Showing posts with label Pristiwa dan Alam. Show all posts
Showing posts with label Pristiwa dan Alam. Show all posts

Wednesday, August 21, 2013

(perjalanan) TELUK LAMPUNG, ANUGERAH TERINDAH


GARIS pantai sepanjang 200-an kilometer di Teluk Lampung itu anugerah Tuhan. Aneka hajat, pariwisata, industri, dan kehidupan bertumpu.

Teluk Lampung
Lampu-lampu di ujung garis pantai itu seperti berkelip-kelip. Warnanya serupa kuning matahari yang mulai tenggelam di ufuk dan membias ke mana-mana. Suasana itu mengirimkan pesan romantis setiap sore yang hangat di seputaran Teluk Lampung.

Ceruk laut yang menjorok ke darat itu memang menjadi keunggulan Kota Bandar Lampung. Dalam peta, letak Kota Tapis Berseri ini memang berada pada pucis laut yang menjorok ke daratan. Posisi itu adalah kemurahan Tuhan yang seolah menawarkan spektakulasi samudera lebih dekat dengan keramaian kota.
Dinding-dinding laut Selat Sunda di bilangan ini terpacak gunung dan perbukitan. Jika dilintasi, Teluk Lampung ini memang dimulai dari Bakauheni.

Disusuri terus, garis pantai akan melintasi pesisir Kalianda, Katibung, lalu masuk Bandar Lampung di Panjang. Pinggir laut menyentuh kota dengan keramaian dan kepadatan penduduk di Telukbetung. Lalu, dinding mulai naik ke arah Lempasing dan Padangcerming, Kabupaten Pesawaran. Di sepanjang garis pantai yang umumnya landai dan berpasir putih ini, puluhan tempat wisata menjanjikan kesegaran suasana.

Thursday, November 8, 2012

Angin Puting Beliung Terjang 2 Desa di Lampung Utara

08/11/2012 11:15 WIB
Angin Puting Beliung Terjang 2 Desa di Lampung Utara
Politikindonesia - Angin puting beliung terjang dua desa, yakni Desa Gilih Suka Negeri dan Desa Cabang Empat, Kecamatan Abung Selatan, Kabupaten Lampung Utara. Akibat terjangan angin itu, atap rumah warga berterbangan diterpa pusaran angin yang disertai hujan deras, Selasa (06/11) sekitar pukul 17.30 WIB.

Pusaran angin disertai hujan deras yang datang seketika membuat warga dua di desa di Abung Selatan menjadi panik hingga berlarian keluar rumah. Tidak hanya sampah dedaunan dan ranting yang dibawa terbang pusaran angin. Bahkan atap rumah warga pun ada yang terbang diterpa kencangnya angin hingga porak poranda.

Riswan, 30, warga Desa Gilih Suka Negeri, mengatakan, angin itu datang secara tiba-tiba. Sebelumnya cuaca hanya terlihat mendung saja. Sekitar setengah jam kemudian, Riswan mendengar suara gemuruh dan melihat awan berwarna hitam.

“Saat itu sepertinya akan turun hujan lebat. Bersamaan dengan derasnya hujan, tiba-tiba saja datang angin kencang yang membentuk pusaran membuat daun dan ranting pohon itu berterbangan,” kata Riswan.

Tidak lama kemudian pusaran angin itu menerpa rumah-rumah warga. Selain rumah bergetar, atap rumah juga berterbangan. “Takut tertimpa reruntuhan rumah, saya dan keluarga beserta warga desa lainya lari keluar dari rumah di tengah guyuran hujan lebat, untuk mencari perlindungan dan menjauhi lokasi,” ujar Riswan.

Maria ,25, warga Desa Gilih Suka Negeri membenarkan, akibat angin puting beliung itu, anaknya yang masih balita menjadi sakit demam dan flu karena kehujanan. “Tidak hanya Desa kami, Desa Cabang Empat juga yang diterpa angin puting beliung,” ujar Maria.

