BANDARLAMPUNG – Setelah hampir 65 tahun tak berkumpul, sebanyak 102 dari 127 Penyimbang Adat dan Saibatin Marga yang ada di Lampung berkumpul di Istana Kerajaan Paksi Pak Skala Brak, Lamban Gedung Kuning, Sukarame, Bandarlampung, kemarin. Selain mengundang seluruh tokoh adat, silaturahmi yang diprakarsai Kerajaan Skala Brak ini juga mengundang seluruh bakal calon gubernur Lampung.
Tak heran, sejumlah tokoh penting terlihat hadir kemarin. Di antaranya Raja Ke-23 Kerajaan Skala Brak Kepaksian Pernong Batin Gusti Raja Perwira Negara, Pangeran Edward Syah Pernong, Batin Gusti Raja Perwira Negara, yang juga Perdana Menteri Kerajaan Skala Brak, Brigjen Ike Edwin.
Selain itu juga hadir pembesar negeri atau pejabat daerah yang diundang seperti Kapolda Lampung Brigjen Heru Winarko dan kepala daerah lainnya seperti Bupati Lampung Selatan Rycko Menoza, Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri, serta beberapa kandidat gubernur yaitu Ketua DPD Partai Demokrat M. Ridho Ficardo dan mantan Danrem 043/Gatam yang juga bakal cagub dari jalur independen Amalsyah Tarmizi.
Dalam sambutannya, Brigjen Ike Edwin mengatakan, selaku orang Lampung harus bangga pertemuan Saibatin Marga dan Penyimbang Adat ini sudah 65 tahun tidak pernah diselenggarakan, setelah pertemuan terakhir pada 1948.
’’Alhamdulillah sekarang berkumpul sekitar 90 persen. Sisanya ada 25 Saibatin Marga dan Penyimbang Adat yang berhalangan hadir. Kita patut mengapresiasi bahwa kita bisa bersatu,” ungkap Wakapolda Sulawesi Selatan itu.
Dari total sekitar 150 kerajaan di nusantara, lanjut Ike, Kerajaan Skala Brak masuk dalam tiga besar kerajaan tertua. ’’Pertama Kerajaan Kutai, lalu Kerajaan Data, dan Kerajaan Skala Brak. Kita patut bangga dan melestarikan budaya nenek moyang kita,” tandasnya.
Showing posts with label Skala Brak.. Show all posts
Showing posts with label Skala Brak.. Show all posts
Wednesday, September 18, 2013
Sekala Brak
Numpang Liyu
Harun Muda Indrajaya (HMI)
Sabtu (14/9) akhir pekan lalu Raja Kerajaan Skala Brak Edwarsyah Prenong menggelar acara halal bihalal dan silaturrahmi para sebatin marga dan para penyimbang marga dengan Sultan paksi Pak Kerajaan Skala Brak Lampung di Sukarame.
Acara tersebut dihadiri ratusan tokoh dan tamu undangan lainnya, diantaranya Bupati Lamsel Rycko Menoza, Bupati lambar Mukhlis basri, Kapolda Lampung Brigjen heru Winarko, Cagub Lampung Amalsyah Tarmizi dan M.Ridho Ficardo yang tampak diantara undangan yang datang.
kalau kita buika kembali buku sejarah khususnya daftar yang ada di bumi nusantara, maka urutannya adalah (1) Kerajaan kandis (sebelum masehi) tepatnya di Sumatera dan diyakini sebagai nenek moyang Lubuk Jambi, (2) Kerajaan salakanagara (130-362 M) Yaitu kerajaan pertama di Jawa Barat, (3) Kerajaan Melayu Tua Jambi, (abad ke 2 Masehi), Kerajaan Skala Brak (abad ke 3 Masehi) Lalu ke-4 adalah Sekala Brak (Baca : Sekala Bekhak) Adalah sebuah kerajaan yang bercirikan Hindu dan dikenal dengan kerajaan Skala Brak Hindu yang setelah kedatangan Empat Umpu dari Pagaruyung yang menyebarkan agama Islam kemudian berubah menjadi Kepaksian Sekala Brak, terletak di kaki Gunung Pesagi (gunung tertinggi di Lampung) yang menjadi cuikal bakal suku bangsa etnis Lampung saat ini.
Artinya secara historis kerajaan Sekala Brak merupakan bagian dari kerajaan tertua di tanah air. Dalam buku hikayat atau cerita rakyat tentang asal usul nama Lampung, juga disinggung tentang perjalananOpung Silamponga dan ketiga saudaranya dari Sumatera Utara, menyusuri pesisir pantai timur pulau Sumatera sampai akhirnya terdampar di Krui. Lalu mendaki sebuah gunung dan turun ke lembah yang kemudian dikenal sebagai Sekala Brak.
Harun Muda Indrajaya (HMI)
Sabtu (14/9) akhir pekan lalu Raja Kerajaan Skala Brak Edwarsyah Prenong menggelar acara halal bihalal dan silaturrahmi para sebatin marga dan para penyimbang marga dengan Sultan paksi Pak Kerajaan Skala Brak Lampung di Sukarame.
