagian lagi ke Palembang.

Agar syiar agama Islam tidak mendapatkan hambatan, pohon belasa kepampang yang disembah suku bangsa Tumi ditebang untuk kemudian dibuat pepadun. Pepadun adalah singgasana yang hanya dapat digunakan atau diduduki pada saat penobatan saibatin raja-raja dari Paksi Pak Sekala Brak serta keturunannya.

Ditebangnya pohon belasa kepampang ini pertanda jatuhnya kekuasaan Tumi sekaligus hilangnya animisme di Kerajaan Sekala Brak, Lampung Barat.

Islam juga erat kaitannya dengan adat dan

budaya Lampung. Sebagai cikal bakal masyarakat suku Lampung, Paksi Pak Sekala Brak memasukkan nilai-nilai keislaman dalam semua peristiwa dan upacara adat. Hampir tidak ada acara adat yang tidak berbau Islam. Mulai dari kelahiran anak sampai perkawinan dan kematian selalu bernuansa Islam.

Menurut kitab Kuntara Raja Niti, orang Lampung memiliki sifat-sifat piil-pusanggiri (malu melakukan pekerjaan hina menurut agama serta memiliki harga diri); juluk-adok (mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya); nemui-nyimah (saling mengunjungi untuk bersilaturahmi serta ramah menerima tamu); nengah-nyampur (aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis); sakai-sambaian (gotong royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya). Semua sifat itu fondasinya adalah islam.

Sedangkan pengaruh agama Islam dari arah (Palembang) masuk lewat Komering. Ketika itu, Palembang diperintah Arya Damar. Diperkirakan, Islam masuk dari utara dibawa Minak Kemala Bumi atau yang juga dikenal dengan nama Minak Patih Prajurit. Makamnya berada di Pagardewa, Tulangbawang Barat, bersebelahan dengan makam Tubagus Haji Muhammad Saleh dari Banten, yang juga tokoh penyebar agama Islam di daerah ini.

Dari selatan (Banten), Islam diperkirakan dibawa Fatahillah atau Sunan Gunung Jati melalui Labuhanmaringgai sekarang, tepatnya di Keratuan Pugung. Di sini, konon, Fatahillah menikah dengan Putri Sinar Alam, anak Ratu Pugung.

Dari pernikahan ini melahirkan anak yang diberi nama Minak Kemala Ratu, yang kemudian menjadi cikal bakal Keratuan Darah Putih dan menurunkan Radin Inten, pahlawan Lampung yang juga tokoh penyebar Islam di pesisir. (ALHUDA MUHAJIRIN/U-3)




Sumber : Lampost Edisi 12 Agustus 2010

JEJAK ISLAM DI LAMPUNG (3): Laksamana Cheng Ho Susuri Way Tulangbawang

SELAIN melalui jalur budaya, perdagangan juga ikut mewarnai masuknya Islam di Lampung. Salah satunya rombongan dari Tiongkok yang dipimpin Laksamana Cheng Ho, berniaga dari Palembang dan menyusuri Way Tulangbawang.

Hal itu diungkapkan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Lampung K.H. Arief Makhya pada diskusi di kantor redaksi Lampung Post, awal Agustus lalu. Menurut dia, salah satu cara pengenalan dan penyebaran Islam di Lampung melalui para saudagar, termasuk rombongan dari Tiongkok.

Awalnya Islam masuk ke Indonesia pada abad VII Masehi Selat Malaka. Perdagangan saat itu menghubungkan Dinasti Tang di China, Sriwijaya di Asia Tenggara, dan Bani Umayyah di Asia Barat.

Kerajaan Sriwijaya mempunyai hubungan perdagangan yang sangat baik dengan saudagar dari China, India, Arab, dan Madagaskar. Hal itu bisa dipastikan dari temuan mata uang China, mulai dari periode Dinasti Tang (960—1279 M) sampai Dinasti Ming (abad 14—17 M).

