Tuesday, July 19, 2022

SEMOGA KAK TON TETAP MEMILIKI KESEHATAN YANG PRIMA

 

KAK TON DALAM PERAWATAN DOKTER DI RSU
 

SEMOGA Kak Ton diberikan kekuatan lahir batin   dari Allah Sehingg tak membutuhkan waktu yang lama untuk             bisa kembali sehat walafiat tak kurang satu appun. Aamiin.                                                                               s


DI SEKITAR  pukuk 03.30 tadi pagi penglihatan saya tertuju kepada layar HP ... ternyata Sahabat saya Teman Sekelas waktu SD di Pagelaran mengirim pesan tertulis bahwa sahabat kami Buston dengan panggilan akrab Kak Ton adalah sahabat kecil saya sewaktu duduk di bangku SD di Pagelaran dahulu, kami sebenarnya terpaut  dus tahun, dia adik kelas tetapi memiliki kedekatan luar biasa karena kami sewaktu kecil dibelakang rumahnya Kak Ton yang bersebelahan dengan tanah Abah Hasan yang luas itu bersepakat membangun lapanmgan sepakbola mini di tanah kosong pinggir sungai yang dibentengi oleh barisan pohon johar yang cukup kekar. 

Ada empat buah Johar berdiri angkuh dan tentu saja menjadi tameng kami agar tak meluncur ke sungai irigasi yang melintas di pinggiran lapangan kesayangan kami itu, di mana aliran sungai irigasi itu sejatinga adalah alternatif ketika kami melepas penat sekaligus mandi. Jika kami berkenan melangkah melangkah sekita sepuluh langkah ke arah selatan dari bibir sungai bagian Selatan, Abah Hasan Tetangga Kak Ton menyiapkan sarana pemandian berupa aluran air mancur yang dilindungi pagar bambu, tetapi sarana pemandian umum itu tentu lebih diminati oleh mereka yang dewasa, sementara kami yang kanak kanak pada saat itu tentu lebih memilih berenang di sungai irigasi itu. 

Pada waktu kami kecil dahulu sungai irigasi nampak bening, dan laju air sedikit deras banyak Ibu Ibu yang berbaris mencuci pakaian dan pecahbelah, itu pada saat air sedikit bah, tetapi pada musim kering air nampak keruh dan malas mengalir Dan pada saat air bah itulah kami banyak menciptakan permainan perrmainan    
















Wednesday, May 25, 2022

SUHROWARDI KINI TELAH TIADA

 

15 MEI 2022 yang lalu bener benar kenangan yang sangat indah. Keindahan panorma Teluk Kenyo  dengan lafar belakang tanah pebukitan yang ijo royoroyu. Sebuah danau kecil disebut Teluk Kenyo itu terletak di tengahj tengah perkebunan sawit milik rakyat, membuat kami betah duduk duduk  saling berpandangan. Suasana teduh itu membuat hati ini senang dengan seneka melupakan harga sawit yang tak berdaya dinaikkan harganya. Kami mlupakan sejenak ketika Negeri tercinta ini sebagai penghasil sawit terbesar tetapi secara aneh bin nyata kami ketiadaan minya goreng, minyak goreng langka sehingga Emak Emak terpaksa antrian sekedar untuk membeli minyak goreng kebutuhan sehari hari. Karena Pemeritah kami dengan berat hati harus takluk kepada Aligarki yang berdiri sombong berkacak pinggang, Negara kami mereka kuasai secara huina. 

Kami terhibur ditengah rintihan duka nestapa  dalam ketidak berdayaan mengantisipasi keinginan oligarki dengan segala kecongkaannya. Saya, Alpian, Sunari dan Kasyati teman sekelas lulusan SDN 1 Pagelaran tahun 1968, kami lulus pada saat Indonesia berhasil melepaskan diri dari Penghianatan Komunis  kesekian kalinya. Dengan segala kepapaan kami  disaat kami Pensiun Negeri ini kembali sesng merasa kepedihan hidup, itu berhasil kami lupakan, sejenak kami melupakan kesusahan itu dengan reuni di teluk Kenyp Pasiukir Pagelaran Kabupaten Pringsewu.Tidak terlalu banyak kata dan canda kami lontarkan, tetapi kamisang dalam bertukar pandang, lamat lamat terucap doa untuk para sahabat  semoga disisa usia kita yang tak muda lagi ini semoga saja kita tidak didera dengan kesedihan kesusahan, kami tak tahu akan sampai kapan kami bisa bertahan hidup dan kembali menghadiri reunian yang diselenggarakan kawan kawan se alumni ini. 



Pada saat itulah Saudara kami seangkan Suhrowardi telah meninggal dunia. 

Thursday, April 21, 2022

JAUH DARI MAKSIMAL TAPI SAYA MENSYUKURI

 

FOTO YANG satu ini ingin saya katakan bahwa  ini adalah foto yang sangat berkesan bagi saya, saya bekerja di Kanwil Depdikbud Prov Lampung yang kelak diintegrasikan  dengan Dinas Pendidikan   di Bidang Permuseuman Sejarah dan Purbakala serta Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Bidang garapan pada saat masih di Kanwil antara lain Kesejarah dan Nilai Tradisional, Permuseuman dan Kepurbakaan  serta Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Saya sendiri pengalaman Pendidikan adalah Jurusan Aqidah dan Filsafat, maka begitu masuk ke lingkungan tempat kerja maka yang paling cepat saya bisa berintegrasi adalah dalam Bidang Kesejarahan dan Nilai Tradisioan, serta Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Sedangkan terkait Permuseuman dan Kepurbakaan terasa sekali saya memang membutuhkan waktu untuk bisa mengintegrasikan dengan disiplin ilmu yang selama ini saya dalami. 
 
Sesingkat saya bekerja di Kanwil Depdikbud Prop Lampung seingat saya ada dua orang arkeolog yang bekerja disitu yaitu Pak Enjat , Ibu Erna dan Pak Oki, lalu datang Laki Pak Budi. Pak Endjat dan Bu Erna disatukan Pemda sudah Mutasi ke Jakarta, sementara Pak OKI dan Pak Budi tetap bertahan di tugaska di Museum. 
 
Sebelum Kanwil Depdsikbud melebur ke Dinas Pendidiksan saya masih bertahan di Bidang Musjarah dan konsentrasi melaksanakan tugas  program, utamanya Program Kesejarahan dan  Nilai Nilai Tradisional  Sebenarnya yang saya tahu ada dua orang  yang memiliki latar belakang Study jurusan Sejarah, tetapi keduanya sunad mninggal dunia dan belum sempat menggarap aspek kesejarahan yang sebenarnya merupakan biudang garapan. Musjarah termasuk Museum sebagai UPTmya. 
 