Acara tersebut dihadiri ratusan tokoh dan tamu undangan lainnya, diantaranya Bupati Lamsel Rycko Menoza, Bupati lambar Mukhlis basri, Kapolda Lampung Brigjen heru Winarko, Cagub Lampung Amalsyah Tarmizi dan M.Ridho Ficardo yang tampak diantara undangan yang datang.
kalau kita buika kembali buku sejarah khususnya daftar yang ada di bumi nusantara, maka urutannya adalah (1) Kerajaan kandis (sebelum masehi) tepatnya di Sumatera dan diyakini sebagai nenek moyang Lubuk Jambi, (2) Kerajaan salakanagara (130-362 M) Yaitu kerajaan pertama di Jawa Barat, (3) Kerajaan Melayu Tua Jambi, (abad ke 2 Masehi), Kerajaan Skala Brak (abad ke 3 Masehi) Lalu ke-4 adalah Sekala Brak (Baca : Sekala Bekhak) Adalah sebuah kerajaan yang bercirikan Hindu dan dikenal dengan kerajaan Skala Brak Hindu yang setelah kedatangan Empat Umpu dari Pagaruyung yang menyebarkan agama Islam kemudian berubah menjadi Kepaksian Sekala Brak, terletak di kaki Gunung Pesagi (gunung tertinggi di Lampung) yang menjadi cuikal bakal suku bangsa etnis Lampung saat ini.
Artinya secara historis kerajaan Sekala Brak merupakan bagian dari kerajaan tertua di tanah air. Dalam buku hikayat atau cerita rakyat tentang asal usul nama Lampung, juga disinggung tentang perjalananOpung Silamponga dan ketiga saudaranya dari Sumatera Utara, menyusuri pesisir pantai timur pulau Sumatera sampai akhirnya terdampar di Krui. Lalu mendaki sebuah gunung dan turun ke lembah yang kemudian dikenal sebagai Sekala Brak.
Tuesday, September 17, 2013
Antara Adat dan Budaya Lampung, Menyatu dalam bahasa Yang Universal
Simpangsiur dalam memahami lembaga adat dan budaya Lampung membuat komunitas Lampung sulit dipersatukan, bersatunya Lampung dalam adat nyaris tak mungkin, tetapi seharusnya kita bersatu dalam budaya, tetapi itupun membutuhkan bahasa yang universal. Dahulu dalam dialog kebudayaan nampak sekali para tokoh adat lebih dalam dialog adat ketimbang dialog kebudayaan, hasilnya justeru perpecahan pendapat. Pada saat itu tema pembicaraan adalah Piil Pesenggiri, tetapi peserta lebih melihatnya dalam prospektif adat ketimbang budaya. Itulah pangkal persoalannya. Bedakan dahulu antara adat Lampung dengan budaya Lampung, dengan bahasa yang universal Insya Allah kita dapat bersatu dalam "Budaya Lampung"
Dahulu para Ulama Nusantara menyiarkan agama dengan kontak kontak perdagangan, para Da'i dan Ulama Nusantara tampil sebagai dengan bahasa perniagaan, mereka membawa barang yang bagus bagus dengan harga yang terjangkau. Mereka menjadi pelindung dikala ada gangguan dari perampok, dahulu para Da'i dan Ulama Nusantara tampil sebagai tabib manakala ada warga yang sakit. Memang pada saat itu seorang da'i dan Ulama Nusantara terdiri dari saudagar saudagar kaya, memiliki ulah kanuragan yang pilih tanding, memahami ilmu ketabiban serta memiliki ilmu yang mumpuni. Masyarakatlah yang mendatangi para Da'i dan Ulama Nusantara itu, bukan dipanggil. Mereka bertanya ini dan itu, serta belajar dalam berbagai hal dari tokoh yang mumpuni serta berakhlak mulia itu. Perkawinanpun berlangsung secara sukarela. Itulah sebabnya Islam di Indonesia akhirnya mampu mencapai 99%.
Kita semua memperihatinkan pertemuan silaturrahmi antar lembaga adat yang dilaksanakan oleh paksi Pak Skala Brak yang sejatinya sangat mulia itu menyisakan riak ketidak sepahaman antar satu dengan yang lain. Kiranya kita mampu mengevaluasi adakah yang salah dalam pertemuan itu. Evaluasi itu akan menjadi sangat strategis dalam mencapai kesepahaman antara yang satu dengan yang lain.
Dahulu para Ulama Nusantara menyiarkan agama dengan kontak kontak perdagangan, para Da'i dan Ulama Nusantara tampil sebagai dengan bahasa perniagaan, mereka membawa barang yang bagus bagus dengan harga yang terjangkau. Mereka menjadi pelindung dikala ada gangguan dari perampok, dahulu para Da'i dan Ulama Nusantara tampil sebagai tabib manakala ada warga yang sakit. Memang pada saat itu seorang da'i dan Ulama Nusantara terdiri dari saudagar saudagar kaya, memiliki ulah kanuragan yang pilih tanding, memahami ilmu ketabiban serta memiliki ilmu yang mumpuni. Masyarakatlah yang mendatangi para Da'i dan Ulama Nusantara itu, bukan dipanggil. Mereka bertanya ini dan itu, serta belajar dalam berbagai hal dari tokoh yang mumpuni serta berakhlak mulia itu. Perkawinanpun berlangsung secara sukarela. Itulah sebabnya Islam di Indonesia akhirnya mampu mencapai 99%.
