Showing posts with label Seni dan Sastra. Show all posts
Showing posts with label Seni dan Sastra. Show all posts

Thursday, June 25, 2015

ANTARA CETIK DAN GAMOL LAMPUNG

Hasyim Gamol, di mata saya nama ini sudah akseptable, nama yang telah diterima kehadirannya dan eksis di mata masyarakat pewaris budaya Lampung khususnya pewaris seni tabuh yang terbuat dari bambu dan tersedia 7 pilihan nada di alat seni tradisional itu, gamol demikian para pewaris itu biasa menyebutnya, cetik belakangan nama yang diperkenalkan oleh berbagai pihak, semula bagi penikmat seni tradisional ini apakah disebut gamol ataupun ceti tidaklah menjadi persoalan. Yang jelas Lampung dahulu memiliki semacam alat seni musik dan barangnyapun masih mudah untuk menemukannya, real sebagai warisan budaya yang akan membanggakan kita semua.Jasa Hasyim Gamol tidak terpungkiri karena beliau telah membawa warisan yang tak ternilai ke ranah akademis, nampaknya beliau menjadikan alat musik yang satu ini sebagai judul thesis S2 nya, dan thesis ini dinyatakan lulus oleh para Penguji. Maka Hasyim Gamol juga sangat layak bila disebut akademisi.

Adalah sangat mengejutkan bila Hasyim Gamol lalu akan menarik nama Gamol Lampung dari nama bagi alat musik ini hanya lantaran pada acara Tabur Trans 7 me-



Saturday, February 8, 2014

Menciptakan Kiblat Baru Selain Rancage

Oleh Isbedy Stiawan Z.S.



Buku puisi Suluh karya Fitri Yani,
pemenang Hadiah Sastra Rancage 2014
untuk sastra Lampung.
BERUNTUNGLAH sastra berbahasa Lampung bisa eksis di tengah media lokal yang tidak menyediakan ruang (halaman) bagi karya sastra daerah (Lampung). Bahkan, beberapa nama sudah diakui di tingkat nasional melalui ajang pemilihan sastra berbahasa daerah yang digelar Yayasan Kebudayaan Rancage, yang berpusat di Bandung, Jawa Barat.

Sejak dibukanya penghargaan Rancage bagi sastra berbahasa Lampung, sebelumnya hanya berbahasa Sunda, Jawa, dan Bali, sudah tiga nama sastrawan (daerah) Lampung yang mendulang sukses. Mereka adalah Udo Z. Karzi, Asarpin, dan tahun ini diberikan kepada Fitri Yani untuk buku puisi berbahasa Lampung bertajuk Suluh (2013).

Saturday, February 1, 2014

Fitri Yani Raih Hadiah Sastra Rancage 2014

BANDAR LAMPUNG (Lampost.Co): Sastrawan Lampung Fitri Yani meraih Hadiah Sastra Rancage 2014. Warna lokal yang mencolok dalam buku puisi, Suluh, membuat karyanya terasa lengkap sebagai karya sastra Lampung.

Karena itulah, Suluh yang diterbitkan Lampung Literatur, 2013, ini dipilih dewan juri sebagai peraih Hadiah Sastra Rancage 2014 untuk sastra Lampung. "Bukan saja karena disajikan dalam bahasa Lampung melainkan juga membicarakan perkara kelampungan. Tidak ada satu pun sajak yang dimuat dalam Suluh yang tidak mengandung warna lokal Lampung, utamanya Lampung Barat," kata Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage dalam keputusannnya yang diterima Lampung Post, Sabtu (1/2).

Selain Lampung, Hadiah Sastra Rancage 2014 diberikan juga diberikan kepada Abdullah Mustappa dengan karyanya Titimangsa: 68 Sajak Alit untuk karya sastra Sunda. Untuk karya sastra Jawa diraih Nono Warnono dengan kumpulan cerita cekak Kluwung. Sedangkan I Wayan Westa dengan kumpulan ceritanya, Tutur Bali memenangkan Hadiah Sastra Rancage untuk karya sastra Bali.

Selain itu, Rancage 2014 juga diberikan kepada pihak-pihak yang berjasa bagi perkembangan bahasa dan sastra daerah. Yang terpilih menerima Hadiah Sastera “Rancagé” sastra Sunda 2014 buat jasa adalah Majalah Manglé yang terbit sejak 1957. Lalu, Dhanu Priyo Prabowo untuk sastra Jawa dan I Gusti Madé Sutjaja untuk sastra Bali.