Dari sekian banyak Bidang Garapan saya banyak berpartisipasi dalam bidang nilai nilai tradisional dan keadatan, dan khususnya tentang Falsafah Piil Pesenggiri di mana Falsafah Piil Pesenggiri Lampung itu hingga saat ini memang selalu terucap dalam berbagai kesempatan, pertemuan dan pembelajaran, bahkan sekarang sudah banyak dijadikan bahan penelitian oleh para Mahasiswa untuk tugas akhir Studynya baik S1 maupun S2 cdan S3, karena memang ternyata di mata para akdemisi itu Falsafah Piil Pesenggiri memiliki nilai nilai edukasi yang sangat menjanjijkan. Dan saya memiliki ketrtarikam khusus fal safah Piil Pesenggiri yang muncul dan berkembang Lampung itu.







 

Wednesday, April 20, 2022

EH ... HITUNGAN ORANG MAORI MIRIP HITUNGAN ORANG LAMPUNG

' 

BULE AUSTRALI  ini gemar ngepreng bule lainnya dengan menggunakan bahasa Jawa yang dikuasainya secara luar biasa, banyak kita yang Non Jawa yang jujur tak keberatan memberikan acungan jempol kepada Bule Austraia yang satu uni dalam keterampilan berbahasa Jawa.  Tetapi dalam youtube yang satu ini si Bule Australi kena batunya, karena Ia nge-Preng seorang asing dengan bajhasa Jawa, dan yang menjadi sasaran  justeru berpura pura bego gak ngerti bahasa Jawa, 

Ada sekitar  puluhan menit orang di preng, tetapi yang bersangkutan pura pura dongok gak ngerti bahasa Jawa, sampai suatu saat dalam dialog bahasa Ingris si Bule mengaku dia tinggal di Madura, lalu secara mengejutkan yang di preng sontak bertanya anda tinggal di Madura nya di mana, sehingga terjadilah serangkaian dialog yang menggelikan. 

Maka terjadilah perkenalan secara baek baek dan dari perkenalan itu terjadilah dialog yang benar benar sangat mengejutkan. si Bule itu ternyata dari Selandia Baru, Saya sangat terkejut sekali ternyata setelah kedua narasumber itu saling tukar informasi ternyata bahwa Bahasa Maori itu adalah bahasa penduduk asli Selandia baru  Yang paling mengejutkan adalah ucapan atas hitungan versi Naori itu kok mirip sekali dengan bahasa Lampung antara lain  (1) Tai (Lampung Sai)  (2) Ruwa (Lampung Ruwa) (3) Teru  (Lampung Telu) (4) Pak (Lampung Pak)  (5) Rima  (Lampung Lima) (6) Ono ( Lampung Nom) 7 Witu ( Lampung Pitu) 8. Waru (Lampung Walu)  9. Iwa (Lampung Siwa) 10. Tekau (Lampung S'puluh)


Saya kira ini tidaklah berlebihan bila ini saya anggap bukan sesuatu yang hanya biasa, tetapi luar biasa, karena menurut saya bukanlah sesuatu yang hanya kebetulan saja. Walaupoun ini baru saja dalam hitiungan dari satu sampai sepuluh hampir keseluruhan memiliki kemiripan ucap kecuali angka sepuluh yang oleh orang orang Maoru disebut "Tekau" .  Bisa saja memang ada beberapa Bangsa memiliki kesamaan dalam mengucap hitungan satu sampai sepuluh, itu bisa saja. Tetapi kalaupun itu terjadi umpamanya juga saya yakin itu tidak terjadi secara kebetulan, artinya barangkali pernah terjadi kontok kontak diberbagai urusan, yang artinya ada pristiwa sejarah manusia dalam beraktivitas. Seperti apa yang saya samapikan di atas mungkin juga ada kontak antara  terjadi pada masyarakat Lampung dan Maori.

Tapi tyidaklah ada salahnya bila kebutulan Anda sebagai Orang Lampung memiuliki kesempatan jumpa  dengan orang Maori maka tidak salahnya bila Anda iseng iseng bertanya tanya dengan Sahabat Maori Anda mungkin saja ada menanyakan beberapa kebiasaan makanan dan kebiasaan lainnya siapa tahu kebiasaan itu masih mereka pertahankan sampai dengan sekarang. Semua bisa terjadoi koq ... hehe 

Wallohu A'lam.




SURAT TERBUKA UNTUK ANGGOTA GRUP WA       ALUMNI  SDN I    PAGELARAN

SALAM PERSAHABATAN

Assalaamu 'alaikum Wr Wb                      

Kepada Yth Anai Ahyar Haris DKK  di Pagelaran, surat ini sesungguhnya ditujukan kepada semua Anggota Grup WA Grup WA Alumni SDN 1 Pagelaran Pringsewu Lampung. Memang sengaja saya kaitkan dengan nama Anai Ahyar Haris  dengan alasan (1) Beliau termasuk yang senior bersama beberapa orang lainnya (2) Anai Ahyar Tinggal di Pagelaran  (3) Anai Ahyar mengenali siapa siapa Anggota WA kita. (4) Pengalaman Anai Ahyar  tidak boleh diragukan lagi  (5)  Dan ini  sekaligus sebagai Doa bagi Anai Ahyar semoga  tetap sehat wal afiat untuk memimpin kami kami ini. 

Sehubungan dengan semakin dekatnya kedatangan Idul Fitri yang sama kita tunggu tunggu seiring besarnya keinginan kita mencapai kesucian, setelah selama ini kita beriteraksi dan sangat terbuka peluang yang tampa kita sadari telah menorehkan goresan luka luka halus ... sehingga di hari hari yang Fitry ini tak puas rasanya bila kita tak saling bersua dan bertatap mata serta nerunjukkan senyuman dan menggambar kihlasan hati untuk saling menerima dan memaklumi ... 

Semula kita telah bersepakat untuk melaksanakan Halal Bilhalal. Reuni dan Ikut bersama Saudara kita Mbak Kasyati bersama keluarga besar, sehingga kita saling melengkapi kegembiuraan kita bersamadengan melibatkan grup kita tercinta ini.

