Showing posts with label Membangun Diri. Show all posts
Showing posts with label Membangun Diri. Show all posts

Monday, December 25, 2017

Tuntunan Akidah Islam Semakin Dirasakan Perlu Bagi Generasi Muda.

Generasi yang akan datang selain memiliki penguasaan keilmuan yang memadai serta berbagai keterampilan yang mendukung, maka yang paling penting adalah memeiliki kepenganutan terhadap akidah yang benar. Tampa tuntunan akidah yang benar maka wawasan keilmuan serta keterampilan yang dimiliki justeru akan memperparah keadaan mereka karena bisa saja ditunggangi oleh berbagai kepentingan yang justeru akan saling menghancurkan. Demikian disampaikan oleh Dr. (C) Bainal Huri Halim, M.Kom. Dosen Universitas Tulangbawang Bandar Lampung dalam materi Khutbah yang disampaikannya selaku Khatib pada sholat Jum,at di Masjid Al Bana  komplek Kampus Poli Teknik Negeri Lampung 22 Desember 2017 yang lalu, dengan Thema Insan Bertaqwa Wajib melahirkan Generasi Muda Yang Inovatip Berkualitas dan Mandiri"

Sekolah dan kampus serta Pemerintah sesungguhnya wajib memfasilitasi agar terselenggaranya kesempatan yang luas bagi setiap pelajar/ mahasiswa untuk mengembangkan dirinya seluas luasnya, perhatian serta pemberian fasilitas baik dalam bentuk sarana prasarana maupun tenaga pembimbing yang memberikan bimbingan secara bertahap, terencana dan terarah dimaksudkan segera tercapainya maksud agar terwujudnya generasi yang cerdas ( smart ), berpengetahuan ( knowledge ), dan unggul (Exellent) sesuai dengan kaidah dan akidah Islamiyah.

Sholat Jum'at yang diikuti oleh segenap civitas academica itu sangat tertarik dengan thema yang disampaikan, sehingga seusai sholat diselenggarakan ramah tamah yang dihadiri oleh  Dr. Ir. Surono.MT selaku Direktur Politeknik Negeri Lampung (Polinela ) Maka terselenggaralah Sresehan & Ramah Tamah bersama Dr. Dedy Hermawan , M.Si , juga Bu Rahayu Sulistiowati ,M.Si dan Prof. Dr.YULIANTO , dan Bu Selvi Diana Melinda , S.A.N. , MA. Serta beberapa Dosen  dalam Silaturahim tersebut Dr. Dedy Hermawan, M.Si , menyampaikan semoga kedepan di harapkan terjalin nya peningkatan kemitraan di bidang Akademik yang berkesinambungan.

Sumber : Karo Humas UTB melapor kan dari Kampus UNILA 

Monday, April 25, 2011

Bangsa yang Tak Merawat Diri

MUHIDIN M.DAHLAN
Kerani di Indonesia Buku (IBOEKOE), tinggal di Yogyakarta


SOEKARNO bilang, Indonesia adalah bangsa kuli dan kuli dari bangsa-bangsa. Menurut saya, Indonesia bangsa perusak. Bangsa yang tak punya mental merawat. Apa pun akan dirusaknya jika itu tak memberi keuntungan pragmatis. Tak peduli, bahkan milik berharga Proklamator Indonesia. Dua warisan dari dua bapak pendiri bangsa (founding fathers) itu, sepanjang reformasi, terkubur satu-satu.

Alkisah, Perpustakaan Idayu menyatu menjadi tanah di Sentul pada 2006. Perpustakaan yang berdiri tahun 1966 ini menyimpan koleksi bibliografi Indonesia sejak 1955; pertama oleh PT Gunung Agung (penerbit dan toko buku) kemudian dialihkan ke Idayu tahun 1966, termasuk koleksi kliping koran dari tahun 1960-an, koran-koran daerah dari seluruh daerah yang selalu diterima Idayu secara gratis.

Ada juga koleksi Books on Indonesia sebanyak 3.000 judul. Pidato Bung Karno mulai dari yang terpendek (1949) hingga terakhir, termasuk saat menerima gelar doktor honoris causa dari lebih 20 universitas di dalam dan luar negeri. Ada pula foto dan film revolusi 1945 yang diperoleh dari IPPHOS. Dokumen Petisi 50 yang terkoleksi lengkap. Buku atau artikel terlarang juga ada dalam rangkaian koleksi.

Koleksi-koleksi itu berubah menjadi tanah, dimakan rayap Sentul. Menurut Murtini Pendit, yang 15 tahun mengurus dokumentasi Idayu, mereka sudah berupaya agar warisan itu mendapat tempat layak.