Sedangkan pemenang Hadiah Samsudi 2014untuk bacaan kanak-kanak dalam bahasa Sunda adalah Prasasti nu Ngancik na Ati karya Popon Saadah.

Ketua Yayasan Rancage Rachmat Taufiq Hidayat mengatakan, upacara penyerahan Hadiah Sastera Rancagé 2014 dan Hadiah Samsudi 2014 akan dilaksanakan atas kerjasama dengan unversitas yang sekarang masih belum ditetapkan. "Begitu juga waktunya. Kalau sudah ada kepastian, insya Allah akan segera diumumkan," ujarnya.

Hadiah Sastra Rancage tahun ini, menurut Taufiq, diberikan untuk sastra Sunda untuk yang ke-21 kalinya, untuk sastera Jawa buat ke-21 kalinya, untuk sastera Bali buat yang ke-18 kalinya dan untuk sastera Lampung buat keempat kalinya. Selain untuk sastera Lampung untuk sastera Sunda, Jawa dan Bali, Hadiah Sastera “Rancagé” diberikan setiap tahun tanpa lowong, artinya diberikan saban tahun.

"Dalam bahasa Lampung tidak setiap tahun ada buku terbit, sehingga Hadiah Sastera “Rancagé” tidak bisa diberikan setiap tahun. Tahun 2013 yang lalu terbit dua judul buku dalam bahasa Lampung, sehingga tahun ini ada Hadiah Sastera “Rancagé” untuk sastera Lampung," kata Taufiq.

Laporan: Zulkarnain Zubairi
Editor: Adian
Foto: Dokumentasi pribadi

Thursday, November 28, 2013

Siswa Lambar Bisa Suburkan Tradisi Literer


Oleh Aripsah

Sebagai generasi literer, siswa di Lampung Barat diharapkan bisa terus mengembangkan tradisi intelektual dan literer yang sejak lama ada di daerah itu.

APRESIASI SASTRA. Sastrawan Udo Z. Karzi (kanan) memberikan cendera
mata kepada seorang peserta apresiasi sastra dalam rangkaian Festival
Bahasa dan Sastra SMAN 1 Liwa, Lampung Barat, Jumat (22/11).
(DOKUMENTASI PANITIA)
TRADISI intelektual dan literer yang hidup sejak lama di Liwa, Lampung Barat, bisa menjadi motivasi bagi siswa di daerah ini untuk terus mengembangkan bakat mereka dalam dunia tulis-menulis.

Sastrawan Udo Z. Karzi mengemukakan hal tersebut pada apresiasi sastra dalam rangkaian Festival Bahasa dan Sastra, yang diselenggarakan SMAN 1 Liwa, di aula sekolah tersebut, Jumat (22/11). Dalam acara yang dibuka Kepala Dinas Pendidikan Lambar ini, Udo membawakan materi bertema Jejak literasi Liwa.

Kepala Dinas Pendidikan Lampung Barat Nirlan, dalam sambutannya, menyambut baik diadakannya apresiasi sastra ini. "Saya berharap acara ini bisa memacu kreativitas siswa di Lambar dalam bidang sastra. Semoga sekolah bisa menjadi benteng bagi pengembangan sastra di daerah ini," ujar dia, seperti dibacakan Kasi Teknis SMA/SMK Rusman.

Wednesday, November 13, 2013

Masnuna (1932 - ? ) Benteng terakhir sastra Dadi Lampung.

BOLEH dibilang, sepanjang hidupnya digunakan mengabdikan diri pada dadi dan seni tradisi Lampung lainnya. Bagi Masnuna, dadi sudah menjadi bagian integral dari hidupnya.

Dialah yang melestarikan sekaligus menjadi penjaga seni dadi --salah satu bentuk sastra lisan Lampung. Ia memang dikenal luas karena kemampuannya melantunkan dadi. Walaupun begitu, ia tidak pernah mau menerima bayaran dari jasanya men-dadi.

Masnuna tetap konsisten mempertahankan keberadaan dadi dan tradisi lisan Lampung lainnya meski seolah tidak mendapat perhatian banyak pihak. Terbukti, hanya dia kini yang mampu men-dadi dengan segenap totalitas.