Berkaitan dengan komoditas yang diperdagangkan, berita Arab dari Ibn al-Fakih (902 M), Abu Zayd (916 M), dan Mas'udi (955 M) menyebutkan beberapa di antaranya cengkih, pala, kapulaga, lada, pinang, kayu gaharu, kayu cendana, kapur barus, gading, timah, emas, perak, kayu hitam, kayu sapan, rempah-rempah, dan penyu. Barang-barang ini dibeli oleh pedagang asing, atau dibarter dengan porselen, katun, dan sutra.

Menurut sumber-sumber China menjelang akhir perempatan ketiga abad VII, seorang pedagang Arab menjadi pemimpin permukiman Arab muslim di pesisir pantai Sumatera.

Jalur perdagangan ini kemudian disambung dengan tali perkawinan antara saudagar dan masyarakat setempat, atau bahkan keluarga kerajaan. Dari hasil perkawinan inilah yang membuat perubahan pada kerajaan-kerajaan di Sumatera.

"Salah satu penyebab banyak hilangnya situs-situs milik kerajaan di Sumatera karena dijual keluarga kerajaan kepada saudagar asing," kata Ketua PW Muhammadiyah Lampung K.H. Nurvaif Chaniago dalam diskusi itu.

Situs-situs sebelum Islam masuk berupa patung-patung sesembahan yang kemudian disingkirkan karena bertentangan dengan ajaran Islam. Berbeda dengan kerajaan di Pulau Jawa yang terus mempertahankan benda-benda budayanya, sebab memang Islam masuk sebagian besar melalui jalur budaya.

Barulah sekitar abad XIV perjalanan Laksamana Cheng Ho memasuki Way Tulangbawang dan berinteraksi dengan warga sekitar. Selain itu juga ada pintu masuk lain, yakni Labuhanmaringgai, terbukti ada beberapa daerah yang dinamai Lawangkuri di Gedungwani dari Sultan Banten. (MUSTAAN/E-1)

Sumber : Lampost Edisi 13 Agustus 2010

JEJAK ISLAM DI LAMPUNG (4): Nisan yang Bercorak Kerajaan Samudera Pasai

SALAH satu pintu masuknya Islam ke Lampung dari bagian selatan sekitar abad XV. Saudagar yang berniaga di Malaka, tepatnya di Kerajaan Samudera Pasai, memberi pengaruh Islam di sana.

Ada dua jejak masuknya Islam dari arah Malaka itu, yakni adanya batu nisan di Lampung Selatan, yaitu di Kampung Muarabatang dan Wonosobo (sekarang Tanggamus, red). "Batu nisan ini mempunyai bentuk dan corak sama dengan nisan milik Malik Al Saleh di Pasai yang berasal dari tahun 1297," kata tokoh Nahdlatul Ulama Lampung, K.H. Arif Mahya.

Meskipun demikian, kata dia, umumnya orang berpendapat masuknya Islam ke Lampung dari arah Banten, di mana Sultan Hasanuddin Banten yang menurunkan generasinya pada Raden Inten II.

Selain itu, masih ada bukti lain yang menjadi jejak masuknya Islam itu. Tokoh masyarakat Kahuripan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Budiman Yakup, juga menguatkan pernyataan K.H. Arif Mahya itu.

Menurut dia, bukti lainnya itu berupa peta Kota Mekah dan baju adat bertuliskan aksara arab yang disimpan di Rumah Karya Niti Jaman di wilayah pesisir, tepatnya di Desa Condong, Kecamatan Rajabasa.

"Nisan kuburan tua di Palas itu buatan orang Aceh. Karena, nisan didatangkan langsung dari Aceh dan pada abad XV di Lamsel belum ada orang yang bisa buat nisan kuburan," kata Budiman yang beradok Raden Kusuma Yuda, Jumat (13-8).