Kita semua memperihatinkan pertemuan silaturrahmi antar lembaga adat yang dilaksanakan oleh paksi Pak Skala Brak yang sejatinya sangat mulia itu menyisakan riak ketidak sepahaman antar satu dengan yang lain. Kiranya kita mampu mengevaluasi adakah yang salah dalam pertemuan itu. Evaluasi itu akan menjadi sangat strategis dalam mencapai kesepahaman antara yang satu dengan yang lain.
Kerjaan Skala Brak Digoyang
KERAJAAN Paksi Pak Skala Brak digoyang, dipertanyakan keabsahannya. Hal ini dikuatkan oleh Lembaga Adat Megow Pak Tulangbawang, bersama Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) Lampung, serta pengamat kebudayaan Lampung.
Menurut Wakil Ketua Perwatin Adat Megow Pak, Ratu Perwira, dalam Perda No:4/2008, tentang sesanti Sai Bumi Ruwa Jurai jelas tercantum, Lampung hanya memiliki dua jurai adat Sai Batin Pepadun. Sementara adanya Kerajaan Paksi Pak Skala Brak merupakan sebuah lagenda yang terjadi secara turun temurun dan tidak ada bukti autentik yang menyebutkan siapa dan bagaimana silsilah kerajaan itu.
" Dari perda tersebut jelas, tidak ada yang adat yang membawahi atau lebih tinggi dari adat lainnya, semuanya sama dan memiliki dan memiliki kedudukan yang tidak dibeda bedakan, serta dua adat tersebut tidak dapat disatukan sampai kapanpun. Saat ini kan jelas, Jika tidak ada lagi kerajaan dalam adat Lampung, sehingga bagi yang menobatkan diri sebagai raja, dimana bukti autentiknya." urai Ratu Perwira, saat ditemui Wartawan di Kantor Gubernur, Senin (16/9)
Ike Edwin, Suluh Silsilah Skala Berak
![]() | |
| Ike Edwin |
Sejarah mencatat dan menempatkan Kerajaan Sekala Brak di posisi paling atas dalam nasab orang Lampung. Silsilah ini dinilai amat penting oleh Brigjen Pol. Ike Edwin dan keluarga besarnya. Sebab, ini menyangkut eksistensi dari satu garis kehidupan dan peradaban suatu klan besar di Lampung.
Kesadaran itu muncul dan menjadi spirit baru keluarga besar asal Batu Brak, Liwa, Lampung Barat. Meski berkarier sebagai abdi keamanan di Jakarta, bersama sang kakak, Brigjen Pol. Edwarsyah Pernong, ia intens pulang kampung dengan menghidupkan lebih terang lagi sinar budaya di daerahnya.
Struktur kerajaan yang memang masih terang benderang ditegaskan lagi. Secara garis nasab, Edwardsyah Pernong adalah raja Kerajaan Sekala Brak atau sultan generasi ke-59. Sedangkan Ike Edwin adalah perdana menteri.
Monday, May 9, 2011
Skala Brak, Satu Pertahanan Peradaban Adat Lampung
Fokus Lampost : Minggu, 8 Mei 2011
Gedung Dalom sebagai pengganti Istana Skala Brak membuktikan peradaban Lampung masih bertahan dari terpaan zaman.
--------
BERDERET kawanan kabut tampak jelas terlihat pagi itu. Udara di Desa Pekonbalak, Kecamatan Batubrak, Kabupaten Lampung Barat, pun masih begitu dingin.
Di sudut deretan rumah-rumah tradisional yang rapi, beberapa nenek-nenek terlihat mulai beraktivitas. Ada yang menjemur biji-biji kopi, menyapu halaman rumah. Ada pula yang mulai mengenakan siger—topi adat khas setempat—sambil memotong rumput.
Sementara di sebuah pemandian sekitar 500 meter dari Gedung Dalom, beberapa lelaki sedang mandi. Riam dari perbukitan mengalir melewati tebing-tebing terjal. Begitu jernih dan sedikit mengusir kantuk.
Biasanya sehabis mandi mereka langsung menuju ke kebun kopi dan damar. Itulah kebiasaan masyarakat di sana setiap harinya.
Untuk mencapai Kecamatan Batubrak tidaklah mudah. Jarak tempuh dari ibu kota Lampung, Bandar Lampung, yaitu 241 kilometer, dan harus melalui jalan beraspal yang sudah berlubang-lubang, bisa memakan waktu 5—7 jam. Sebuah pelawatan yang melelahkan sekaligus mengasyikan di Bumi Ruwa Jurai, julukan Lampung.
Sebagai desa yang masih melestarikan nilai-nilai leluhur, Pekonbalak memiliki daya tarik tersendiri. Pasalnya, di sanalah berdiri Gedung Dalom. Bangunan bersejarah di atas lahan seluas 3.000 meter persegi itu merupakan pengganti Istana Skala Brak.
Berdasarkan sejarahnya, kolonial Belanda sempat membumihanguskan istana tersebut pada 1810 dan 1820. Sebagai pengganti, pada 1830 Gedung Dalom dibangun kembali sebagai tempat tinggal raja pada masa itu.