Ketua DPRD Lampura M Yusrizal yang melakukan peninjauan ke dua desa yang diterpa angin puting beliung, melihat rumah warga yang telah porak poranda. Kemudian M Yusrizal memberikan bantuan sebagai rasa keprihatinan untuk meringankan beban korban.
(oes/rin/wan)

Sunday, November 4, 2012

[Perjalanan] Sejuknya Ham Tebiu, Liwa


BAGI masyarakat luar Lampung Barat, jika ke Kota Liwa, rasanya belum tuntas jika belum menikmati suasana sejuknya udara dan indahnya pemandangan di Ham Tebiu. Ada juga bunga-bunga langka.


Lokasi Ham Tebiu merupakan wajahnya atau ciri khasnya Kota Liwa. Di sekitar lokasi Ham Tebiu tersebut selain dapat dijadikan sebagai tempat masyarakat untuk bersantai ria, mencari hiburan atau sekadar untuk melepas lelah, kini juga menjadi taman kota Liwa yang di dalamnya terdapat berbagai aneka spesies tumbuhan.

Bahkan di sekitar lokasi itu, kini juga terdapat aneka koleksi bunga langka. Karena lokasi itu juga merupakan bagian dari pusat pengembangan aneka bunga langka yang dilaksanakan oleh Dinas Kehutanan bekerja sama dengan petugas dari Kebun Raya Bogor.



Bunga-bunga langkah itu didapat kawasan hutan yang kemudian sengaja dikembangkan di lokasi itu dan selanjutnya akan disebar di kawasan Kebun Raya Liwa. Pengembangan berbagai bunga langka itu dipusatkan di sekitar Ham Tebiu disebabkan lokasinya berbatasan langsung dengan lokasi Kebun Raya Liwa.


Bunga-bunga langkah, antara lain bunga raflesia, kantong semar dan lain-lain itu nantinya akan ditanam di kawasan Kebun Raya Liwa.

Selain dapat menikmati sejuknya udara dan aneka tumbuhan, kita juga dapat memandangi panorama alam berupa kolam besar yang di dalamnya terdapat banyak aneka ikan air tawar, mulai dari yang terkecil hingga yang besar, terdiri dari ikan gabus, nila, mujahir, sepat dan lain-lain.


Lokasi Ham Tebiu setiap harinya kini mulai ramai dikunjungi masyarakat, baik secara keluarga, perorangan maupun anak-anak muda. Mereka datang silih berganti.

"Kalau lagi libur, anak-anak sering ngajak bermain di sini karena selain tidak ada tempat hiburan lain, di sini pemandangannya lumayan bagus dan udaranya sejuk. Anak-anak senang," kata Andre, warga Liwa yang berada di lokasi Ham Tebiu, kemarin.

Beberapa tahun lalu, lokasi ini sepi pengunjung karena lokasinya kurang terawat. Namun, belakangan ini atau sejak lokasinya dirawat dan ditanami berbagai bunga, masyarakat silih berganti mendatangi lokasi ini hanya sekadar untuk melepas lelah.

Di lokasi ini, juga telah tersedia WC umum sehingga bagi pengunjung yang membutuhkannya tidak perlu harus pergi jauh. Bagi pengunjung yang datang dari luar kota, ketika membutuhkan makanan atau minuman di luar lokasi sekitar 20 meter banyak warung yang menyediakan berbagai makanan mulai dari warteg, mi, soto, bakso hingga goreng-gorengan.

Selain itu, juga tersedia berbagai aneka jenis oleh-oleh, misalnya buah-buahan, kopi, dan gula merah.

Lokasi Ham Tebiu banyak dikunjungi karena lokasi alamnya masih asli, udaranya sejuk serta pemandangan yang indah. Di sekitar lokasi juga terdapat sejumlah bangunan untuk berteduh.

Bahkan, lokasi ini cocok untuk dijadikan tempat rekreasi. Sebab di dalamnya terdapat kolam besar yang tentunya dapat dijadikan sebagai objek wisata sepeda air. Kemudian di sisinya terdapat taman yang bervariasi. Hanya sayangnya pihak Pemkab belum dapat mengembangkannya ke arah sana dengan alasan keterbatasan dana.

"Lokasi Ham Tebiu untuk sementara fokusnya adalah sebagai ruang terbuka hijau karena lokasi ini selain sebagai taman kota Liwa juga merupakan daerah tangkapan air dan daerah patahan gempa sehingga pengembangannya harus mengutamakan aspek ramah lingkungan," kata Kabid Fisik Bappeda Lampung Barat Eric Inreco, beberapa hari lalu.