Peninggalan abad XV sebagai pertanda Islam masuk ke sana antara lain Alquran bertulis tangan kuno dan Perjanjian Banten-Lampung. Perjanjian persaudaraan itu ditulis menggunakan bahasa arab. Selain itu, bukti lain adalah UU Adat atau Kuntara Raja Niti. Undang-undang ditulis dalam dua versi, yakni berbahasa Banten dengan aksara Arab dan bahasa Lampung dengan huruf ka-ga-nga.

"Dari silsilah bisa diketahui Ratu Dara Putih yang memerintah di Lampung dengan Sultan Hasanuddin pemerintah di Banten adalah kakak-adik," kata dia.

Walaupun keduanya hanya bersaudara seayah, kedekatan itu yang membuat masyarakat Lampung dan Banten tetap bersaudara. Hal ini membuktikan masuknya Islam ke Lampung tidak melalui peperangan. Pendekatan budaya adat istiadat, perkawinan, dan sumpah saudara atau ankonan, indaian, dan muarian. "Persaudaraan pada zaman dahulu diikat melalui sumpah," kata dia. (JUWANTORO/U-3)

Sumber : Lampost Edisi 14 Agustus 2010

JEJAK ISLAM DI LAMPUNG (5)

Masjid Al-Anwar Pintu Islam di Pesisir

BANDAR LAMPUNG—Masjid Jamik Al-Anwar yang berdiri sejak 1839, bisa dikatakan sebagai salah satu pintu masuknya Islam dari pesisir Lampung. Masjid tertua yang terletak di Kelurahan Pesawahan, Telukbetung Selatan, Bandar Lampung, ini mempunyai sejarah panjang perkembangan Islam di Sang Bumi Ruwai Jurai.

Menurut catatan sejarah yang tertuang dalam buku Risalah Masjid Jami Al-Anwar, sejak 1839 bermukim keluarga pendatang yang dari Bone, Sulawesi Selatan, bernama Daeng Muhammad Ali beserta dua sepupunya: Muhammad Soleh dan Ismail.

Keduanya dikenal menguasai ajaran Islam. Daeng Muhammad Ali atau Tumenggung Muhammad Ali (beristrikan wanita asal Lampung) dikenal sebagai orang yang memiliki ilmu yang tinggi (sakti).

Perkembangan Islam di daerah ini bermula dari takluknya perompak atau bajak laut yang mengganggu perairan Teluk Lampung oleh Tumenggung Muhammad Ali. Perompak yang kalah dalam pertempuran kemudian dikumpulkan di suatu tempat yang kini dikenal dengan Kampung Bugis.

Muhammad Soleh yang dikenal sebagai ulama Islam yang mumpuni, ditunjuk untuk mengajarkan syiar agama. Harapannya, dapat mengubah perilaku bajak laut menjadi orang yang baik. Lambat laun ajaran Islam yang disyiarkan Muhammad Soleh berkembang pesat, bahkan animo masyarakat di sekitar Teluk Lampung mempelajari Islam makin besar.

Melihat antusiasme masyarakat yang luar biasa, Muhammad Soleh memprakarsai pembangunan musala sebagai pusat kegiatan ajaran umat Islam. Pasalnya, kondisi rumah Muhammad Soleh yang sebelumnya menjadi tempat bagi masyara: kat menimba ajaran Islam, tidak mampu menampung masyarakat.

Pada 1839 berdiri musala pertama beratap rumbia, berdinding geribik, dan bertiang bambu. Musala ini yang kemudian menjadi cikal bakal Masjid Jamik Al-Anwar. Setelah bangunan musala tersebut, pembinaan dan pendidikan Islam yang disyiarkan Muhammad Soleh makin terkendali dan terpusat.

Namun, tragedi meletusnya Gunung Krakatau tahun yang mengakibatkan air pasang sangat tinggi, merendam dan menghanyutkan banyak bangunan di kawasan Teluk Lampung, termasuk bangunan musala yang dibangun pada 1839 itu. (*/R-3)

Sumber : Lampost Edisi Minggu 15 Agustus 2010

No comments:

Post a Comment