Showing posts with label Bahasa Daerah. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Daerah. Show all posts

Tuesday, February 20, 2018

KAMUS VAN DER TUUK PULAMNG


Oleh Arman A.Z.

Peneliti, Warga Lampung

SETELAH hampir 1,5 abad kemungkinan besar tidak ada ulun Lampung yang pernah melihat bentuk dan isi kamus bahasa Lampung pertama karya Van der Tuuk, kini kamus tersebut telah pulang. Manuskrip hampir 600 halaman itu dibuat Herman Neubronner van der Tuuk selama berada di Lampung (1868—1869). Sekian lama manuskripnya tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden bersama manuskrip-manuskrip Lampung dan daerah lain.
H.N. van der Tuuk asing bagi Indonesia, padahal ia pionir penyelamatan bahasa-bahasa daerah di Nusantara. Van der Tuuk adalah salah satu penyumbang terbesar koleksi Perpustakaan Universitas Leiden. Bukan hanya kamus Lampung, dia juga orang pertama yang membuat kamus bahasa Batak, Bali, dan mengeditori kamus bahasa Melayu versi Von den Wall. Bahkan, info yang bisa jadi belum diketahui publik Indonesia, Van der Tuuk juga membuat semacam kamus atau daftar kata tulis tangan bahasa Minahasa (216 hlm.), Dayak (8 hlm.), dan Sasak (36 hlm.).
Kamus Lampung termasuk yang kurang beruntung karena tidak sempat diterbitkan. Manuskripnya dibawa Van der Tuuk hingga ke Bali. Selama di Pulau Dewata itu, Van der Tuuk tergila-gila menekuni bahasa Bali, hingga menyusun kamus Bali sekitar 3.600 halaman dan baru diterbitkan setelah ia mangkat. Hanya kamus Batak yang diterbitkan semasa Van der Tuuk hidup.
Kamus bahasa Lampung tersimpan di Perpustakaan Univ. Leiden, dengan nomor identifikasi manuskrip “3392 a” dan “3392 b”. Kode “3392 a” terdiri dari dua versi, yaitu hasil pengetikan ulang yang dilakukan Weber dan J. Soegiarto. Pernah ada upaya menerbitkan kamus tersebut, tetapi belum terwujud (sampai sekarang). Naskah ini diserahkan kepada J. Soegiarto, tanggal 29 November 1949, untuk diketik ulang, tetapi upaya ini tidak rampung. Sama halnya dengan Weber. Belum ada referensi lebih jauh mengenai dua nama ini, juga di mana proses penyerahan manuskrip tersebut.
Memulangkan manuskrip asli (mungkin) mustahil, tetapi yang bisa diupayakan adalah mendapatkan repro-nya. Masalahnya, mau atau tidak, dianggap penting atau tidak. Selain itu, instansi/lembaga apa yang semestinya berinisiatif melakukan hal ini.
Upaya melacak keberadaan kamus bahasa Lampung karya Van der Tuuk dirintis sejak 2011, hingga diperoleh info valid bahwa kamus itu ada di Perpustakaan Universitas Leiden. Medio 2013, upaya memulangkan kamus intens dilakukan. Menemui pihak-pihak berkompeten di Kedutaan Besar Belanda, menjalin komunikasi via surel dengan Dr. Marie-Odette Scalliet (Curator of South and Southeast Manuscripts & Rare Books, Special Collections, Leiden University Library), dan dibantu Kees Groeneboer (Kepala Erasmus Taalcentrum di Jakarta, sekaligus penulis buku biografi Van der Tuuk).
Untuk mendapatkan repro kamus Lampung dibutuhkan biaya 653 euro (hampir 11 juta rupiah). Semula, Perpustakaan Universitas Leiden, via Dr. Scalliet sebagai penanggung jawab seluruh koleksi Van der Tuuk memberi kesempatan untuk melihat langsung kamus dan manuskrip-manuskrip Lampung lainnya.
Keterbatasan dana dan nihilnya dukungan membuat hal itu tak terwujud. Pemerintah, lembaga budaya, dan para tokoh yang merasa peduli terhadap bahasa dan budaya Lampung mungkin terlampau sibuk dengan program-programnya hingga tidak punya waktu untuk merespons upaya pemulangan kamus. Biaya repro pun tampaknya terlalu tinggi untuk provinsi termiskin ketiga se-Sumatera ini, juga lembaga-lembaga yang rajin menggelar event berbiaya ratusan juta rupiah. Untunglah sejumlah media massa lokal dan nasional masih berkenan membantu publikasi tentang nasib kamus Lampung karya Van der Tuuk.