“Penghancuran kerajaan telah membuat penderitaan masyarakat. Untuk itu, dibangunlah kembali Gedung Dalom sebagai tempat kediaman raja,” ujar Gusti Raja Mangkunegara, Kerajaan Skala Brak, Ike Edwin.
Keberadaan istana yang masuk dalam paksi (kelompok adat) Buay Pernong itu masih tampak utuh. Selain Pernong, terdapat tiga paksi lainnya di Lampung Barat, meliputi Buay Belunguh, Buay Jalang Diway, dan Buay Ngerupa.
Awalnya, kerajaan ini berdiri sekitar abad ke-3 Masehi dengan pemimpinnya Raja Buay Tumi. Berdasarkan hasil riset William Marsden, 2008, nama Tumi sendiri diyakini sebagai pemimpin tertinggi suku Tumi. Tumi merupakan salah satu bangsa pertama yang mendiami tanah Lampung.
Kemudian, mereka membangun sebuah peradaban di Skala Brak.
Lokasi awal Kerajaan Skala Brak terletak di lereng Gunung Persagi, Belalau, di sebelah selatan Danau Ranau. Namun, karena invansi kolonial, dipindahkan ke Desa Pekonbalak.
“Peradaban masa lalu masih bisa ditemukan di desa ini. Ini terbukti dengan berbagai penelitian yang dilakukan para ilmuwan, baik dalam maupun luar negeri,” kata Ike serius.
Tidak Dihuni
Bangunan istana yang masih tampak megah itu memiliki keberagaman seni ukiran. Tak heran, unsur dekoratif jelas terlihat.
Selain itu, di depan istana, terdapat tiga buah meriam merek Aker buatan 1849. Dahulu berfungsi sebagai senjata untuk menghalang musuh. Namun, dengan pergantian waktu, kini hanya sebagai pajangan untuk menambah nilai historis kawasan kerajaan.
Berdasarkan bentuk bangunannya, Gedung Dalom merupakan simbol rumah tradisional Lampung. Ini bisa dilihat dari bentuk bangunan warga di sekitarnya. Memiliki dua tingkat, memyerupai rumah panggung.
Terdapat dua pintu utama di gedung tersebut. Satunya sebagai tempat suntan (sultan) masuk, sedangkan satunya lagi sebagai pintu masuk para tamu. Terdapat tiga buah jendela di sisi depan. Begitu pula, sebuah tangga untuk naik ke ruangan utama.
Dahulu, atapnya terbuat dari ijuk, tapi karena pernah terbakar digantikan dengan seng. Hal ini membuat pengurus Gedung Dalam trauma sehingga menggunakan bahan yang tidak mudah terbakar.
Di dalam ruangan, terdapat beberapa kamar. Kamar utama merupakan milik anak tertua, sedangkan lainnya adalah anak kedua atau ketiga. Untuk jendelanya, terdapat empat di sisi kanan dan empat di sisi kiri.
Semua bahan terbuat dari kayu tenam. Umur kayu juga telah melewati ratusan tahun sehingga tampak antik. Namun, bangunan ini tidak lagi ditempati. Biasanya, pada saat perayaan hari raya keagamaan atau kunjungan keluarga Kerajaan Skala Brak, istana baru akan dibuka.
“Gedung Dalom ini tidak sembarang dibuka. Empat paksi harus berkumpul terlebih dahulu untuk melakukan doa sebelum masuk. Kalau keluarga kerajaan datang biasanya akan dibuka,” kata Firmansyah, tokoh masyarakat setempat.
Keberadaan Gedung Dalom sebagai simbol bekas Kerajaan Skala Brak menjadi penting. Pasalnya, di tanah itu diyakini sebagai asal-muasal orang Lampung. Hal ini yang membuat masyarakat setempat sangat menyakralkan gedung tersebut.
Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri mengatakan Gedung Dalom telah menjadi salah satu bangunan penting. Apalagi, melalui peraturan pemerintah setempat, gedung itu telah menjadi bangunan cagar budaya. “Tidak ada alokasi dana tetap untuk gedung ini. Namun, ada dana berupa sumbangan sukarela,” ujarnya.
Sayangnya, keberadaan bangunan bersejarah itu tidak didukung dengan pusat informasi atau museum. Padahal, dengan adanya informasi mengenai situs-situs peninggalan kerajaan dapat menjadikan Kerajaan Skala Brak sebagai salah satu pusat kebudayaan nasional.
Mukhlis mengaku keberadaan pusat informasi masih perlu didirikan di sekitar Gedung Dalom. Apalagi di zaman kolonialisme, Desa Pekonbalak merupakan salah satu kawasan yang menjadi basis pertahanan warga.
“Belum ada rencana untuk membangun museum. Kami masih menganggarkan dana senilai Rp110 miliar untuk memperbaiki ruas jalan kabupaten. Akses perlu diperbaiki dahulu,” kata Bupati. (MI/M-1)
Gedung Dalom sebagai pengganti Istana Skala Brak membuktikan peradaban Lampung masih bertahan dari terpaan zaman.
--------
BERDERET kawanan kabut tampak jelas terlihat pagi itu. Udara di Desa Pekonbalak, Kecamatan Batubrak, Kabupaten Lampung Barat, pun masih begitu dingin.