Rencana pengembangan untuk dijadikan sebagai taman rekreasi itu memang ada, tapi untuk sementara belum menjadi prioritas. Sebab, selain keterbatasan dana, pertimbangan lain adalah Ham Tebiu merupakan kawasan ruang terbuka hijau serta daerah tangkapan air sehingga pengembangannya lebih diarahkan ke fungsi lingkungan. Terlebih, di sekitarnya umumnya merupakan dataran yang tinggi. (ELIYAH/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 28 Oktober 2012

Thursday, September 27, 2012

TRAGEDI KMP BAHUGA: Hendak Pamit Haji, Ternyata Menjadi Korban



Thursday, 27 September 2012

BAKAUHENI--Kepergian Sri Nuraini (33), bersama putra keduanya Nazwa (10) untuk selama-lamanya, meninggalkan duka yang sangat mendalam bagi Purwati (60), warga Kecamatan Gadingrejo, Pringsewu. Ibu korban sekaligus eyang putri dari siswa kelas IV SD yang ikut menghembuskan nafas terakhir itu tak kuasa menahan tangis.

Putri ketiga dari pasangan suami istri (Pasutri), alm Sri Nuraini dan Budi Sudarsono yang selamat, yakni Micel (1,5) itu terus dielus-elus dan diusap-usap oleh Eyang Purwati. Selain Micel, putra pertama Budi, yakni Sultan (12) berhasil dievakuasi dan dilarika ker RS Krakatau Medika, cilegon.

"Mereka berlima (Kedua orang tua dan tiga anak,) mau ke Gadingrejo ke rumah orangtua untuk minta restu, Sebab pada 17 Oktober mendatang, Sri dan Budi mau menjalankan ibadah haji. " kata Purwati mengenang ucapan putrinya (Alm Sri) sehari sebelum berangkat dari rumahnya di daerah Tangerang Selatan menuju menuju pelabuhan penyeberangan Merak dan menyeberang ke Lampung.

"Saya sangat terpukul mendengar kabar kapal yang ditumpangi anak-anakku dan ketiga cucuku tenggelam. Anakku mati, cucuku mati...." ucap ibu berjilbab itu terus menangis.

Jenazah ibu dan anak itu masih berada di RS Medika Tangerang bersama suaminya, Budi dan putra pertama, Sultan (12). Namun bapak dan anak itu sedang menjalani pengobatan akibat kapal yang ditumpangi mereka tenggelam ditabrak kapal tanker Norgas Cathinka. Suasana diruangan VIP ASDP Bakauheni kembali diselimuti kesedihan, ketika melihat Micel yang saat kejadian dalam pelukan Ibunda itu terlepas, dan ditemukan selamat didalam pelampung.

Menurut sejumlah saksi yang merupakan penumpang KMP Bahuga Jaya, tidak mengetahui secara pasti tabrakan kapal tersebut. Mereka mengaku kapal tanker warna merah muda tiba tiba menabrak lambung kapal Bahuga. Setelah tertabrak kapal langsung miring dan tidak sampai setengah jam, kapal tenggelam.

"Saya berhasil keluar dari himpitan kendaraan, sementara teman saya terjebak didalam truk. Saya sempat menarik tangannya namun tidak berhasil," ujar Suparyono, sopir truk warga Liwa, Lampung Barat yang selamat dari kecelakaan maut itu. (KRI/L-1)

Thursday, July 12, 2012

JELANG RAMADAN Kemenag Lampung Pantau Hilal di Dua Titik


BANDAR LAMPUNG (Lampost): Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Lampung akan memantau keberadaan hilal atau bulan untuk penghitungan rukyat awal Ramadan 1433 H dari dua titik, yakni di Lemong, Lampung Barat, dan di Bukit Gelumang, Lampung Selatan.