Ketika plan A (melihat langsung kamus, bawa pulang repro, dan mendokumentasikan visual) tidak terwujud, tetap diupayakan plan B (kamus tetap harus pulang). Sekali lagi, tanpa dukungan pemerintah atau lembaga budaya di Lampung. Justru Lampung Peduli—lembaga sosial untuk kaum duafa dan tidak bersentuhan langsung dengan ihwal-ihwal kebudayaan—yang mengambil inisiatif membantu proses birokrasi dengan Kedubes Belanda. Semoga ini bukan indikasi bahwa kebudayaan Lampung tergolong “duafa”.
Kedutaan Besar Belanda di Jakarta yang akhirnya membantu biaya repro kamus dan berkoordinasi dengan Perpustakaan Universitas Leiden. Sebelumnya, pihak Perpustakaan Univ. Leiden sempat mengirim surat pemberitahuan (14 November 2013) bahwa sampai tenggat yang ditentukan (13 Oktober 2013) tidak ada pelunasan repro dan mungkin permohonan tersebut dibatalkan.
Mujurlah, Kees Groeneboer berinisiatif menghubungi pihak-pihak terkait, juga meyakinkan kami bahwa kamus itu pasti dikirim. Demikianlah, tanpa gembar-gembor plus hiruk-pikuk, repro kamus Van der Tuuk telah pulang ke Lampung. Dikirim Perpustakaan Universitas Leiden dalam bentuk softfile.
Nomor identifikasi “3392 a” adalah hasil pengetikan ulang Soegiarto dan Weber. Versi Soegiarto, 71 halaman (termasuk kover dan pengantar singkat), hanya abjad A sampai D. Sementara Weber 27 halaman (termasuk kover dan pengantar dan hanya abjad A).
Membandingkan secara sederhana hasil ketik ulang Soegiarto dan Weber (bersumber dari kamus Van der Tuuk dan hanya abjad A—D), ada sejumlah lema atau kata yang tidak ditemukan dalam sejumlah kamus Lampung mutakhir. Dengan kata lain, ada kata yang telah punah dan hanya ada dalam kamus Van der Tuuk.
Kode identifikasi “3392 b” adalah kamus karya Van der Tuuk. Inilah kamus bahasa Lampung pertama. Dikirim dalam format landskap (2 halaman). Yang mengejutkan, kamus tersebut ternyata tulis tangan (pena dan pensil). Layaknya tulisan orang zaman dahulu, sebagian besar sulit dibaca. Diperlukan ketelitian jika ingin membacanya. Bisa jadi inilah penyebab Soegiarto dan Weber tidak merampungkan transliterasi kamus tersebut. Ada yang ditulis horizontal, vertikal, bahkan elips. Ada aksara Lampung, coretan di sana-sini, di bagian akhir ada cerita rakyat (Dayang Rindu dan Anak Dalom), prosa, pantun, sketsa senjata tradisional Lampung, alat musik Lampung, sosok wajah, dan di bagian akhir salinan surat dari/untuk Van der Tuuk bertanggal 2 Februari 1869.
Apa pun bentuknya, keberadaan kamus ini penting mengingat aspek budaya, sejarah, dan bahasa Lampung. Hemat kami, kamus Van der Tuuk adalah salah satu harga diri Lampung yang sekian lama ditelantarkan. Lampung patut mengapresiasi kerja sama dan respons cepat Kedutaan Besar Belanda, Perpustakaan Universitas Leiden, Lampung Peduli, dan Kees Groeneboer.
Secara pribadi saya wajib berterima kasih kepada segelintir kawan yang telah membantu upaya pemulangan kamus Van der Tuuk. Dukungan semangat, moral, materi, keraguan, bahkan sinisme adalah bagian dari proses tersebut yang telah saya terima dengan lapang dada.
Masih banyak manuskrip Lampung hasil inventarisasi Van der Tuuk, seperti cerita rakyat, hiwang, tangguh, bandung, transliterasi naskah dari bambu dan kulit pohon, juga kajian-kajian linguistik bahasa Lampung dan relasinya dengan bahasa-bahasa daerah di Nusantara. Bisa jadi manuskrip-manuskrip itu tidak ada lagi salinannya di Lampung. Mudah-mudahan suatu saat manuskrip-manuskrip itu pun bisa pulang.
Mengutip Chairil Anwar: kerja belum selesai, belum apa-apa. Saya berharap kelak ada pihak-pihak lain yang berinisiatif menindaklanjuti nasib kamus tersebut, juga naskah-naskah Van der Tuuk lainnya mengenai bahasa Lampung, semisal meneliti atau melanjutkan upaya yang telah dirintis Soegiarto dan Weber.
Tentu dibutuhkan peran dan kerja sama banyak pihak seperti handwriting expert, pakar bahasa Lampung, pakar bahasa Belanda, dan lainnya. Selain itu, perlu proses panjang untuk menghargai jasa Van der Tuuk—linguis dan leksikografer yang dilupakan-bagi bahasa Lampung dan bahasa-bahasa Nusantara.
Van der Tuuk memang tidak butuh penghargaan. Makamnya di Peneleh (Surabaya) selain lapuk digerus waktu, juga tidak banyak diketahui orang. Tinggal bagaimana bangsa ini menyikapi jasanya melestarikan bahasa daerah Nusantara. Tabik.