Tetapi Allah berkehendak lain ... dan kita yakin ada hikmah yang sangat besar dibalik ketetapan Allah ini tetapi dengan segala keterbatasan kita, maka kita tak akan mampu memahaminya, kecuali dengan kacamata keimanan kita yang besar. Kita serahkan hidup dan mati kita sepenuhnya kepada Allah, dan kita harus selalu berdoa agar Allah SWT  akan memberikan yang terbaik bagi kita semua. 

Saya mohon Anay Ahyar Haris berkenan mengajak kawan kawan segera membicarakan ini seperti rencana kirta semula untuk melaksanakan Reunian, silakan dibicarakan kapan waktunya, dimana tempatnya, lalu siapa saja akan ditugaskan, apa yang harus disiapkan, dan lain lain segala hal yang akan terkait dengan permasalahan permasalahan ini seperti biaya, siapa yang akan diundang serta acara dan lain sebagainya. 

Kegiatan ini adalah kegiatan kita  semua, tetapi memang terfokus di Pagelaran dan kawan kawan di Pagelaran menjadi leading sektor yang utama, tetapi sepenuhnya dibanntu semua anggota di manapun kita berada.  Demikain harapan saya sampaikan dengan segala hormat dan juga permohonan maaf atas segala kekurangan, dan terima kasih atas segala pengertiannya. Fachruddin

Wassalamau alaikum Wr Wb 





   

Wednesday, November 10, 2021

KIRIMAN SANGAT BERHARGA DARI SUNARI

, 

DIA SAHABAT KECILKU 

Senang sekali rasanya mendapat kiriman Youtube dari Sahabatku Sunari, Dia sahabat SD ku, setamat SD kami berpisah. Dia SMP di Pagelaran dan Saya pindah Sekolah melanjut di Tanjungkarang, kelak dirubah jadi Bandar Lampung

Thursday, August 26, 2021

BISAKAH KITA MELIHAT ALLAH

 

WALAUPUN BISA KITA TAK AKAN BISA BERCERITA

Karena Allah sama sekali takada bandingan, maka akan sulit bagi kita membahas sesuatu yang tak ada bandingannya . Demikian juga ada yang mengatakan  tak pernah terjadi dialog antara Rasul dengan Allah ketika terjadipristiwa Israk dan mi,raj. Tetapi mereka yang menolak adanya dialog juga ternyata masih juga melaksanakan sholat sebagai inti dalam pertemuan Israk dan mikraj. Jik kita msih sholat berarti kita akui adanya dialog, karena memang pada saat itu ada tawar ebawar ketika Rasulullah meminta keringanan bagi ummat dalam melaksanakan sholat.

Thursday, April 19, 2018

FACEBOOK akan diblokir pemerintah Indonesia?

PENGGUNAAN Facebook terkait politik di Indonesia terasa marak ketika terjadi Pilkada DKI dan di lanjutkan Pilpres, keduanya sukses menghantar Jokowienjadi Gubernur DKI dan dua thaun kemudian sukses menghantarkan beliau menduduki RI 1.  Sulit menolak bila sukses kedua acara penting itu bukan dikarenakan suksesnya Tim yang dibentuk sebagai Cyber Army, sehingga karpet merah dibentang di Istana Tim Cyber Army yang mendukung laju perjalanan sukses Jokowi, wajah wajah ceria itu nampak jelas tergambar dari rekaman yang viral di dunia maya.  Langkah yang ditempuh Tim relatif tak menghadapi hambatan yang berarti.


Justeru yang paling mengejutkan adalah ketika terjadi Pilkada DKI yang menampilkan Ahok sebagai calon petahana  yang juga didukung oleh Tim Cyber Army yang telah sukses menhantar Presiden Jokowi meraih sukses. Tetapi kali ini Ahok dipecundangi Anis dan Sandy.

Konon katanya pada Pilkada DKI yang lalu telah muncuil kekuatan yang disebut sebut sebagai Tim Muslim Cyber Army (MCA), Walaupun masih banyak yang belum yakin kekalahan Ahok pada Pilkada DKI yang selain Cyber Army Kubu Ahok telah menyaiapkan segala sesuatunya demi kemenangan Pilkada DKI yang diolok sebagai terasa Pilpres itu.

Memang berdasarkan analisa pengamat bahwa kemenangan Ahok di Pilkada DKI itru sangat menentukan kesuksesan Pilpres 2019 yang akan datang. Calon petahana Jokowi akan berpasangan dengan Ahok yang menurut perhitungan awal oleh obrolan bebas dioberbagai sudut, akan menempuh sukses dengan kadar 90% kebenaran yang dsiyakini. Tetapi kekalahan Ahok di Pi;kada DKI dan bahkan vonis penjara selama dua tahun bagi Ahok yang terbukti menista agama akan membuat rencana besar ini menjadi meleset. Rencana setelah pasangan Jokowi Ahok sukses memenangi Pilpres mendatang maka langkah berikutnya Ahok akan maju sebagai Presiden, dan pada saat itulah wajah Indonesia direncanakan betul betul berubah.

Tuesday, February 20, 2018

KAMUS VAN DER TUUK PULAMNG


Oleh Arman A.Z.