Kepala Kanwil Kemenag Lampung Abdurrahman mengatakan pemantauan hilal ini dilakukan di dua titik pada 19 Juli 2012. "Nanti hasil pemantauan itu akan disampaikan ke badan hisab rukyat untuk menjadi masukan penetapan awal Ramadan. Secara nasional, sidang isbat juga akan dilakukan pada 19 September 2012. Jadi masyarakat harap bersabar menunggu keputusan pemerintah," kata Abdurrahman di ruang kerjanya, Rabu (11-7).

Sebelumnya, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan Jumat Kliwon 20 Juli 2012 sebagai awal puasa 1 Ramadan 1433 H. Selain itu, Muhammadiyah menetapkan Idulfitri pada 19 Agustus 2012 atau 1 Syawal 1433 H.

Ketetapan dituangkan dalam Maklumat No. 01/MLM/I.0/E/2012 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, Zulhijah 1433 Hijriah, dan imbauan menyambut Ramadan 1433 H. Maklumat tertanggal 15 Juni 2012 itu ditandatangani Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Sekretaris Umum Agung Danarto.

Penetapan itu berdasar hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. "Kami menyadari ada perbedaan penetapan awal Ramadan dengan organisasi lain. Oleh sebab itu, Muhammadiyah mengeluarkan imbauan khusus," kata Din Syamsudin pada pertemuan dengan masyarakat Muhammadiyah di kampus STIE Muhammadiyah, Pringsewu, Selasa lalu.

Menurut Din, puasa tahun ini diperkirakan 30 hari dan Idulfitri kemungkinan sama dengan pemerintah. "Perbedaan itu tidak harus dibesar-besarkan, tetapi menjadi pembelajaran dan rahmat. Semua memiliki dasar hukum," kata Din.

Penetapan awal Ramadan Nahdlatul Ulama (NU), menurut Ketua Lajnah Falakiah PBNU K.H. Ghozali Masrurie, menunggu sidang isbat bersama pemerintah yang dijadwalkan 19 Juli 2012. Menurut Ghozali, sidang isbat diputuskan dengan melihat hasil observasi pada 29 Syakban malam ke-30 Syakban. Namun, menurut dia, kemungkinan besar awal puasa jatuh 21 Juli. Pasalnya, hilal belum terlihat pada 21 Juli tersebut. "Bila terlihat hilal, 20 Juli berpuasa. Tetapi bila tidak terlihat hilal, 21 Juli berpuasa," kata Ghozali. (LIN/K-3)
Sumber : Lampost 13 Juli 2012

Wednesday, April 11, 2012

Gempa Aceh Warga Lampung Barat Was Was

LIWA (Lampost.com): Gempa berkekuatan 8,5 skala richter (SR) yang mengguncang di Aceh sore tadi juga membuat warga Lampung Barat (Lambar) terutama yang berada di pinggiran pantai menjadi was-was terlebih saat mendapat peringatan dini tsunami dari Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

"Masyarakat yang berada di wilayah Krui dan sekitarnya khususnya yang berdekatan dengan pantai saat merasakan gempa dan mendapat informasi peringatan dini tsunami langsung berhamburan keluar dan mengamati suasana pantai," kata Camat Pesisir Tengah, Edi Mukhtar, Rabu (11-4).
Masyarakat terlihat tenang tapi tetap was-was termasuk dirinya sendiri. Setelah merasakan gempa serta mendapat informasi peringatan dini tsunami, kata dia, masyarakat dari kejauhan langsung mengamat-amati suasana laut untuk memastikan keadaan. Pihaknya selaku camat yang saat itu juga sedang berada di kantor ketika mendapat peringatan dini tsunami dari BKMG itu juga meminta masyarakat untuk tetap tenang tetapi harus tetap waspada. "Masyarakat memang banyak yang keluar dan mengamati suasana di pinggir laut," kata camat.
Dia menambahkan, kendati demikian masyarakat tetap tenang dan tidak ada gejolak. Sebab intensitas gempa yang dirasakan juga tidak terlalu kuat. Kemudian di Pulau Pisang, Pesisir Utara, camat dan peratin di Pulau Pisang telah menghubungi aparat pekon untuk meminta agar masyarakat waspada terhadap kemungkinan tsunami akibat gempa tersebut. "Kebetulan seluruh peratin di Pulau Pisang sedang mengikuti acara di kecamatan untuk itu pihaknya menyampaikan informasi ini kepada masyarakat melalui aparat pekon di Pulau Pisang. Informasi itu langsung kita sampaikan dan meminta agar semua warga waspada," kata camat Pesisir Utara, Azhari.
Setelah warga mendapat informasi itu langsung was-was serta waspada sambil terus mengamati suasana di sekitar pantai. Pada dasarnya getaran gempa itu cukup dirasakan, sebagian masyarakat juga keluar untuk mengamati suasana sekitar pantai. Kendati demikian masyarakat tetap tenang sambil terus mengamati suasana pinggir laut. (ELI/L-1)