Friday, August 25, 2017

INGIN MENGABDI UNTUK PEMBINAAN BAHASA LAMPUNG

MENAWARKAN MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA LAMPUNG

Secara tidak terencana saya jumpa kembali dengan seorang sahabat yang sudah belasan tahun lalu tak jumpa, sebanarnya kami berada pada komunitas tertentu, yang dalam komunitas itu saya sering diminta untuk maju memberikan pencrahan dan motivasi untuk kemajuan dan perkembangan komunitas itu mestinya. Tetapi dia mengatakan bahwa sekalipun  sudah lama tak jumpa tetapi sejatinya dia merasa dekat karena sejak dahulu dia selalu mengikuti tulisan tulisan yang saya publikasikan melalui blog, dia menjadi senang katanya membaca blog itu karena bernuansa berbeda dengan tulisan tulisan lain yang ditampilkan oleh beberapa dari komunitas kami itu.

Seperti biasa pembicaraan ke Barat - Timur, hingga suatu tahap pembicaraan kami bicara tentang apa yang saya perbuat di hari hari tua, Saya katakan bahwa selain tetap mengelola beberapa blog, khususnya blog tentang komunitas kami saya ceritakan contoh yaoutube yang saya buat terkait beberapa hal, dan yang terakhir saya juga menceritakan ketertarikan saya untuk membuat cuplikan lagu sebagai sekedar bahan komunikasi antar sesama keluarga terutama yang telah jauh dan lama merantau dan anak anaknya mulai jarang mendengar bahasa Lampung. Baru baru beberapa lagu yang saya buatkan videonya, dan berniat untuk meningkatkan kualitas pembuatan video dan yaoutube agar nampak lebih provesional, karena banyak karya saya yang nampak indah di layar HP, tetapi ternyata beranbtakan di layar TV,

Perangkat Media Pembelajaran Bahasa Lampung.

Pembicaraan semakin seru karena dia ternyata sebelumnya telah mempersiapkan perangkat media pembelajaran bahasa Lampung, yang sesungguhnya telah dia tekuni sejak lama, dia ingin pembelajaran bahasa Lampung diajarkan dengan menggunakan media yang modern untuk percepatan dalam proses pembelajaran. Walaupun dia bukan asli Lampung tetapi dia tertarik dengan bahasa Lampung dan ingin berpartisipasi dalam pengembangan pembelajaran bahasa Lampungdi tingkat dasar dan menengah dan juga bisa diajarkan bagi mahasasiwa yang dipersiapkan untuk menjadi guru Bahasa Lampung.