Generasi muda? "Mereka jelas lebih tertarik dengan orkes, musik pop, atau pesta-pesta yang jauh melenceng dari tradisi," kata Masnuna.

Akibatnya, kini hampir tidak ada generasi muda yang tertarik mempelajari dadi. Alasannya, sudah ketinggalan zaman dan sulit memahami bahasa dadi. Anaknya pun tidak begitu menguasai. Wajar saja Masnuna prihatin.

Tuesday, November 12, 2013

Memahami Musik cetik Dengan Wayak






Terbitnya buku Gamolan Pering yang ditulis oleh I Wayan Sumerta Dana Arta sangat membanggakan saya, karena dengan demikian Gamol Pering yang disebut juga 'Cetik' akan mampu memperpanjang usia dan bahkan memperlebar jangkawan, karena akan mampu mendatangi berbagai fakultas seni di seantero Indonesia. Dan ini juga sebagai teguran atas kelalaian berbagai pihak, karena justeru pendatang sebagai penyelamat jenis musik ini dari kepunahan. Jelas dengan terbitnya buku ini yang semula diawali oleh I Wayan Sumerta DA menterjemahkan bunyi yang dikeluarkan oleh gamol ini dalam bentuk solmisasi laras nada akan memudahkan para insan seni di berbagai fakultas dan Akademi Seni dan para  generasi muda untuk mempelajarinya dan berlatih sendiri tampa guru.

Dahulu Kanwil depdikbud sebenarnya telah mengawali langkah langkah seperti ini dengan cara melakukan inventarisasi seni tradisional Lampung, baik musik tradisional, tari tradisional, dan sastra tradsional. Walaupun dengan dana yang terbatas sehingga Bidang Kesenian yang pada saat itu hanya mampu menginventarisir satu tulisan untuk satutahun.

Memang pada saat itu sentuhan akademis dari tulisan tulisan yang ada dirasakan sangat kurang, sehingga banyak ungkapan yang kurang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara lancar baik kepada insan seni, dan apa lagi  kepada orang awam, sekalipun para penulis telah berusaha selengkap mungkin mengutip penuturan para pelaku seni, namun keterbatasan bahasa seni sehingga masih saja kurang membantu kelancaran komunikasi.  Tetapi karya yang satu ini seni cetik diinformasikan dengan bahasa yang lengkap dan  cukup komunikatif.

Tetapi untuk memahamai pesan moral musik cetik itu tidak semudah berkomunikasi dengan bahasa seni, karena bahasa seni tersebut harus ditingkatkan dengan bahasa fiulsafat. Memang seni adalah bagian dari filsafat, oleh karenanya memahami seni haruis memahami filosofinya. Tentu tidak mudah mengkimunikasikan bahasa filsafat ini dalam ranah sitematikanya, oleh karenanya ada cara yang mudah untuk memahami pesan dari cetik, yaitu pahami dulu wayak wayak yang lazim dilantunkan di wilayah Lampung Barat, karena musik cetik ini merupakan instrumen dari wayak itu.

Tuesday, October 22, 2013

Mbak Yu HIROMI Sinden Wayang Asal Jepang

SINDEN JEPANG GORO GORO


--
Siapa Hiromi.
HROMI KANO FROM JAPAN FOR SINDEN


HIROMI1
Foto: Ganug Nugroho Adi
GENDING “Ketawang Kinanthi Sandhung Pelog Barang” itu terdengar  bening. Lantunan sandhung pelog barang-nya terdengar panjang  dan      bulat. Diselingi suwuk, suara jernih perempuan itu kembali meliuk melantunkan macapat dhudhuk wuluh “Ayak-ayakan Mijil Sulastri Wolak-walik, beralih ke srepeg slendro manyura (jenis laras nada pentatonis). Ketika sampai pada bagian cengkok miring, penonton seperti menahan napas, terkesima lantunan nada-nada pentantonis yang dibawakan dengan sempurna oleh perempuan bertubuh mungil yang duduk di dekat dalang Ki Manteb Soedharsono di panggung pentas wayang kulit lebar tapi pendek  itu.  Perempuan itu Hiromi Kano, salah satu pesinden yang sering tampil bersama “dalang setan” Ki Manteb Soedharsono. Dari namanya sudah bisa ditebak ia perempuan Jepang. Namun kecuali nama yang menjadi tanda “kejepangannya” itu, sepintas memang hampir tak tampak lagi tanda-tanda lain bahwa ia berasal dari Negeri Sakura, meski kulit perempuan itu putih dan matanya sipit. Sosoknyanya sebagai orang Jepang seperti menguap, terlebih ketika ia nyinden dengan busana kebesarannya; kebaya lengkap dan sanggul besar khas Jawa.
Hiromi Kano namanya. Lahir di Chiba, Jepang, 31 Januari 1967. Sejak kecil ia menyukai musik. Ia belajar piano klasik sejak duduk di sekolah dasar. Tahun 1991, Hiromi adalah mahasiswa seni jurusan musik barat dan piano di Tokyo Ongaku Daigaku (Universitas Musik Tokyo).