Lampung Post Online

Friday, October 7, 2011

KEMARAU : Rawa Terindah itu Menjadi ‘The Killing Fields’



MENGGALA—Kemarau panjang mengubah wajah kawasan rawa di Tulangbawang menjadi kering kerontang. Koloni burung rawa di Bawanglatak dan Bujungtenuk yang menjadi pemandangan indah di jalan lintas timur Sumatera tak terlihat lagi, berganti dengan koloni kerbau yang mencari rumput yang masih tersisa.

Kawasan seluas lebih dari 14 ribu hektare ini merupakan rawa terbaik dan terindah di Sumatera. Kedalaman air di lahan pasang-surut ini memang sering berubah. Dalam kondisi normal kedalamannya mencapai 3 meter—4 meter.

Pemkab Tulangbawang mempromosikan kawasan ini sebagai destinasi wisata air. Selain menyejukkan mata, kawasan ini juga menjadi tempat bergantung hidup ratusan keluarga nelayan. Puluhan ton ikan setiap hari dijaring dan menjadi komoditas perdagangan warga di sepanjang rawa.

Namun, kini semua berubah. Kawasan ini lebih layak disebut the killing fields (ladang pembantaian). Ya, kompetisi mendapat air dan ikan membuat yang kuat menjadi pemenang. Di rawa yang masih tersisa ikan, kompetisi mendapat ikan terjadi antara nelayan bermodal tipis dan nelayan bermodal besar.

Sejumlah nelayan kepada Lampung Post, Kamis (6-10), menyebutkan nelayan bermodal besar mampu meraup hasil Rp5 juta—Rp6 juta/hari karena memakai jaring waring bini. "Waring bini sangat merusak kelanjutan hidup ikan di rawa karena menjaring semua jenis ikan, baik kecil maupun besar. Banyak anak ikan mati tak terpungut di jaring," ujar seorang nelayan.

Nelayan kecil yang bermodal jaring tradisional tentu saja tersisih. Dalam kondisi normal, menurut Pauli, nelayan di Bawanglatak, dia bisa mendapat ikan 15—18 kg/hari. Namun, kini sangat sulit meskipun harus menyelusuri sungai kecil sampai ke pinggir sungai Way Tulangbawang sejauh belasan kilometer. "Kadang kami tidak mendapatkan ikan karena kalah cepat dengan nelayan jaring waring," kata Pauli.

Sebenarnya, Pemkab pada 2008 pernah melarang nelayan memakai waring. Namun, hingga kini belum ada operasi pelarangan jaring waring. Pengamatan Lampung Post, tak kurang dari 25 nelayan di wilayah ini masih menggunakan alat tangkap ikan waring.(UNA/U-1)

Sunday, September 11, 2011

Kota Bandar Lampung Krisis Air




Utama Lampost : Senin, 12 September 2011

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Kemarau sejak sebulan terakhir mulai terasa dampaknya. Warga Bandar Lampung dan sekitarnya dilanda krisis air bersih.

Masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih karena debit air sumur menyusut, bahkan sebagian mulai mengering. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga terpaksa mengambil dari tempat lain atau membeli.

Krisis air dirasakan warga Kedaton, Sukarame, Way Kandis, Labuhanratu, Way Halim, dan Gunungterang.

Di Labuhanratu, warga menyerbu sumur gratis yang disediakan perorangan, seperti di Maruman Siger dan di depan masjid jalan Pagaralam (Gang PU). "Sumur di rumah kering, jadi terpaksa ngunjal dengan pikap atau becak," ujar Yanto, warga Labuhanratu, Minggu (11-9).