Di sudut deretan rumah-rumah tradisional yang rapi, beberapa nenek-nenek terlihat mulai beraktivitas. Ada yang menjemur biji-biji kopi, menyapu halaman rumah. Ada pula yang mulai mengenakan siger—topi adat khas setempat—sambil memotong rumput.
Sementara di sebuah pemandian sekitar 500 meter dari Gedung Dalom, beberapa lelaki sedang mandi. Riam dari perbukitan mengalir melewati tebing-tebing terjal. Begitu jernih dan sedikit mengusir kantuk.
Biasanya sehabis mandi mereka langsung menuju ke kebun kopi dan damar. Itulah kebiasaan masyarakat di sana setiap harinya.
Untuk mencapai Kecamatan Batubrak tidaklah mudah. Jarak tempuh dari ibu kota Lampung, Bandar Lampung, yaitu 241 kilometer, dan harus melalui jalan beraspal yang sudah berlubang-lubang, bisa memakan waktu 5—7 jam. Sebuah pelawatan yang melelahkan sekaligus mengasyikan di Bumi Ruwa Jurai, julukan Lampung.
Sebagai desa yang masih melestarikan nilai-nilai leluhur, Pekonbalak memiliki daya tarik tersendiri. Pasalnya, di sanalah berdiri Gedung Dalom. Bangunan bersejarah di atas lahan seluas 3.000 meter persegi itu merupakan pengganti Istana Skala Brak.
Berdasarkan sejarahnya, kolonial Belanda sempat membumihanguskan istana tersebut pada 1810 dan 1820. Sebagai pengganti, pada 1830 Gedung Dalom dibangun kembali sebagai tempat tinggal raja pada masa itu.
“Penghancuran kerajaan telah membuat penderitaan masyarakat. Untuk itu, dibangunlah kembali Gedung Dalom sebagai tempat kediaman raja,” ujar Gusti Raja Mangkunegara, Kerajaan Skala Brak, Ike Edwin.
Keberadaan istana yang masuk dalam paksi (kelompok adat) Buay Pernong itu masih tampak utuh. Selain Pernong, terdapat tiga paksi lainnya di Lampung Barat, meliputi Buay Belunguh, Buay Jalang Diway, dan Buay Ngerupa.
Awalnya, kerajaan ini berdiri sekitar abad ke-3 Masehi dengan pemimpinnya Raja Buay Tumi. Berdasarkan hasil riset William Marsden, 2008, nama Tumi sendiri diyakini sebagai pemimpin tertinggi suku Tumi. Tumi merupakan salah satu bangsa pertama yang mendiami tanah Lampung.
Kemudian, mereka membangun sebuah peradaban di Skala Brak.
Lokasi awal Kerajaan Skala Brak terletak di lereng Gunung Persagi, Belalau, di sebelah selatan Danau Ranau. Namun, karena invansi kolonial, dipindahkan ke Desa Pekonbalak.
“Peradaban masa lalu masih bisa ditemukan di desa ini. Ini terbukti dengan berbagai penelitian yang dilakukan para ilmuwan, baik dalam maupun luar negeri,” kata Ike serius.
Tidak Dihuni
Bangunan istana yang masih tampak megah itu memiliki keberagaman seni ukiran. Tak heran, unsur dekoratif jelas terlihat.
Selain itu, di depan istana, terdapat tiga buah meriam merek Aker buatan 1849. Dahulu berfungsi sebagai senjata untuk menghalang musuh. Namun, dengan pergantian waktu, kini hanya sebagai pajangan untuk menambah nilai historis kawasan kerajaan.
Berdasarkan bentuk bangunannya, Gedung Dalom merupakan simbol rumah tradisional Lampung. Ini bisa dilihat dari bentuk bangunan warga di sekitarnya. Memiliki dua tingkat, memyerupai rumah panggung.
Terdapat dua pintu utama di gedung tersebut. Satunya sebagai tempat suntan (sultan) masuk, sedangkan satunya lagi sebagai pintu masuk para tamu. Terdapat tiga buah jendela di sisi depan. Begitu pula, sebuah tangga untuk naik ke ruangan utama.
Dahulu, atapnya terbuat dari ijuk, tapi karena pernah terbakar digantikan dengan seng. Hal ini membuat pengurus Gedung Dalam trauma sehingga menggunakan bahan yang tidak mudah terbakar.
Di dalam ruangan, terdapat beberapa kamar. Kamar utama merupakan milik anak tertua, sedangkan lainnya adalah anak kedua atau ketiga. Untuk jendelanya, terdapat empat di sisi kanan dan empat di sisi kiri.
Semua bahan terbuat dari kayu tenam. Umur kayu juga telah melewati ratusan tahun sehingga tampak antik. Namun, bangunan ini tidak lagi ditempati. Biasanya, pada saat perayaan hari raya keagamaan atau kunjungan keluarga Kerajaan Skala Brak, istana baru akan dibuka.
“Gedung Dalom ini tidak sembarang dibuka. Empat paksi harus berkumpul terlebih dahulu untuk melakukan doa sebelum masuk. Kalau keluarga kerajaan datang biasanya akan dibuka,” kata Firmansyah, tokoh masyarakat setempat.
Keberadaan Gedung Dalom sebagai simbol bekas Kerajaan Skala Brak menjadi penting. Pasalnya, di tanah itu diyakini sebagai asal-muasal orang Lampung. Hal ini yang membuat masyarakat setempat sangat menyakralkan gedung tersebut.
Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri mengatakan Gedung Dalom telah menjadi salah satu bangunan penting. Apalagi, melalui peraturan pemerintah setempat, gedung itu telah menjadi bangunan cagar budaya. “Tidak ada alokasi dana tetap untuk gedung ini. Namun, ada dana berupa sumbangan sukarela,” ujarnya.
Sayangnya, keberadaan bangunan bersejarah itu tidak didukung dengan pusat informasi atau museum. Padahal, dengan adanya informasi mengenai situs-situs peninggalan kerajaan dapat menjadikan Kerajaan Skala Brak sebagai salah satu pusat kebudayaan nasional.
Mukhlis mengaku keberadaan pusat informasi masih perlu didirikan di sekitar Gedung Dalom. Apalagi di zaman kolonialisme, Desa Pekonbalak merupakan salah satu kawasan yang menjadi basis pertahanan warga.
“Belum ada rencana untuk membangun museum. Kami masih menganggarkan dana senilai Rp110 miliar untuk memperbaiki ruas jalan kabupaten. Akses perlu diperbaiki dahulu,” kata Bupati. (MI/M-1)
Gelar dalam Kepaksian Pernong
Fokus Lampost : Minggu, 8 Mei 2011
SUMBER lisan di Kepaksian Pernong dan juga keterangan tertulis serbaringkas mengenai gelar kebangsawanan dan gelar dalam fungsi adat telah diuraikan Sai Batin, pucuk pimpinan adat Paksi Pak Skala Brak.
Dalam adat Paksi Pak Buay Pernong, ada beberapa tingkatan gelar atau adok. Seluruh adok adalah mutlak anugerah dari Sai Batin. Anugerah diberikan atas dasar keturunan (nasab-silsilah) maupun karena jasa besarnya kepada Sai Batin atau Kepaksian Pernong.
Dalam adat Paksi Buay Pernong, gelar adat dalam berbagai tingkatan tidak “diperjualbelikan” melalui cara dan dengan alasan apa pun. Kalaupun ada gelar yang dianugerahkan, merupakan mutlak hak prerogatif Sai Batin.
Meskipun demikian, sebenarnya Sai Batin mengambil keputusan bukan tanpa dasar dan menutup diri dari aspirasi bawah. Para kepala Jukku berkewajiban menyusun akkat tindih (tingkatan) status anak buah yang akan diberi gelar. Akkat tindih itu kemudian dimusyawarahkan dengan raja-raja Kappung Batin. Pengusulan pakkal ni adok ini harus menimbang gelar dari ayahnya (lulus kawai); cakak adok (naik tingkatan gelar) dan adanya pemekaran Jukkuan.
Hasil musyawarah diserahkan kepada Sai Batin melalui Pemapah Dalom/Pemapah Paksi untuk dimintakan persetujuan.
Apa pun keputusan Sai Batin itulah yang harus diterima.
Dalam adat Kepaksian Pernong, gelar terdiri dari dua atau lebih suku kata yang berpedoman pada Pakkal Ni Adok dan pada Uccuk Ni Adok. Pakkal (pangkal) dari gelar merupakan kata inti dari gelar yang menunjukkan status atau tingkat kedudukan seseorang dalam Tatanan Adat Kepaksian Pernong.
Contohnya, gelar-gelar: Raja, Batin, Radin dan seterusnya. Sedangkan Uccuk (ujung) dari gelar menunjukkan identitas keturunan atau Jukkuan yang bersangkutan. Misalnya: Raja Batin II, artinya berasal dari Jukkuan Lamban Bandung.
Gelar Sultan hanya untuk Sai Batin. Melekat pula pada gelar Sultan adalah Pangeran dan Dalom. Permaisuri Sai Batin bergelar Ratu. Dalam stratifikasi gelar yang berkait dengan jabatan (struktur) adat dalam masyarakat berturut-turut: Sultan --> Raja --> Batin --> Radin --> Minak --> Kimas --> Mas.
Gelar tersebut berkaitan dengan status dan kedudukan yang bersangkutan dalam strata kehidupan masyarakat adat Paksi Buay Pernong. Gelar dapat memperlihatkan kedudukannya dalam masyarakat adat di mana ia tinggal. Seorang bergelar Raja, dia mempunyai anak buah yang tertata dalam suatu kelompok masyarakat adat yang disebut Jukku. Raja membawahkan beberapa Batin, Radin, Minak, Kimas, Mas, dan seterusnya. Pada jalur perempuan, gelar itu setelah Ratu, adalah Batin-Radin-Minak-Mas-Itton.
Hanya, ada sedikit perbedaan gelar Raja dan gelar-gelar lain yang diberikan kepada keluarga Sai Batin yang tertata dalam Papateh Lamban Gedung, semacam “Sekretariat Negara”. Mereka ini memperoleh gelar karena adanya hubungan darah dengan Sai Batin. Karena itu, tidak membawahkan langsung gelar-gelar di bawahnya. Sultan dalam menjalankan fungsinya dibantu oleh Pemapah Dalom, semacam perdana menteri, yang biasanya diangkat dari salah seorang paman atau adik Sultan. Para Pemapah Dalom/Pemapah Paksi bergelar Raja.