Peneliti, Warga Lampung

SETELAH hampir 1,5 abad kemungkinan besar tidak ada ulun Lampung yang pernah melihat bentuk dan isi kamus bahasa Lampung pertama karya Van der Tuuk, kini kamus tersebut telah pulang. Manuskrip hampir 600 halaman itu dibuat Herman Neubronner van der Tuuk selama berada di Lampung (1868—1869). Sekian lama manuskripnya tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden bersama manuskrip-manuskrip Lampung dan daerah lain.
H.N. van der Tuuk asing bagi Indonesia, padahal ia pionir penyelamatan bahasa-bahasa daerah di Nusantara. Van der Tuuk adalah salah satu penyumbang terbesar koleksi Perpustakaan Universitas Leiden. Bukan hanya kamus Lampung, dia juga orang pertama yang membuat kamus bahasa Batak, Bali, dan mengeditori kamus bahasa Melayu versi Von den Wall. Bahkan, info yang bisa jadi belum diketahui publik Indonesia, Van der Tuuk juga membuat semacam kamus atau daftar kata tulis tangan bahasa Minahasa (216 hlm.), Dayak (8 hlm.), dan Sasak (36 hlm.).
Kamus Lampung termasuk yang kurang beruntung karena tidak sempat diterbitkan. Manuskripnya dibawa Van der Tuuk hingga ke Bali. Selama di Pulau Dewata itu, Van der Tuuk tergila-gila menekuni bahasa Bali, hingga menyusun kamus Bali sekitar 3.600 halaman dan baru diterbitkan setelah ia mangkat. Hanya kamus Batak yang diterbitkan semasa Van der Tuuk hidup.
Kamus bahasa Lampung tersimpan di Perpustakaan Univ. Leiden, dengan nomor identifikasi manuskrip “3392 a” dan “3392 b”. Kode “3392 a” terdiri dari dua versi, yaitu hasil pengetikan ulang yang dilakukan Weber dan J. Soegiarto. Pernah ada upaya menerbitkan kamus tersebut, tetapi belum terwujud (sampai sekarang). Naskah ini diserahkan kepada J. Soegiarto, tanggal 29 November 1949, untuk diketik ulang, tetapi upaya ini tidak rampung. Sama halnya dengan Weber. Belum ada referensi lebih jauh mengenai dua nama ini, juga di mana proses penyerahan manuskrip tersebut.
Memulangkan manuskrip asli (mungkin) mustahil, tetapi yang bisa diupayakan adalah mendapatkan repro-nya. Masalahnya, mau atau tidak, dianggap penting atau tidak. Selain itu, instansi/lembaga apa yang semestinya berinisiatif melakukan hal ini.
Upaya melacak keberadaan kamus bahasa Lampung karya Van der Tuuk dirintis sejak 2011, hingga diperoleh info valid bahwa kamus itu ada di Perpustakaan Universitas Leiden. Medio 2013, upaya memulangkan kamus intens dilakukan. Menemui pihak-pihak berkompeten di Kedutaan Besar Belanda, menjalin komunikasi via surel dengan Dr. Marie-Odette Scalliet (Curator of South and Southeast Manuscripts & Rare Books, Special Collections, Leiden University Library), dan dibantu Kees Groeneboer (Kepala Erasmus Taalcentrum di Jakarta, sekaligus penulis buku biografi Van der Tuuk).
Untuk mendapatkan repro kamus Lampung dibutuhkan biaya 653 euro (hampir 11 juta rupiah). Semula, Perpustakaan Universitas Leiden, via Dr. Scalliet sebagai penanggung jawab seluruh koleksi Van der Tuuk memberi kesempatan untuk melihat langsung kamus dan manuskrip-manuskrip Lampung lainnya.
Keterbatasan dana dan nihilnya dukungan membuat hal itu tak terwujud. Pemerintah, lembaga budaya, dan para tokoh yang merasa peduli terhadap bahasa dan budaya Lampung mungkin terlampau sibuk dengan program-programnya hingga tidak punya waktu untuk merespons upaya pemulangan kamus. Biaya repro pun tampaknya terlalu tinggi untuk provinsi termiskin ketiga se-Sumatera ini, juga lembaga-lembaga yang rajin menggelar event berbiaya ratusan juta rupiah. Untunglah sejumlah media massa lokal dan nasional masih berkenan membantu publikasi tentang nasib kamus Lampung karya Van der Tuuk.
Ketika plan A (melihat langsung kamus, bawa pulang repro, dan mendokumentasikan visual) tidak terwujud, tetap diupayakan plan B (kamus tetap harus pulang). Sekali lagi, tanpa dukungan pemerintah atau lembaga budaya di Lampung. Justru Lampung Peduli—lembaga sosial untuk kaum duafa dan tidak bersentuhan langsung dengan ihwal-ihwal kebudayaan—yang mengambil inisiatif membantu proses birokrasi dengan Kedubes Belanda. Semoga ini bukan indikasi bahwa kebudayaan Lampung tergolong “duafa”.
Kedutaan Besar Belanda di Jakarta yang akhirnya membantu biaya repro kamus dan berkoordinasi dengan Perpustakaan Universitas Leiden. Sebelumnya, pihak Perpustakaan Univ. Leiden sempat mengirim surat pemberitahuan (14 November 2013) bahwa sampai tenggat yang ditentukan (13 Oktober 2013) tidak ada pelunasan repro dan mungkin permohonan tersebut dibatalkan.
Mujurlah, Kees Groeneboer berinisiatif menghubungi pihak-pihak terkait, juga meyakinkan kami bahwa kamus itu pasti dikirim. Demikianlah, tanpa gembar-gembor plus hiruk-pikuk, repro kamus Van der Tuuk telah pulang ke Lampung. Dikirim Perpustakaan Universitas Leiden dalam bentuk softfile.
Nomor identifikasi “3392 a” adalah hasil pengetikan ulang Soegiarto dan Weber. Versi Soegiarto, 71 halaman (termasuk kover dan pengantar singkat), hanya abjad A sampai D. Sementara Weber 27 halaman (termasuk kover dan pengantar dan hanya abjad A).
Membandingkan secara sederhana hasil ketik ulang Soegiarto dan Weber (bersumber dari kamus Van der Tuuk dan hanya abjad A—D), ada sejumlah lema atau kata yang tidak ditemukan dalam sejumlah kamus Lampung mutakhir. Dengan kata lain, ada kata yang telah punah dan hanya ada dalam kamus Van der Tuuk.
Kode identifikasi “3392 b” adalah kamus karya Van der Tuuk. Inilah kamus bahasa Lampung pertama. Dikirim dalam format landskap (2 halaman). Yang mengejutkan, kamus tersebut ternyata tulis tangan (pena dan pensil). Layaknya tulisan orang zaman dahulu, sebagian besar sulit dibaca. Diperlukan ketelitian jika ingin membacanya. Bisa jadi inilah penyebab Soegiarto dan Weber tidak merampungkan transliterasi kamus tersebut. Ada yang ditulis horizontal, vertikal, bahkan elips. Ada aksara Lampung, coretan di sana-sini, di bagian akhir ada cerita rakyat (Dayang Rindu dan Anak Dalom), prosa, pantun, sketsa senjata tradisional Lampung, alat musik Lampung, sosok wajah, dan di bagian akhir salinan surat dari/untuk Van der Tuuk bertanggal 2 Februari 1869.
Apa pun bentuknya, keberadaan kamus ini penting mengingat aspek budaya, sejarah, dan bahasa Lampung. Hemat kami, kamus Van der Tuuk adalah salah satu harga diri Lampung yang sekian lama ditelantarkan. Lampung patut mengapresiasi kerja sama dan respons cepat Kedutaan Besar Belanda, Perpustakaan Universitas Leiden, Lampung Peduli, dan Kees Groeneboer.
Secara pribadi saya wajib berterima kasih kepada segelintir kawan yang telah membantu upaya pemulangan kamus Van der Tuuk. Dukungan semangat, moral, materi, keraguan, bahkan sinisme adalah bagian dari proses tersebut yang telah saya terima dengan lapang dada.
Masih banyak manuskrip Lampung hasil inventarisasi Van der Tuuk, seperti cerita rakyat, hiwang, tangguh, bandung, transliterasi naskah dari bambu dan kulit pohon, juga kajian-kajian linguistik bahasa Lampung dan relasinya dengan bahasa-bahasa daerah di Nusantara. Bisa jadi manuskrip-manuskrip itu tidak ada lagi salinannya di Lampung. Mudah-mudahan suatu saat manuskrip-manuskrip itu pun bisa pulang.
Mengutip Chairil Anwar: kerja belum selesai, belum apa-apa. Saya berharap kelak ada pihak-pihak lain yang berinisiatif menindaklanjuti nasib kamus tersebut, juga naskah-naskah Van der Tuuk lainnya mengenai bahasa Lampung, semisal meneliti atau melanjutkan upaya yang telah dirintis Soegiarto dan Weber.
Tentu dibutuhkan peran dan kerja sama banyak pihak seperti handwriting expert, pakar bahasa Lampung, pakar bahasa Belanda, dan lainnya. Selain itu, perlu proses panjang untuk menghargai jasa Van der Tuuk—linguis dan leksikografer yang dilupakan-bagi bahasa Lampung dan bahasa-bahasa Nusantara.
Van der Tuuk memang tidak butuh penghargaan. Makamnya di Peneleh (Surabaya) selain lapuk digerus waktu, juga tidak banyak diketahui orang. Tinggal bagaimana bangsa ini menyikapi jasanya melestarikan bahasa daerah Nusantara. Tabik.