Yang sudah terbilang selesai adalah penyusunan perangkat media pembelajaran, langkah berikutnya adalah materi atau bahan ajarnya. bersama perekaman suara, ini baru tergarap sebagian. Materi, bahan ajar dan suara tentu dilaksanakan  kemudian untuk disesuaikannya dengan kurikulum dan silabus yang berlaku. Baru kemudian diajarkan kepada para guru atau mahasiswa jusan bahasa Lampung  untuk bagaimana mempraktekkan pembelajaran yang menggunakan prangkat pembelajaran ini.

Dengan menggunakan srana ini maka guru bisa dengan cepat melaksanakan proses pembelajaran  dengan hasil yang cepat serta daya serap yang lebih banyak. Sehingga pembelajaran bahasa Lampung akan menghasilkan anak anak yang semula tidak pandai bercakap cakap dengan bahasa Lampung menjadi memiliki kemampuan bercakap cakap dengan bahasa Lampunh, bukan hanya sejkedar belajar aksara Lampung, selain aksara Lampung, juga yang lebih penting adalah bahasa Lampung. Perangkat ini bisa digunakanuntuk dialek A dan juga tersedia untuk dialek O. Tentu masing masing daerah akan memilih manayang mayoritas dan mana yang pengajarnya siap. Karena perangkat ini bukan sebatas belajar aksara, terapi juga bahasa.

Inspirasi Gagasan Pembelajaran Modern.

Mengingat bahwa masyarakat Lampung penutur bahasa Lampung bukanlah mayoritas di Lampung, artinya bahwa sebagian besar siswa yang ada di kota bukan pemakai bahasa Lampung, maka pembelajaran bahasa Lampung harus dibantu dengan prangkat  Pembelajaran bahasa Jawa di Jawa saja masih menggunakan perangkat media pembelajaran, agar proses belajar mengajar berlangsung secara efektif efissien. Dalam pembelajaran kita harus menargetkan daya serap siswa setinggi tingginya, dan menjadi ingatan yang sesetiya setiyanya. Dan dengan alat ukur yang sangat mudah dan nyata.

Dan dengan penggunaan media pembelajaran itu maka menargetkan pembelajaran bahasa Lampung hingga mengerti dan terampil berbahasa Lampung adalah sangat logis. Pilihan daerah pulau Jawa menjadi incaran pertimbangan karena di Jawa segalanya relatif terselenggara dengan baik. Dari suvey yang diselenggarakan maka perlu disampaikan bahwa perangkat pembelajaran dengan menngunakan teknologi ini menjadi pilihan.

Pertimbangan Strategis.

Bahasa Lampung adalah salah satu bahasa Ibu yang mulai terancam hilang, karena penutur bahasa Lampung semakin sedikit, juga belum diketemukan metaode dan cara pembelajaran yang benar benar modern. Pada saat ini baru muncul Kamus Bahasa Lampung, Jelas itu saja belum cukup. Dibutuhkan perangkat media pembelajaran bahsa Lampung yang canggih. Cara menulis, cara membaca dan suara dapat ditampilkan dalam media ini. Bukan hanya putra putri orang Lampung saja yang bisa belajar dengan alat ini, tetapi siapapun bisa mengikutinya, dan bisa memahami serta terampil berbahasa.

Dengan keterampilan berbahasa Lampung maka nilai nilai budaya Lampung dapat kita pelajarai dan selanjutnya bisa dipertahankan. Yang manakala perangkat ini bisa kita manfaatkan dan digunakan secara maksimal maka pembelajaran bahasa Lampung mendatang bukan hanya sebatas dapat menggunakan aksara Lampung sepatah sepatah, melainkan kita dapat memprogramkan sesuatu yang lebih nyata dalam upaya memperthankan sebuah nilai bilai, yaitu nilai nilai budaya Lampung.

Dengan tergalinya nilai nilai budaya Lampung, maka kita akan memungkinkan menggali potensi daerah dan lingkungan Lampung untuk mengupayakan kesejahteraan masyarakat Lampung, karena kita sangat memungkinkan membangun Lampung dengan tidak mencerabut dari budaya Lampung. Karena budaya Lampung adalah sesuatu yang harus kita pertehankan, kita gali dan kita kembangkan. Kemampuan berbahasa Lampung yang baiuk adalah merupakan langkah awal menuju itu semua.