Tuesday, October 2, 2012

Rancage Mamak Kenut


Oleh Tandi Skober


HADIAH sastra rancage made in Pasundan entah kenapa tak pernah mletek di tanah Cerbon Dermayu. Padahal ada banyak pemahat kata berkacamata sastra yang layak diayak untuk menjadi penerima rancage. Sebut saja Ahmad Subhanuddin Alwy, Nurdin M. Noer, Supali Kasim, Sumbadi Sastra Alam, Masduki Sarpin, dan Ipon Bae.

Yang memedihkan, ketika rancage lebih melirik sastra Lampung, Mak Dawah Mak Dibingi (2007) karya Udo Z. Karzi untuk dianugerahi Hadiah Sastra Rancage 2008. Jadi wajar ketika ada sastrawan Cerbon yang enggan disebut namanya berurai airmata, nelangsa, "Aja mujur ngalor sedurung tinemu mleteke rancage!" (Jangan dulu dikubur menghadap kiblat sebelum mendapat hadiah sastra rancage).

Adakah ini pertanda duka sastra ketika Cerbon selalu terposisikan sebagai anak haram budaya? Bisa jadi, memang begitu itu. Tapi menjadi lain ketika saya membaca Mamak Kenut (2012) karya sang peraih hadiah sastra Rancage itu. Adalah kumpul teks naratif khas wartawan merangkap sastrawan bernama Udo Z. Karzi, meski tak berbentuk tapi layak diasketis sebagai celotehan nakal ketika Jakarta berambut ikal keriting dan maaf... tidak berakal.

"Hmm, luar biasa, luar dalam," ucap saya untuk diri saya sendiri.

Kenapa? Udo mampu memetakan pulau-pulau keterasingan ketika kekuasaan (baca Jakarta) bertiwikrama menjadi puncak menara gading yang angkuh, gelo, dan lugu. Mamak Kenut adalah kritik akar rumput, ludah yang muncrat-muncrat sekaligus sejenis kesunyian yang meletihkan. Harap maklum, "Power tends to corrupt," tulis sejarawan Lord Acton, "But absolute power corrupts absolutely." Bahkan dramaturgi wayang Jawa --Penglepasan Kultural Ki Semar Kudapawana yang kerap hadir di ujung cerita-- diyakini bagian dari kekuasaan itu sendiri. Lir ambune njabah kelir lakon (Sejatining kritik akar rumput itu meski berbau tak sedap tapi mampu membuka ada apa di balik siapa). Lagi pula kritik terhadap penguasa (muhasabatul hukam) adalah ibadah amar makruf nahi munkar yang hukumnya fardu kifayah. "Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil." (QS. Almaaidah: 8)

Itulah sudah! Sesudah itu, Kovenan Internasional tentang hak kritik akar rumputpun dialirkan. "Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat dalam hal ini termasuk kebebasan memiliki pendapat tanpa gangguan, dan untuk mencari, menerima, dan menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media apa saja dan dengan tidak memandang batas-batas wilayah."

Bisa jadi, di ruang ini celotehan Udo Z. Karzi dalam Mamak Kenut saya selipkan di saku nalar saya. Terus terang, dalam ruang Indonesia yang tak benderang, nalar nakal Mamak Kenut membuat saya terlempar pada ruang sepi yang mencerahkan. Ada banyak judul yang memosisikan kritik akar rumput Mamak Kenut patut diperdengarkan di teras istana Negara.