Monday, December 25, 2017

Tuntunan Akidah Islam Semakin Dirasakan Perlu Bagi Generasi Muda.

Generasi yang akan datang selain memiliki penguasaan keilmuan yang memadai serta berbagai keterampilan yang mendukung, maka yang paling penting adalah memeiliki kepenganutan terhadap akidah yang benar. Tampa tuntunan akidah yang benar maka wawasan keilmuan serta keterampilan yang dimiliki justeru akan memperparah keadaan mereka karena bisa saja ditunggangi oleh berbagai kepentingan yang justeru akan saling menghancurkan. Demikian disampaikan oleh Dr. (C) Bainal Huri Halim, M.Kom. Dosen Universitas Tulangbawang Bandar Lampung dalam materi Khutbah yang disampaikannya selaku Khatib pada sholat Jum,at di Masjid Al Bana  komplek Kampus Poli Teknik Negeri Lampung 22 Desember 2017 yang lalu, dengan Thema Insan Bertaqwa Wajib melahirkan Generasi Muda Yang Inovatip Berkualitas dan Mandiri"

Sekolah dan kampus serta Pemerintah sesungguhnya wajib memfasilitasi agar terselenggaranya kesempatan yang luas bagi setiap pelajar/ mahasiswa untuk mengembangkan dirinya seluas luasnya, perhatian serta pemberian fasilitas baik dalam bentuk sarana prasarana maupun tenaga pembimbing yang memberikan bimbingan secara bertahap, terencana dan terarah dimaksudkan segera tercapainya maksud agar terwujudnya generasi yang cerdas ( smart ), berpengetahuan ( knowledge ), dan unggul (Exellent) sesuai dengan kaidah dan akidah Islamiyah.

Sholat Jum'at yang diikuti oleh segenap civitas academica itu sangat tertarik dengan thema yang disampaikan, sehingga seusai sholat diselenggarakan ramah tamah yang dihadiri oleh  Dr. Ir. Surono.MT selaku Direktur Politeknik Negeri Lampung (Polinela ) Maka terselenggaralah Sresehan & Ramah Tamah bersama Dr. Dedy Hermawan , M.Si , juga Bu Rahayu Sulistiowati ,M.Si dan Prof. Dr.YULIANTO , dan Bu Selvi Diana Melinda , S.A.N. , MA. Serta beberapa Dosen  dalam Silaturahim tersebut Dr. Dedy Hermawan, M.Si , menyampaikan semoga kedepan di harapkan terjalin nya peningkatan kemitraan di bidang Akademik yang berkesinambungan.

Sumber : Karo Humas UTB melapor kan dari Kampus UNILA 

Thursday, October 12, 2017

Bali old video 13: 1935 Legong: Dance of the Vigins



Menurut penjelasan gambar ini dibuat tahun 1935, artinya 10 tahun menjelang Kemerdekaan Indonesia yaitu 17 Agustus 1945. Lalu bagaimana pula Wanita Lampung tahun 1815, agak sulit bagi kita karena keterbatasan data dalam bentuk gambar yang menggambarkan kleseharian penduduk Lampung.