Gelar Raja oleh Sai Batin juga dianugerahkan kepada kepala Jukku, putra kedua Sai Batin, dan menantu tertua laki-laki dari Sai Batin. Kepada menantu perempuan tertua memperoleh gelar Tidak Tudau atau Matudau (anak putri mengikuti suaminya).
Masyarakat adat terkelompok dalam struktur sebagai berikut: Jukku dipimpin kepala Jukku bergelar Raja Sumbai dipimpin kepala Sumbai bergelar Batin Kebu dipimpin kepala Kebu bergelar Radin Lamban (keluarga) dipimpin kepala keluarga atau Ghagah. (BUAYPERNONG.BLOGSPOT.COM/M-1)
SUMBER lisan di Kepaksian Pernong dan juga keterangan tertulis serbaringkas mengenai gelar kebangsawanan dan gelar dalam fungsi adat telah diuraikan Sai Batin, pucuk pimpinan adat Paksi Pak Skala Brak.
Dalam adat Paksi Pak Buay Pernong, ada beberapa tingkatan gelar atau adok. Seluruh adok adalah mutlak anugerah dari Sai Batin. Anugerah diberikan atas dasar keturunan (nasab-silsilah) maupun karena jasa besarnya kepada Sai Batin atau Kepaksian Pernong.
Dalam adat Paksi Buay Pernong, gelar adat dalam berbagai tingkatan tidak “diperjualbelikan” melalui cara dan dengan alasan apa pun. Kalaupun ada gelar yang dianugerahkan, merupakan mutlak hak prerogatif Sai Batin.
Meskipun demikian, sebenarnya Sai Batin mengambil keputusan bukan tanpa dasar dan menutup diri dari aspirasi bawah. Para kepala Jukku berkewajiban menyusun akkat tindih (tingkatan) status anak buah yang akan diberi gelar. Akkat tindih itu kemudian dimusyawarahkan dengan raja-raja Kappung Batin. Pengusulan pakkal ni adok ini harus menimbang gelar dari ayahnya (lulus kawai); cakak adok (naik tingkatan gelar) dan adanya pemekaran Jukkuan.
Hasil musyawarah diserahkan kepada Sai Batin melalui Pemapah Dalom/Pemapah Paksi untuk dimintakan persetujuan.
Apa pun keputusan Sai Batin itulah yang harus diterima.
Dalam adat Kepaksian Pernong, gelar terdiri dari dua atau lebih suku kata yang berpedoman pada Pakkal Ni Adok dan pada Uccuk Ni Adok. Pakkal (pangkal) dari gelar merupakan kata inti dari gelar yang menunjukkan status atau tingkat kedudukan seseorang dalam Tatanan Adat Kepaksian Pernong.
Contohnya, gelar-gelar: Raja, Batin, Radin dan seterusnya. Sedangkan Uccuk (ujung) dari gelar menunjukkan identitas keturunan atau Jukkuan yang bersangkutan. Misalnya: Raja Batin II, artinya berasal dari Jukkuan Lamban Bandung.
Gelar Sultan hanya untuk Sai Batin. Melekat pula pada gelar Sultan adalah Pangeran dan Dalom. Permaisuri Sai Batin bergelar Ratu. Dalam stratifikasi gelar yang berkait dengan jabatan (struktur) adat dalam masyarakat berturut-turut: Sultan --> Raja --> Batin --> Radin --> Minak --> Kimas --> Mas.
Gelar tersebut berkaitan dengan status dan kedudukan yang bersangkutan dalam strata kehidupan masyarakat adat Paksi Buay Pernong. Gelar dapat memperlihatkan kedudukannya dalam masyarakat adat di mana ia tinggal. Seorang bergelar Raja, dia mempunyai anak buah yang tertata dalam suatu kelompok masyarakat adat yang disebut Jukku. Raja membawahkan beberapa Batin, Radin, Minak, Kimas, Mas, dan seterusnya. Pada jalur perempuan, gelar itu setelah Ratu, adalah Batin-Radin-Minak-Mas-Itton.
Hanya, ada sedikit perbedaan gelar Raja dan gelar-gelar lain yang diberikan kepada keluarga Sai Batin yang tertata dalam Papateh Lamban Gedung, semacam “Sekretariat Negara”. Mereka ini memperoleh gelar karena adanya hubungan darah dengan Sai Batin. Karena itu, tidak membawahkan langsung gelar-gelar di bawahnya. Sultan dalam menjalankan fungsinya dibantu oleh Pemapah Dalom, semacam perdana menteri, yang biasanya diangkat dari salah seorang paman atau adik Sultan. Para Pemapah Dalom/Pemapah Paksi bergelar Raja.
Gelar Raja oleh Sai Batin juga dianugerahkan kepada kepala Jukku, putra kedua Sai Batin, dan menantu tertua laki-laki dari Sai Batin. Kepada menantu perempuan tertua memperoleh gelar Tidak Tudau atau Matudau (anak putri mengikuti suaminya).