Setelah Gedung Kebangkitan Indonesia (STOVIA) yang dipakai Idayu diambil alih pemerintah, Idayu terusir. Mereka membujuk Perpustakaan Nasional memberi ruang khusus untuk bibliografi, tetapi ditolak. Universitas Indonesia juga menolak.

Terakhir, mereka menyewa gedung di Sentul. Gudang itu sekaligus menjadi kuburan akhir koleksi bibliografi Idayu.

Sepanjang reformasi, stempel ”bukan bangsa (bermental) perawat” ini mendapat legitimasinya. Selain Idayu di Jakarta, Pemerintah Kota Bandung juga pernah ambil ancang-ancang menghabisi Gedung Landraad, tempat di mana Soekarno diadili pada 1930. Untunglah ada sekelompok kecil budayawan memperjuangkannya habis-habisan hingga gedung itu kini menjadi pusat kebudayaan yang aktif.

Pada bulan Agustus 2010 mencuat peristiwa miris. Para ahli waris Inggit menjual surat nikah berikut surat cerai Soekarno dan Inggit Garnasih karena ketiadaan dana merawat barang-barang peninggalan keduanya, museum dan rumah sakit bersalin Inggit Garnasih di Kota Bandung.

Di Yogyakarta, Perpustakaan Hatta, rumah bernaung buku-buku yang dibeli dan dikumpulkan Hatta sepanjang hayatnya, akhirnya ”rebah” tahun 2007. Koleksinya dijual ke Perpustakaan Universitas Gadjah Mada.

Rahzen (2000) pernah cerita, puluhan ribu koleksi buku Perdana Menteri Ali Sastro Amidjojo justru didapatkannya tak sengaja di rumah jagal buku dan bersiap dibuburkan. Demikian juga koleksi Adam Malik mblusuk-mblusuk di pasar gelap buku bekas. Dan kita masih bisa menderetnya sepanjang-panjangnya.

Merawat memori

Mental merawat memori adalah salah satu modal dasar peradaban besar. Pada abad ke-10—bahkan sebelumnya—Nuswantara mengalami puncak kejayaannya. Relief Candi Cetho, Sukuh, dan Panataran, misalnya, menggambarkan relief-relief peradaban dunia yang mengukuhkan Nuswantara sebagai pusat peradaban. Tesis ini yang diyakini dua akademisi yang belum pernah ke Indonesia sekalipun, Stephen Oppenheimer (Eden in the East) dan Arysio Santos (Atlantis, The Lost Continent Finally Found).

Ditengarai, saat itu pemerintah sadar bahwa semangat global harus diikuti fondasi dasar bagaimana mengadopsi peradaban itu dengan semangat mendokumentasikan seluruh khazanah keilmuan dunia yang puncaknya berlangsung pada abad ke-14.

Seusai menyelesaikan proyek kolektif gigantik, Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia (2009), Henri Chambert-Loir (2010) menyimpulkan, mental (dukungan dan kebijakan) pemerintahlah kuncinya. Pada masa Dharmawangsa Teguh dan beberapa generasi setelahnya, hampir semua bahasa dunia digunakan di Nusantara karena kerajaan mendukung penuh proyek itu.

Kini, jangankan mendokumentasikan ilmu-ilmu di dunia, merawat warisan intelektual dua Proklamator Indonesia saja pemerintah tersaruk-saruk. Jangankan mengumpulkan buku/dokumen dari peradaban global secara sistematis seperti dilakukan Library of Congress Amerika Serikat dengan bergerilya hingga ke kabupaten-kabupaten kecil mencari dokumen berbahasa Indonesia, merawat rumah peradaban yang ada saja tak sanggup.

Tumbuhlah padi

Ini soal mental merawat yang tak dipunyai. Tanpa mental merawat, jangan harap ada visi yang menurun ke kebijakan. Mental merawat bukan retorika. Ia bersemayam dalam sikap budaya. Bentuk mental merawat itu terangkum dalam sebait kalimat Multatuli seperti dikutip Mohammad Hatta pada halaman akhir pleidoi Indonesia Merdeka: ”Onhoorbaar goeit de padi (tak terdengar tumbuhlah padi)”.

Kekuatan kebudayaan yang terpendam dalam memori sejarah, dengan berbagai bentuk medianya, sesungguhnya tak lain adalah kekuatan inti dari negara dan bangsa yang dibangun ini. Kekuatan yang menegaskan ”jati diri”, hal yang hanya ribut di mulut para petinggi. Dengan pelalaian sekaligus perusakan—disengaja atau tidak— kekuatan itu penanda kuat hilangnya diri dalam kolektivitas kita sebagai bangsa juga individualitas kita sebagai manusia.