GUNDIK dan PERCERAIAN



Lappung Beni | Fajar Sumatera | Senin, 9 Oktober 2017 | Halaman 1

Frieda Amran

Antropolog, Pemerhati Sejarah Sosial Budaya Bermukim di Beland

BAGI lelaki Lampong, memelihara selir atau gundik bukanlah hal yang asing. Selain dilayani oleh isteri-isteri mereka, para kepala adat dan orang kaya biasa pula (minta) dilayani oleh budak-budak perempuan atau para ‘lambang’. Tak jarang, dari hubungan-hubungan ini lahir anak-anak yang dapat diakui sebagai anak sah dengan menyembelih kerbau dan kambing serta menyelenggarakan perhelatan makan bersama. Dengan demikian, ada lelaki-lelaki Lampong yang memiliki dan menanggung banyak isteri, terdiri dari keempat isteri yang dinikahinya sendiri, isteri-isteri yang diwarisinya dari kerabatnya yang sudah meninggal dan ditambah lagi dengan gundik-gundiknya.
Endika Toewan, seorang kakek tua yang memimpin kampung Boemi Aboeng (di daerah Toelang Bawang) memiliki 14 orang isteri dan gundik. Beberapa lelaki lain memiliki isteri dan gundik yang sama banyaknya.
Biasanya bila seorang lelaki hendak menjadikan seorang perempuan selir atau gundiknya, ia menyembelih beberapa ekor unggas dan menyelenggarakan perhelatan makan bersama. Ini sudah cukup untuk mengumumkan dan mensahkan hubungannya dengan seorang perempuan. Ketika lelaki itu meninggal dunia, gundik-gundik ini pun diwariskan kepada kakak, adik atau kemenakan-kemenakannya yang lelaki (‘samalang’).
Dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Lampong, penduduk Telok Betong dan penduduk Boerne di Teluk Samangka lebih menampilkan diri sebagai pemeluk agama Islam. Francis menduga bahwa sikap ini muncul karena ketakutan lama terhadap kekuasaan Kesultanan Bantam. Tampaknya tak banyak yang tahu bahwa kesultanan itu sudah ditaklukkan oleh Belanda. Mereka tampaknya enggan pula disebut sebagai orang ‘kafier’ oleh pendatang-pendatang yang selalu saja mendatangi daerah-daerah ini.
Di daerah-daerah ini, terkadang tuntutan cerai yang diajukan oleh seorang perempuan, dikabulkan. Walau sebetulnya sesuai hukum Islam—sesuai yang diceritakan kepada Francis, anak-anak dari perkawinan yang terputus oleh perceraian harus dibagi di antara suami dan isteri itu, nyatanya hal itu tidak terjadi. Lebih sering, anak-anak itu tetap menjadi hak dan tanggung jawab sang (mantan) suami.
Bila terjadi perceraian, uang ‘djoedjoer’ yang telah diserahkan seorang lelaki kepada ayahanda calon isterinya atau ahli waris mertuanya itu wajib dikembalikan oleh perempuan yang bercerai. Benda dan barang yang dibawa perempuan itu ketika menikah, berhak diambilnya kembali. Akan tetapi, segala sesuatu yang diperoleh pasangan suami-isteri itu selama rentang pernikahan mereka, tetap dianggap sebagai bagian sang suami.
Di daerah Toelang Bawang, Sipoeti dan Sekampong, baik yang terdapat di pesisir Telok Betong maupun yang terdapat di daerah Samangka, tak seorang pun yang ditanyai Francis pernah menyaksikan atau mengalami terjadinya sebuah perceraian. Namun, cerita mengenai perceraian terdengar di daerah Toelang Bawang dan Sipoeti.
Jauh sebelum pemuda-pemuda Lampong terpikir untuk jatuh cinta dan menikah, mereka harus menjalani satu hal: sunat. Anak-anak keluarga—keluarga kaya biasanya disunat ketika berusia di antara 7 dan 10 tahun. Anak-anak keluarga yang kurang berada disunat pada usia lebih tua atau bahkan, terkadang tidak disunat sama sekali. Penduduk yang tinggal di pedalaman Lampong—orang Aboeng—tidak menganggap penyunatan sebagai aturan di dalam adat.
Seperti juga di Pulau Jawa, sunat di Lampong dilakukan oleh dukun. Anak-anak lelaki disunat dengan menggunakan pisau yang sangat tajam; anak-anak perempuan—yang di Lampong, jarang sekali terjadi, disunat dengan menggunakan gunting. Sebagai imbalan, untuk penyunatan anak lelaki, seorang dukun lelaki menerima 6 sampai 12 ‘oewang’ (satu ‘oewang’ bernilai 10 sen). Untuk menyunat anak perempuan, seorang dukun perempuan menerima imbalan sebesar 3 ‘oewang’.
Dalam usia lanjut, beberapa lagi menyunatkan diri untuk kedua kalinya. Hal ini dilakukan dengan harapan untuk dapat mengembalikan keperkasaan mereka di masa lalu. Salah seorang yang melakukan ini adalah kapala kampong Boemi Aboeng, Endika Toewan (yang namanya disebutkan di atas). Francis menduga bahwa Endika Toewan bukanlah satu-satunya lelaki yang melakukan sunat kedua itu. Pasti banyak lelaki yang mendahuluinya. Pasti banyak pula lelaki yang mengikuti jejaknya; apalagi setelah salah seorang isterinya—setelah sunat kedua itu—berhasil melahirkan seorang anak perempuan. Kelahiran anak perempuan itu dipandang sebagai semacam mukjizat oleh warga kampung. []
Pustaka Acuan:
E. Francis. Herinneringen uit den levensloop van een indisch’ ambtenaar van 1815 tot 1851 medegedeeld in brieven door E. Francis. Eerste Deel. Batavia: HM van Dorp. 1856.

Sunday, September 10, 2017

SURAT KEPADA ISBEDY STIAWAN ZS

BERDOSAKAH MENYELIPKAN INFORMASI, MOTIVASI ATAU INSPIRASI DALAM KARYA SENI.



Ketika saya menghidupkan laptop sebenarnya saya tak tahu ingin menulis apa dan di mana, ketika sumua sudah siap baru saya kepikiran bahwa saya mau menulis surat kepada Isbedy Setiawan. Saya mengenal beliau sudah lama sekali pada saat itu yang saya ingat bahwa postur tubuhnya kurus, melihat fisiknya pada saat itu orang pasti mengatakan bahwa profesi beliau adalah wartawan, karena saya jumpa beliau diberbagai even. Orang belum tergirig untuk mengatakan bahwa beliau itu seniman, karena belum melekat tanda tanda fisik. Setidaknya saya pernah berfikir seperti itu, belakangan baru saya tahu persis bahwa beliau adalah penyair. Artinya kami sebenarnya ternyata berada di dua area yang berbeda walaupun sama sama pecinta kebudayaan, Pada saat itu saya adalah tenaga peneliti di tempat saya bekerja pad saat itu kantor saya bernama Kanwil Depdikbud Provinsi Lampung.


Secara kumat kumatan saya menikmati karya sastra. Masa remaja saya dahulu sesuai dengan zamannya, ketika mulai memiliki rasa cinta kepada seseorang, yaitu teman sekolah maka otomatis kami sebagai penyair, minimal penyair jadi jadian. Semua lirik lagu lagu mesra dicatat dan dihapal. setiap hari membutuhkan pulpen dan kertas kosong untuk ditulisi dan dan digambari sesuai dengan gejolak rasa pada saat saat itu. Cukup banyak sair yang terselesaikan tetapi jauh dari sempurna, karena tulisan itu sangat terikat kepada seseorang yang yang jelas sosoknya. Yang membuat syair tak kreatif.

Ada sesuatu yang sudah lama ingin saya katakan kepada Isbedy Stiawan bahwa Nabi Muhammad SAW sebenarnya memiliki ketertarikan terhadap syair sehingga muncullah hadis yang berbunyi Inna minasy syi'ri lihikmatan, Inna minal bayan lisyihron Sesungguhnya  sesungguhnya diantara syair itu ada hikmah dan sesungguhnya diantara bayah itu ada sihir. Apa asbabunnuzulnya.