Masyarakat adat terkelompok dalam struktur sebagai berikut: Jukku dipimpin kepala Jukku bergelar Raja Sumbai dipimpin kepala Sumbai bergelar Batin Kebu dipimpin kepala Kebu bergelar Radin Lamban (keluarga) dipimpin kepala keluarga atau Ghagah. (BUAYPERNONG.BLOGSPOT.COM/M-1)
Tradisi Skala Brak Mengabdi kepada Masyarakat
Fokus :ampost : Minggu, 8 Mei 2011
MENYUSURI Gedung Dalom sebagai bangunan bersejarah sedikit sulit. Sebab, tidak sembarangan dibuka untuk umum, kecuali pada saat acara upacara adat, termasuk hari besar (Islam).
Untunglah saat Media Indonesia (grup Lampung Post) berkunjung, akhir pekan lalu, Firmansyah, tokoh masyarakat setempat dengan lapang memberi kesempatan untuk memasuki istana bersejarah tersebut.
Sejumlah tombak, dulang emas, dan piring (porselin) asal China masih terpajang rapi di dalam lemari. Hal ini membuktikan Kerajaan Skala Brak telah menerima kebudayaan luar sejak berabad-abad silam.
Menelusuri secara lebih dalam sistem kemasyarakatan setempat, jenjang tertinggi dalam adat adalah saibatin suntan.
Tidak seperti sistem kedudukan pada raja-raja di Jawa yang oligarki, untuk dapat mencapai gelar, kedudukan dan pangkat dalam adat ditentukan berdasarkan banyaknya bawahan atau pengikut dari seseorang.
Kepaksian di Skala Brak memiliki hierarki adat, dari yang tertinggi sampai terendah, meliputi suntan, raja, batin, radin, minak, kemas, dan mas.
"Dalam garis dan peraturan adat tidak terdapat kemungkinan untuk membeli pangkat adat. Ini adalah warisan dari Kerajaan Paksi Skala Brak,” kata Firmansyah.
Ia menjelaskan untuk dapat menaikkan kedudukan seseorang di dalam lingkungan adat cukup sulit. Kepangkatan seseorang dalam adat tidak dapat dinilai dari materi dan kekuatan. Namun, bisa ditentukan oleh asal, akhlak, dan banyaknya pengikut seseorang dalam lingkungan adat.
“Saat syarat terpenuhi, kedudukan seseorang di dalam adat tidak perlu dibeli dengan harta benda. Biasanya dapat dianugerahkan karena seseorang memiliki andil dalam masyarakat.”
Kesempatan untuk menaikkan kedudukan seseorang di dalam adat biasanya dilaksanakan pada acara nayuh (pernikahan), sunatan, dan lainnya. Pengumuman untuk kenaikan pangkat ini dilaksanakan dengan upacara yang lazim menurut adat di antara khalayak dengan penuh khidmat.
Biasanya warga memainkan canang disertai bahasa perwatin, sebuah bahasa yang halus dan memiliki arti yang dalam.(IWA/MI/M-1)
MENYUSURI Gedung Dalom sebagai bangunan bersejarah sedikit sulit. Sebab, tidak sembarangan dibuka untuk umum, kecuali pada saat acara upacara adat, termasuk hari besar (Islam).
Untunglah saat Media Indonesia (grup Lampung Post) berkunjung, akhir pekan lalu, Firmansyah, tokoh masyarakat setempat dengan lapang memberi kesempatan untuk memasuki istana bersejarah tersebut.
Sejumlah tombak, dulang emas, dan piring (porselin) asal China masih terpajang rapi di dalam lemari. Hal ini membuktikan Kerajaan Skala Brak telah menerima kebudayaan luar sejak berabad-abad silam.
Menelusuri secara lebih dalam sistem kemasyarakatan setempat, jenjang tertinggi dalam adat adalah saibatin suntan.
Tidak seperti sistem kedudukan pada raja-raja di Jawa yang oligarki, untuk dapat mencapai gelar, kedudukan dan pangkat dalam adat ditentukan berdasarkan banyaknya bawahan atau pengikut dari seseorang.
Kepaksian di Skala Brak memiliki hierarki adat, dari yang tertinggi sampai terendah, meliputi suntan, raja, batin, radin, minak, kemas, dan mas.
"Dalam garis dan peraturan adat tidak terdapat kemungkinan untuk membeli pangkat adat. Ini adalah warisan dari Kerajaan Paksi Skala Brak,” kata Firmansyah.
Ia menjelaskan untuk dapat menaikkan kedudukan seseorang di dalam lingkungan adat cukup sulit. Kepangkatan seseorang dalam adat tidak dapat dinilai dari materi dan kekuatan. Namun, bisa ditentukan oleh asal, akhlak, dan banyaknya pengikut seseorang dalam lingkungan adat.
“Saat syarat terpenuhi, kedudukan seseorang di dalam adat tidak perlu dibeli dengan harta benda. Biasanya dapat dianugerahkan karena seseorang memiliki andil dalam masyarakat.”
Kesempatan untuk menaikkan kedudukan seseorang di dalam adat biasanya dilaksanakan pada acara nayuh (pernikahan), sunatan, dan lainnya. Pengumuman untuk kenaikan pangkat ini dilaksanakan dengan upacara yang lazim menurut adat di antara khalayak dengan penuh khidmat.
Biasanya warga memainkan canang disertai bahasa perwatin, sebuah bahasa yang halus dan memiliki arti yang dalam.(IWA/MI/M-1)
Subscribe to:
Posts (Atom)