Sebut saja 'orang bersih', 'politisi olahraga', 'kapasitas', 'biasa saja', 'musyawarah-mufakat', dan entah apalagi. Peraih hadiah sastra Rancage 2008, Udo Z. Karzi, secara tersembunyi alirkan proses cendekia di belantara kemajemukan hasrat masyarakat sekaligus --mengutip Edward T. Hall, Beyond Culture, 1977-- sejenis pergulatan kultur tersembunyi yang sukar ditangkap oleh orang lain.

Tak pelak, kritik akar rumput Mamak Kenut berupaya mengadopsi kritik sosial sebagai proses logika sekaligus memasukan jaringan indera cium dalam pusaran revitalisasi estetika kearifan lokal ke ruang yang lebih cair. Ia tahu betul bahwa Kritik Akar rumput kerap memiliki potensi dalam hal penjelajahan bentuk, ruang dan waktu. Imanuel Kant menyebutnya sebagai das ding an sich (Wiegend dan Schinnagel 1964:272). Das ding an sich ini sejenis keniscayaan yang mustahil dapat ditangkap manusia. Seperti angin yang tak terbaca sekaligus laksana rsuara tanpa rupar yang mustahil bisa membaca. Tak pelak, Kritik akar rumput Mamak Kenut tidak sekadar absurditas fenomental juga siluet holistik di lembaran kain hitam putih. Artinya, kritik yang berbasis pada nalar cendekiawan akan lebih memiliki pilar pemberdayaan, abstraksi kontesia pemikiran serta validitas yang tinggi.

Ada banyak trik menarik yang diungkap Mamak Kenut sebagai jaringan indera dialektika yang mengubahsuai kontesia abstraksi menjadi sosok yang seolah-olah masuk akal. Abstraksi realitas ini memosisikan kritik akar rumput sebagai mikroskop steril yang futuris.

Artinya, seorang Udo melihat masa depan sebagai realitas kekinian. Adalah realitas yang memiliki potensi yang mentransformasi abstraksi sebagai suatu pembenaran. Memang kritik kerap overlap hingga ke batas tak terduga. "The future is in some sense some as real as the present too," ungkap Wendell Bell dan James A, The Sociology of The Future (1973: 8), "The future in some respect is as real as the past, since we know both in much the sameway-trought our conseption of them."

Mewacanai agregat di atas, maka kritik sosial menitikberatkan pada apa yang oleh kritikus dianggap benar yang juga dibenarkan pendapat kolektif. Artinya, saat Udo mengkritik penguasa maka dibutuhkan pembenaran bersifat kolektif. Seorang Joseph S. roucek, (Social Control 1956:3) menyebutnya, "Social control is a collecitive term for those processes, planed or unplaned, by which individuals are taught, persuaded or completed to conform to the usages and live-values of groups." Jadi, tak aneh apabila kritik sosial saat pertama diluncurkan memiliki potensi konflik untuk saling bersebrangan. Kritik yang bermakna perubahan akan berhadapan dengan keajegan kondisional. Kritik yang menuntut adanya ideal conduct dan high standars of performance diadopsi penguasa sebagai perilaku mabelelo yang nganeh-nganehi.

***

Aneh atau tidak, kritik akar rumput Mamak Kenut tercipta dari ruang pengap Indonesia. Terlebih lagi ketika republik tempat bersemayamnya para predator korup ini hampir pada setiap hari mematut jati diri menjadi sosok cleptocracy yaitu pemerintahan yang dijalankan oleh para pencuri dan birokrasi dengan tingkat korupsi luar biasa. Tak ayal lagi, kritik akar rumput pun pun melintas-lintas. Udo melihat ini dan ini pernah disitir Goenawan Mohamad dalam pahatan teks yang memukau, "Kekuasaan, pada tingkat tertentu, memang sejenis kesepian. Yang menarik, ialah pada saat penguasa menyadari hal itu, ia ternyata tidak begitu gampang untuk membebaskan diri dari kungkungannya."

Apa artinya? Cuma kesunyian kekuasaan yang akan mengakhiri kecurangan-kecurangan tersembunyi itu. Cuma Tangan Tuhan yang tersembunyilah yang akan mengakhiri kepemimpinan politik yang bertahan amat lama yang seolah-olah, mengutip Budiana Kusumohamidjojo (1986:3), tidak mengenal tahun terakhir.