Penyebab munculnya hadits (asbabul wurud) ini adalah terjadi di sutu peperangan terdapat sejumlah balatentara yang mengalami luka luka. Yang membantu membalut luka mereka, tetapi darah tetap sajamengalir, hingga datang seseorang yang bernama Hasan Ibnu Tsabit, dia  meminta diberikan kapur barus, kapur barus itu ditabukannya di bagian yang luka, tidak berapa lama kemudian darah itu berhenti mengalir, bahkan lukapun mengering.

Rasulullah Muhammad SAW. menyaksikan itu semua lalu Beliau bertanya kepada Hasan Ibnu Tsabit : Dari mana kamu tahu hal itu ? Jawan Hasan Dari Pujangga. Kata Hasan.
Inilah bait syair itu :
... di malam aku bertemu dengannya, aku berpikir meninggalkannya
Maka air mata komeaku mengalir bagaikan getah andam
segera aku usap air mataku dengan pipinya
Sebab biasanya kapur barus menghentikan darah.

Rasul mengatakan bahwa "Sesungguhnya diantara syair ada hikmah"

Seperti yang kita ketahui bahwa sebelum Muhammad SAW berhasil mengembangkan Islam di Kota Makkah, sekalipun disebut masa kegelapan, tetapi sesungguhnya masyarakat Makkah pada saat itu memiliki kemajuan sastra yang luar biasa. Mungkin kita kurang terampil menikmati syair tersebut diatas, tetapi yang tertangkap oleh saya, ternyata penyair yang karyanya ditampilkan di atas, memasukkan informasi obat herbap pengering luka di ditengah tengah keindahan syairnya.

Saya tidak tahu apakah juga Sahabatku Isbedi Stiawan ZS berkenan menyelipkan sesuatu seperti informasi, dakwah atau inspirasi ke dalam karya seninya. Sewaktu duduk di bangku kuliah saya dan beberapa orang teman sempat berdebat dengan Kanda Syu'bah Asa, tentang keharusan menyelipkan kalimat titipan dalam karya seni, Kanda Syu'bah Asya yang memerankan tokoh Aidit pada film Penerangan G 30 S PKI itu justeru menolak dengan alasan De L'art For L'art, Seni adalah untuk seni, jangan disisipkan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan seni. Atau Kanda Syu'bah Asya tak ingin ekspressi seninya dibatasi kebebasannya. Entahlah.

Sekali lagi saya tidak tahu apakah Sahabatku Isbedi Stiawan sama dengan Kanda Syu'bah Asya, tetapi menurut hemat saya, menyelipkan informasi bahwa kapur barus bisa mengeringkan darah manakala dalam keadaan darurat perang dan keterbatasan obat ternyata sangat informatif sekali dan bahkan Rasulullah SAW mendukung dengan mengatakan bahwa diantara syair bisa diselipkan hikmah dan tidak merusah seni. Sebagaimana kita tahu bahwa penduduk Makkah mengakui bahwa al-Quran memiliki nilai seni yang demikian tinggi. Saya nyatakan saya berseberangan dengan Kanda Syu'bah Asya, tetapi bila filmnya diputarkan maka saya akan menonton Film G 30 S PKI, karena Kanda Syu'bah Asya konon berhasil memerakan perannya sebagai DN Aidit sebagai Ketua Partai Komunis Indonesia itu. Silakan Kanda Syu'bah Asya mengadegankan diri se Aidit Aiditnya, sebatas itu tapi jangan mengadegankan sesuatu yang tak layak dotonton.


Thursday, September 7, 2017

DATA TUTUR DAN CARA MENYIKAPINYA

Secara kebetulan saya sempat berkenalan dan berkomunikasi dengan baik dengan beberapa orang peneliti arkeologi dari berbagai spesialis, ada yang prasejarah, klasik, modern dan Islam dan saya juga pernah mengikuti mereka melakukan ekskavasi dan berusaha menemui beberapa orang pimpinan komunitas Lampung. Yang ingin aya tegaskan sebelumnya adalah bahwa saya bukan argeolog dan bukan pula sejarawan, melainkan pecinta budaya Lampung karena saya dibesarkan di lingkungan komunitas Lampung. Cinta adalah sesuatu yang tak betepi, demikian kira kira pikiran yang selalu berkecamuk di otak saya.

Ketika saya melihat langsung aktivitas mereka melakukan penelituan secara arkeologis maka salah satu aktivitas mereka adalah mengumpulkan data tutur. Data tutur adalah data yang dihimpun dari sejumlah orang yang ada di sekitar situs yang diteliti, Narasumber sangat bergam tentang kemampuan komunikasinya maupun akademisnya, sehingga bisa dibayangkan betapa beranekaragamnya data informasi itu, ibarat lautan maka penelitian menampung semua yang terbawa oleh segala arua. Bagi oeneliti di luar arkeolog, bisa saja menyebutnya data sampah, tetapi tidak bagi penelitiuan arkeologis yang sedang saya amati itu.

Data Sampah ?. Bukan !.

Walaupun data tutur itu tak layak diketengahkan dalam Pertemuan Tahunan Arkeolog Indonesia, tetapi ingin saya katakan bahwa itu bukan data sampah. Karena data itu untuk membantu para arkeolog memahami sikap dan respon masyarakat sekitar situs. Data tutur terkait situs itu memang beranekaragam, bahkan cenderung ngarang, karangan dengan maksud sebagai pendidikan bagi para pimpinan kepada para anggota komunitas, sehingga ceritera itu selalu diterimakan dari generasi ke generasi, dan biasanya manakala cerita itu dianggap benar oleh komunitas itu maka situs ityui ternyata lebih terpelihara, karena ada kebanggan bagi komunitas setempat. Saya pernah mengunjungi situis Benteng di Bengkulu, bagi masyarakat awam maka akan sia sia saja berkunjung ke situs itu tampa adanya cerita bohong tentang situs itu, walaupu memang cerita sampah bagi peneliti arkeolog yang kurang bermurah hati.

Cerita sejarah di lingkungan arkeolog harus bearawal mula dari diketemukannya situs peninggalan sejarah, para erkeolog yang terdiri dari berbagai spesialisasi itu akan membantu masyarakat bagaimana cara meluruskan cerita sekitar situs itu, bagaimana posisinya situs itu diletakkan, nama benda, ukuran benda, kegunaan serta paduk tahun berapa para arkeolog itu akan membantu meluruskannya. Tetai sejauh ini sepanjang yang saya tahu para peneliti arkeolog tak akan mengganggui data tutur itu seberapa melencengnya.

Untuk Kepentingan Khusus.