Di Kedaton, debit air sumur dengan kedalaman kurang dari 12 meter juga menyusut. Masyarakat terpaksa menghemat air atau meminta dari tetangga yang memiliki sumur lebih dalam. Di Gunungterang, warga terpaksa mandi di sungai karena sumur mereka hanya cukup untuk kebutuhan memasak dan mencuci.

Kesulitan air bersih juga dirasakan warga Desa Hajimena, Natar, Lampung Selatan. Banyak sumur yang mengering dan kalaupun air sumur masih ada, baru bisa diambil setelah delapan jam. Rumah Habiah Ilyas, misalnya. Di rumahnya, air sumur bisa disedot mesin setiap delapan jam. Padahal biasanya, air bisa disedot kapan saja karena sumber airnya melimpah.

Beberapa warga terpaksa membeli selang panjang untuk disambung ke sumur bor milik tetangganya. Afandi, misalnya. Warga Perumahan Puri Sejahtera, Natar, ini mesti membeli selang sepanjang 20 meter untuk meminta air kepada warga yang punya sumur bor.

Setiap pagi dan sore, air dialirkan melalui selang dari rumah si empunya air ke rumahnya. Hal itu sudah berlangsung satu bulan terakhir. Selain meminta kepada tetangga yang punya sumur bor, beberapa warga juga mencuci dan mengambil air di masjid sekitar. Namun, pengambilan air dibatasi oleh pengurus masjid. Sebab, dikhawatirkan kebutuhan air untuk jemaah yang hendak salat tidak tercukupi.



Pertanian

Di sektor pertanian, luas areal sawah yang gagal panen di Lampung sejak dua bulan terakhir mencapai 513 ha. Petambak tradisional dan nelayan pun banyak yang merugi akibat kemarau.

Kepala Stasiun Klimatologi Masgar Hariyanto mengatakan kemarau di Lampung mencapai puncaknya sejak awal Agustus ini. Curah hujan saat ini 50-100 mm/bulan. "Kemarau diprediksi mereda pada Oktober," kata dia.

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Lampung Bambang Nova Setyanto mengatakan suhu pada puncak kemarau mencapai 34—35 derajat Celsius. "Hujan masih akan turun walaupun dengan intensitas rendah, di bawah 150 mm/bulan," ujarnya.

Secara nasional, kemarau berkepanjangan membuat sebagian wilayah Indonesia dilanda kekeringan. Krisis air pun tak terhindarkan. Ribuan hektar areal persawahan siap panen terancam puso atau gagal panen. Tak sedikit lahan pertanian yang telantar. Di samping areal pertanian, kekeringan juga berdampak serius terhadap peternakan, sapi dan kerbau kesulitan pakan. Warga pun menjerit karena air bersih sulit didapat.

Di Tegal, Jawa Tengah, ratusan warga memanfaatkan air sumur yang keruh dan berbau untuk memasak dan kebutuhan lainnya. Warga yang mampu membeli air bersih dari sumur artesis milik warga setempat seharga Rp1.000 per jeriken berisi 20 liter. (AAN/TOR/U-1)

Kemarau, Warga Metro Kesulitan Air Bersih



METRO (Lampost): Sebagian warga di Metro mulai merasakan kesulitan air mengingat sudah sebulan setengah tak turun hujan di wilayah itu.


Sebagian warga kini hanya berharap dari sumur tetangga yang masih ada airnya, tapi itu pun terbatas. Hampir semua sumur warga di Metro mulai surut dan kekeringan.

Warga berharap ada bantuan dari Pemkot melalaui UPT PAM. "Sudah seminggu sumur kering, kami minta kepada tetangga dan saudara yang di rumahnya masih aman air," kata Ujang, warga Hadimulyo.

Kondisi yang sama dialami sejumlah warga yang tinggal di daerah Polos, Iringmulyo, Yosodadi, serta sebagian di Tejosari dan Tejoagung.

Warga sudah memilih membeli air dan sumur tetangga yang bisa dimanfaatkan. Beberapa masjid pun menjadi tempat warga meminta air, karena air di sana masih bisa dimanfaatkan.