Emang sih, kritik akar rumput Mamak Kenut bukan hal yang anyar dalam percaturan pikir Indonesiana. Sebut saja Zaim Saidi, Emha Ainun Nadjib, Farid Gaban, Abdurrahman Wahid, Mahbub Djunaidi, Mohamad Sobary, M.A.W. Brouwer, dan Tandi Skober. Mereka adalah realitas yang kerap tersembunyi di bilik-bilik sunyi kekuasaan. Ini sejenis partikel nurudin (cahaya Tuhan) yang kerap muncul setiap kali kekuasaan mentuhankan nafsu.

Malangnya, banyak penguasa yang enggan mengasketis partikel nurudin itu menjadi cermin jujur yang seteril. Di titik inilah pada akhirnya kritik akar rumput Mamak Kenut bisa jadi tak lebih dari lintasan angin yang memasuki banyak ruang sonder permisi. Atau tidak lebih dari secangkir kopi yang terhidang diambang fajar, di teras rumah ketika kemarau kian retak.

Tandi Skober, budayawan, penulis, sastrawan

Sumber: Galamedia, Jumat, 28 september 2012

Sunday, July 15, 2012

PUSTAKA: Udo Karzi Luncurkan ‘Mamak Kenut’


BANDAR LAMPUNG (Lampost): Mamak Kenut merupakan salah satu tokoh dalam kumpulan tulisan Udo Z. Karzi yang diluncurkan Sabtu, (14-7) di Toko Buku Fajar Agung, Bandar Lampung. Buku terbitan Indepth Publishing ini merupakan kumpulan tulisan berupa kolom yang sebelumnya dimuat di rubrik Nuansa surat kabar harian Lampung Post.

Dalam kesempatan tersebut, juga digelar diskusi buku Mamak Kenut: Orang Lampung Punya Celoteh yang memuat 101 tulisan ini. “Mamak Kenut saya angkat dari khazanah budaya atau tradisi lisan Lampung. Mamak Kenut dkk saya pakai untuk mengkritisi, mengkitik-kitik, dan mengingatkan hal-hal yang tidak pada tempatnya, tidak sesuai norma umum, atau perbuatan yang tidak etis,” kata Udo.

Wartawan ini tergerak menyatukan tulisannya dalam satu buku agar memudahkan masyarakat yang ingin membaca buah pikirannya itu. “Tulisan di koran biasanya hanya dibaca pada saat terbit, tapi kalau buku bisa lebih enak dibaca dan lebih mudah didokumentasikan,” kata dia.

Diskusi tersebut menghadirkan pembahas budayawan Iwan Nurdaya-Djafar dan sastrawan Iswadi Pratama dengan moderator Tri Purna Jaya dari Indepth Publishing.

Iwan berpendapat buku Mamak Kenut lebih tepat disebut nirbuku atau nonbook karena harus terdapat benang merah pada setiap tulisan dari awal sampai akhir. “Saya ingin menggarisbawahi, sifat khas nonbook yaitu berupa kompilasi, dalam hal ini bisa juga berupa kompilasi kolom,” kata Iwan.

Ia menilai tulisan-tulisan kolom Udo tersebut lahir dari semangat menyindir yang tidak menggunakan perumpamaan, tapi langsung pada pokok masalah khas Sumatera.

“Saya mengapresiasi buku ini karena kritis dan analitis terhadap masalah ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang terjadi di sekitar tokoh Mamak Kenut, Minan Tinja, Pithagiras, Radin Mak Iwoh, Paman Takur, Udien, dan nama-nama lainnya,” ujar Iwan.

Menutup pemaparannya, Iwan meminjam istilah Gus Dur yang menyebut tempe enak dibacem dan perlu, demikian pula tulisan Udo Z. Karzi tersebut yang enak dibaca dan perlu.

Sementara itu, Iswadi mengatakan buku ini adalah bacaan ringan tapi memiliki daya usik. “Maksudnya, buku ini mengusik pemikiran masyarakat untuk terus merefleksikan semua hal yang terjadi terutama masalah politik,” kata Iswadi.

Ia mengibaratkan buku ini sebagai oasis yang dapat menyegarkan di tengah-tengah dinamika kehidupan sehari-hari. Semoga buku ini dapat menjadi salah satu referensi bacaan masyarakat luas. (MG4/S-3)

Pustaka lampost : 15 Juli 2012