Oleh karena itu, jangan pernah mimpi memanen kejayaan peradaban (Indonesia Jaya 2030) jika tak siap berjalan dalam kesunyian merawat, memupuk, dan menjaga warisan masa silam dengan segenap kesadaran. Bila tidak, aparat pemerintah hari ini akan dikutuk generasi berikutnya sebagai kutu bagi buku, rayap bagi dokumen, dan hama bagi padi yang menghancurkan harapan ”petani-petani” peradaban.

Muhidin M Dahlan, Kerani di Indonesia Buku (IBOEKOE), tinggal di Yogyakarta

Sumber: Kompas, Sabtu, 23 April 2011

Sunday, February 27, 2011

Apresiasi atas Pertemanan yang Ikhlas

Lampung Post : Minggu, 27 Februari 2011

PROFIL
“Selamat dan Sukses atas terpilihnya H. M.C. Iman Santoso, S.H., M.M. sebagai Ketua DPW PPP Provinsi Lampung Masa Bakti 2011-2015 pada Muswil 19 Februari 2011 di Hotel Sahid, Bandar Lampung. Semoga Dapat Menjalankan Amanah dengan Baik.”

Petikan kalimat itu tersebut dalam iklan berbagai ukuran di hampir semua koran harian di Lampung sejak 20 Februari. Hingga Sabtu (26-2), iklan itu masih muncul lagi. Pemasangnya juga bukan lembaga atau orang sembarangan. Ada Gubernur, hampir semua bupati, ketua-ketua partai besar, kampus, LSM, hingga pribadi-pribadi.

Apa yang membuat Muhammad Cahyo Iman Santoso yang biasa dipanggil Wiwik ini begitu mendapat perhatian?

Datang dan mengobrol dengan anak ke 10 dari 16 bersaudara ini memang pantas mendapatkan perhatian. Ia egaliter dan renyah dalam semua omongan. Dari apa yang diobrolkan dan analisisnya, lelaki bernasab keturunan ke-15 Wali Songo ini memang mengasyikkan. Ia pribadi yang rendah hati, akrab, cerdas, humoris, menghormati perbedaan, dan cair.

Menilik latar belakangnya, wajar jika Wiwik jadi seperti ini. Ayahnya, Muhammad Sayid, seorang komisaris polisi memberi perhatian khusus kepada Wiwik karena ia adalah anak laki-laki kedua setelah delapan kakaknya perempuan. “Kebetulan, secara ekonomi orang tua saya cukup mampu. Jadi, kami tidak pernah mengalami kesulitan. Bahkan, bukan menyombongkan diri, sejak SMP saya sudah pakai mobil,” kata dia.

Meskipun mampu, Wiwik mengaku tidak lepas pergaulan. Sejak 1975, ia sudah mendirikan Remaja Islam Masjid (Risma) yang kemudian dia menjadi ketua. “Sebagai ketua Risma, saya harus menjaga diri dari pengaruh buruk. Semua orang saya temani, tetapi saya tidak pernah ikut terpengaruh. Saya berteman dengan pemabuk, tetapi selinting pun saya belum pernah mencicipi,” katanya.

Mengapa begitu teguh? “Satu pesan bapak saya yang tidak boleh dilanggar, saya tidak boleh tinggal salat. Setiap mengingatkan, bapak saya juga selalu mengatakan ‘salat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar’. Maka, saya selalu jaga itu,” kata pria yang pernah menjadi wartawan Warta Niaga dan Tamtama ini.

Kini, ia tetap menjaga amanah itu dengan ketat. Meskipun bergaul dengan berbagai kalangan, ia tetap istikamah dalam prinsip-prinsip agama. “Mungkin orang ingat saya karena bisa berbeda ya.” (SUDARMONO)

Biodata

Nama : Muhammad Cahyo Iman Santoso, S.H., M.M.

Kelahiran : Tanjungkarang, 20-11-1957

Pekerjaan : Anggota DPRD Provinsi Lampung

Ayah : M. Sayyid

Ibu : Jumirah

Istri : Dewi Prasetiati

Anak : 1. Muhammad Akbar

2. Putri Ramadhani

3. Dara Pracatia

Sekolah : - SDN 9 Durianpayung (1969)

- SMPN 2 Tanjungkarang (1972)

- SMAN 2 Tanjungkarang (1975)

- S-1 FH Unila (1984)

- S-2 MM UBL (2010)