Kondisi kesulitan air warga direspons Komisi II DPRD Metro. Anggota Komisi II Nasrianto mengatakan akan meminta pemerintah membantu menyuplai air melalaui PAM air bersih.

Sebab, air menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari, mengingat kesulitan air bisa berimbas pada kesehatan. "Kami akan meminta Wali Kota untuk menginstruksikan UPT PAM menyuplai air ke masyarakat," kata dia di ruang kerajnya, Jumat (9-11).

Nasrianto mengaku sudah ada laporan dari masyarakat ke Dewan menyusul kondisi kesulitan air saat ini. Bahkan, warga di sekitar rumahnya di seputaran Hadimulyo pun sebagian besar sudah mengalami kekeringan.

Selain itu, kata dia, Komisi II juga akan mengusulkan ke Dinas Tata Kota untuk menyiapkan tempat-tempat penampungan air berupa tong atau bak air plastik yang diletakkan di seputar daerah kesulitan air. Dengan begitu, warga bisa mendapat air dari tong-tong yang disiapkan. (CAN/D-3)

Saturday, September 10, 2011

Abrasi Ancam Warga Pulau Legundi

gambar ilustrasi

Ruwa Jurai Lampost 10 September 2011/

PESAWARAN (Lampost): Pesisir pantai Pulau Legundi di Kecamatan Punduhpidada, Kabupaten Pesawaran, mulai mengalami abrasi atau penggerusan. Warga setempat meminta Pemkab setempat mengatasi abrasi karena dampaknya dapat merugikan masyarakat sekitar.

"Abrasi pantai ini sudah meluas sepanjang 25 meter dari bibir pantai sehingga akan semakin merugikan masyarakat yang berada di pesisir," ujar Pj. Kepala Desa Pulau Legundi, Zikri Hasis, di Pesawaran, Sabtu (10-9).

Menurut dia, masyarakat di daerah itu hanya bisa membuat tanggul seadanya menggunakan batu karang yang ada di sekitar pantai. "Masyarakat tidak mampu menanggulangi sepenuhnya karena nilai untuk penanggulangan cukup besar sehingga secara swadaya hanya bisa membuat tanggul," ujar Hasis.

Dia menjelaskan selama ini masyarakat belum pernah mengajukan langsung anggaran penanggulangan permasalahan tersebut. Namun, pihaknya melalui kaur pembangunan saat musrembang kecamatan sudah pernah melapor perihal abrasi pantai.

Akan tetapi, hingga kini pengajuan itu belum terealisasi, sehingga kondisi tersebut mengkhawatirkan warga setempat.

Hal senada diungkapkan warga lainnya, Ali Rahman. Dia mengatakan abrasi pantai di pesisir akan semakin meluas apabila tidak ditanggulangani dengan benar.

"Apalagi semakin meluasnya abrasi ini akan menimbulkan berbagai masalah yang di antaranya merusak bangunan puskemas milik pemerintah di daerah tersebut," kata Ketua BPD Pulau Legundi itu.

Ia berharap Pemkab setempat memberi solusi guna mengatasi abrasi pantai yang semakin meluas di pesisir wilayah kepulauan di daerah itu. "Terkait dengan abrasi tersebut, pihak masyarakat tidak dapat maksimal mengatasi permasalahan karena membutuhkan dana cukup besar," ujarnya.

Ali menambahkan selama ini yang bisa dilakukan hanya menutupinya dengan karang yang disusun di sekitar pantai, tapi itu tidak maksimal karena kekurangan dana. Upaya lain dengan penanaman mangrove atau bakau sudah pernah dilakukan, tetapi belum berhasil.

"Besar harapan kami pemerintah dapat turut andil menangani permasalahan tersebut sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti bencana banjir saat pasang air laut," kata dia. (ANT/L-1)

Pasar Terbesar di Mesuji Ludes

gambar ilustrasi

Utama Lampost 10 September 2011

SIMPANGPEMATANG (Lampost): Sebanyak 395 kios penampungan Pasar Simpangpematang, Kecamatan Simpangpematang, Mesuji, ludes dilalap api, kemarin siang.

Api diketahui sekitar pukul 14.45. Karena semua bangunan terbuat dari kayu dan tak ada mobil pemadam kebakaran, tak sampai satu jam seluruh bangunan pasar terbesar di Mesuji itu rata dengan tanah.