Friday, August 28, 2015

Bahasa Lampung Kian Tergerus

 

BANDARLAMPUNG, FS -- Tidak dapat dihindari saat ini Kota Bandarlampung menuju kota metropolis. Keragaman warga Kota Tapis Berseri semakin memberi warna budaya. Dalam proses itu, budaya asli Lampung sedikit banyak mengalami pergeseran,
termasuk pemahaman masyarakat akan bahasa dan aksara Lampung.Menurut anggota Komisi II DPRD Kota Bandarlampung, Erdiansyah Putra, untuk tetap mempertahankan budaya asli Lampung diperlukan langkah strategis dan upaya yang nyata sebagai bentuk kepedulian agar adat istiadat warisan nenek moyang tetap lestari.

“Tidak dapat dipungkiri, budaya Lampung semakin tergerus dengan adanya pengaruh asing. Selain itu heterogennya masyarakat kita juga sedikit berpengaruh terhadap keberadaan budaya asli. Jadi, tidak heran jika generasi asli Lampung pun sudah jarang ditemui dalam kesehariannya berbahasa Lampung apalagi mengenal aksara aslinya," jelas Penyimbang Adat Kampung Negeri Olok Gading ini saat ditemui di gedung DPRD Bandarlampung, Kamis (27/8).

Saturday, August 22, 2015

Warisan Kerajaan Skala Brak Milik Kita Semua


Sejatinya kita masyarakat Lampung dahulu ada Kerajaan yang cukup besar, Kerajaan Tulangbawang, keberadaannya cukup sahih dan tercatat beberapa catatan perjakanan dan kini tersimpan diberbagai arsip dan museum kesejarahan Nusantara diberbagai museum, pribadi dan lembaga lainnya. Sayang hingga kini belum ada pihak pihak yang mengaku sebagai pewaris kerajaan  yang membanggakan sejarah Lampung ini, demikian juga dengan benda benda peninggalan kerajaan itu, semua bagaikan ditelan bumi. Kini yang tersisa adalah warisan Kerajaan Kerajaan yang lebih kecil yang terserak diberbagai daerah wilayah Lampung ini.
Pewaris Kerajaan di Lampung ini sejatinya masih ada, dan merekapuin bergiat mempertahankan warisan ini melalui lembaga adat yang mereka bangun dengan susah payah. Berbagai kebijakan Pemerintah secara tak sengaja mempersulit keberadaan komunitas lembaga adat untuk berkembang memperbaiki klemampuannya mempertahankan eksistensi keadatan yang selama ini mereka junjung.

Salah satu komunitas pewaris kerajaan  Lampung itu yang hingga kini masih mampu bergeliat adalah

Thursday, June 25, 2015

BAHASA DAERAH

Harmoko.

INDONESIA memiliki 726 bahasa daerah, namun baru 456 yang berhasil dipetakan. Bahasa daerah yang belum berhasil dipetakan itu kemungkinan telah punah karena tidak ada penuturnya lagi.
Sebagaimana data di Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, dari 456 bahasa daerah yang berhasil dipetakan tersebut, jumlah pemakai yang lebih dari satu juta orang hanya 13 bahasa, antara lain bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Bugis, bahasa Minang, dan bahasa Bali.

Kepunahan bahasa daerah antara lain disebabkan oleh pemakainya yang semakin sedikit. Biasanya, bahasa daerah itu hanya dikuasai oleh para orang tua. Sedangkan anak-anak dan cucunya rata-rata menggunakan bahasa Indonesia dan bahkan bahasa asing.


Bisa dipahami, mengingat secara konseptual bahasa akan bertahan apabila memiliki sistem penulisan sebagai fasilitas untuk merekamnya dalam media selain lisan. Ketika bahasa hanya dituturkan, tidak direkam pada media selain lisan, sedangkan penuturnya semakin berkurang, maka kepunahannya pun tinggal menunggu waktu.