Menurut sejumlah pedagang, api berasal dari toko sepatu milik Fani yang berdekatan dengan balai kampung setempat. Wayan yang tokonya bersebelahan dengan Fani mengatakan sebelum terjadi kebakaran, ia melihat Fani dan istrinya masuk toko. "Karena toko itu baru buka, mungkin beres-beres," ujarnya.

Setelah toko itu ditutup, Fani dan istrinya pergi naik sepeda motor. "Tidak lama dari situ, kami melihat api dari dalam toko itu. Lalu kami dengan beberapa rekan mencoba mendobrak toko itu. Setelah berhasil didobrak api sudah sangat besar sehingga tidak bisa dipadamkan," kata dia.

Para pedagang pun panik. Mereka berupaya menyelamatkan barang dagangan. Sementara itu, api semakin besar karena angin bertiup kencang sedangkan semua bangunan terbuat dari kayu.

Sebagian barang dagangan yang bisa diselamatkan dibawa pulang ke rumah masing-masing, sebagian lagi dititipkan ke rumah-rumah penduduk di sekitar lapangan bola tempat pembangunan kios sementara.



Terlambat Pindah

Ketua Himpunan Pedagang Pasar Simpangpematang Bagindo Erwin mengatakan musibah seperti itu kemungkinan tidak akan terjadi jika pengembang menyelesaikan bangunan tepat waktu.

"Kalau perjanjian dengan pengembang pasar dan Pemkab Mesuji, semestinya sebulan sebelum puasa kami harus sudah pindah ke bangunan baru. Jika para pedagang sudah pindah, tidak begini kejadiannya. Kami berharap Pemkab mendesak PT Citra Kurnia Waway untuk segera menyelesaikan pembangunan," ujarnya.

Kapolsek Simpangpematang AKP Nelson F. Manik mengatakan penyebab kebakaran masih diselidiki. "Kami masih mengumpulkan informasi, ada yang menyebutkan sumber api berasal dari salah satu toko sepatu milik Fani, nanti kami telusuri,” kata dia.

Saat ini polisi masih mencari keberadaan Fani. Sedangkan istrinya sudah diamankan di Polsek tapi belum bisa dimintai keterangan karena masih shock.

Nelson menambahkan di pasar penampungan tersebut tidak ada satu pun alat pemadam kebakaran yang disediakan. "Padahal dari awal penampungan ini dibangun seharusnya ada antisipasi jika terjadi kebakaran," kata dia.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Mesuji Huminsa Lubis mengatakan pihaknya sudah meminta bantuan perusahaan-perusahaan di sekitar lokasi untuk mengirimkan mobil pemadam saat kebakaran terjadi.

"Tapi kejadiannya terlalu cepat, jadi alat pemadam datang tidak sempat lagi digunakan," ujarnya. Sedangkan Pemkab Mesuji belum memiliki mobil pemadam kebakaran.

Pj. Bupati Mesuji Albar Hasan Tanjung kemarin juga datang ke lokasi kebakaran. Begitu juga Camat Simpangpematang Indra Kusuma Wijaya. Albar Hasan berharap pedagang tidak putus asa. "Kembalilah berjualan, jangan tinggal diam. Untuk sementara, Pemkab Mesuji akan membantu membersihkan puing-puing sisa-sisa kebakaran lebih dulu," ujarnya.

Kepala Kampung Simpangpematang Parimin mengatakan pihaknya akan membicarakan lebih dulu dengan Uspika dan Pemkab tentang para pedagang yang kiosnya ludes itu bisa berjualan lagi.

Debri Saputra, warga Kampung Simpangpematang, yang rumahnya tepat di depan pasar, mengatakan api terlihat dari dalam pasar. Ia dan warga hanya menggunakan peralatan seadanya untuk memadamkan api.

"Kami cuma pakai ember, mana ambil airnya cukup jauh, jadi memang enggak ada gunanya," kata dia. Ketinggian api, kata dia, saat puncak kebakaran mencapai puluhan meter. "Saya baru sekali ini melihat kebakaran seperti ini," ujarnya. (UNA/UAN/R-2)