Data tutur sebagain besar adalah ngarang dan sulit dipertanggungjawabkan dalam penelitian sebuah situs, apalagi situs prasejarah umapamnanya, maka rentang waktu yang demikian lama, maka data tutur yang berkembang di masyarakat sudah pasti mengalami penyelewengan yang demikian parah. Tetapi biasanya ceritera turun temurun itu diciptakan untuk merekat persatuan. Atau di Benteng Kota Bengkulu ceritera bohong juga dikarang untuk menyemarakkan perpariwisataan di Bengkulu.
Hanya saja data tutur iru umumnya sesuatu yang tak layak diketengahkan dalam forum yang menginginkan kebenaran, artinya sebaiknya data tutur itu untuk dikalangan internal saja. Karena bangsa ini justeru akan hancur manakala dicatat identitasnya dari cerita yang tak bertanggungjawab secara kesejarahan dan ilmu pengetahuan. Walauoun cerita cerita itu sudah melagenda, maka ilmu sejarah tajk akan menerimanya sebagai bukti sejarah, apalagidata tutur yang lebih sulit mempertanggungjawabkannya.

Terima kasih teman teman arkeolog yang dahulu sempat mengajak aku bersahabat, ada saja gunanya ilmu dari kalian, bagiku.

Tuesday, August 29, 2017

Gamol Pering Untuk Mengangkat Musik Gamol Lampung



Perlu saya klarifikasi bahwa saya tidak memihak salah satu antara apakah itu Cetik atau Gamol, antara Raja Cetim dengan Hasyum K. Gamolan, bagi saya kedua duanya sebuah realita yang pernah muncul. Dan yang paling penting bagi saya adalah bagaimana musik yang tergolong musik perkusi ini bisa berkembang karena sesungguhnya gamol Lampung itu ada di Lampung, yang kesemuanya harus terangkat bukan hanya Musik Perkusi Lampung Barat, karena di daerah lain pun ada, di seantero daerah Lampung tercinta ini, jadi keberadaannya bukan untuk saling mematikan atau meniadakan, tetapi sebaliknya untuk saling mengangkat, yang pada saatnya adalah martabat daerah yang kita junjung. Mengapa gamol Lampung asal Lambar lebih mudah dan praktis dikembangkan. Yaitu adalah karena pelaku seniman musik perkusi Lampung ini hingga sekarang masih hidup dan bahan baku masih tersedia.

Bahan Gamol Pering.

Bahan gampl pering itu ada disekitar kita, karena dia terbuat dari bambu yang bagus, ukuran bagusnya adalah kekukuhan, kepadatan serta keawetanya. dan ada satu lagu yang harus menjadi catatan, bahwa babu yang dijadikan bahan gamol itu adalah bambu yang mati karena tuanya. Bambu bahan gamol adalah bambu yang mati dalam keadaan masih tegak di tempatnya, dan matinya karena unsur ketuaan, bukan mati karena ditebang atau mati karena terserang penyakit atau virus dan lain sebagainya sehingga mengakibatkan kematian seblum mengalami kematangan. Bambu dalam kondisi semacam itu adalah bambu yang tumbuh dalam rumpun yang belum banyak mengalami pemberdayaan sehingga terancam penebahngan yang terburu buru. Bambu semacam itu sejak dahulu memang banyak tumbuh di daerah Lampung Barat.

Ada daerah yang jarang terdapat bambu tuwa karena ditebang dengan berbagai alasan, ada juga daerah yang banyak bambu tuanya tetapi kondisi bambu kurang kuat, padat, tebal dan awet. Ada juga daerah yang ditumbuhi bambu yang baik dan memenuhi persyaratan untuk dibuat sebagai bahan gamol pering, tetapi bambu itu banyak ditebang sebagai bahan membuat bagan oleh nelayan di laut, sehingga bambu bambu itu tidak sempat matio di rumpunnya karena ketuaan, karena belum terlalu tuapun telah ditebang, karena kebutuhan nelayan menggangti bagan mereka yang pada musim musim tertentu terncam dihanyukan oleh ombak yang cukup besar dan deras.

Proses Pembuatan Gamolan Pering.

Tidak ada kesulitan untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan gamol Pering Lampung Barat ini, karena masih relatif mudah menemui pengrajin gamol ini. Tetapi walaupun mereka bisa  menjelaskan  bagaimana praktik proses  pembuatan gamolan bahkan mereka terampil memainkan. Karena pengrajin gamol pada umumnya sekaligus sebagai seniman musik gamol di maksud. Tetapi tentu saja pihak peneliti, Harus mereka terlebih dahulu apa adanya, sebagai data awal. Mungkin terjadi perbedaan penggunaan kata atau istilah yang biasa diucapkan oleh para pelaku yang sedang diteliti, hal tersebut dalam rangka mencari data sebanyak mungkin dan selengkap mungkin.

Perlu dicatat selengkap mungkin bagaimana proses  mereka

Proses dan Perkembangan Penggunaan.

Tinjauan Prosepek Pengembangan.

Sunday, August 27, 2017

CETIK DAN GAMOL SERTA TOKOHNYA



Masyarakat Lampung terlebih Lampung Barat merasa bangga dengan semakin dikenal dan senanginya musik perkusi bambu Lampung yang semula dikenal orang sebagai gamol Lampung, lalu muncul kembali dan lebih mempopulerkan nama Cetik, lalu muncul lagi nampak lebih konsepsional karena sudah diuji nilai estetis akademisnya dengan nama gamolan atau gampl Lampong dengan tokoh Hasyim Kan Gamolan. Ada dua tokoh atau yang ditokohkan dalam prihal musik perkusi Lampunh ini ini yaitu Raja Cetik dan Gamol Lampung. Saya sebenarnya tidak tertarik membela dan menidakkan salah satunya. Di mata saya yang awam tentang kesenian dan kepentingan dunia akademis, tetapi ingin saya katakan bahwa dunia akademis itu setelah ada thesa maka akan ada antitesa untuk memnculkan thesa baru. Secara seni bagi saya kita tidak harus seperti itu, karena di mata kami yang awam, alat perkusi yang satu telah melahirkan dua orang tokoh yaitu Mamak Lil sebagai Raja Cetik dan Hasyim Kan Gamolan sebagai tokohnya, dan diterima oleh masyarakat.

Secara pribadi saya belum berani mengaku ngaku memiliki kedekatan dengan keduanya, tetapi saya akan mengaku saya mengenal keduanya, karena keduanya karena keduanya memiliki kepopuleran dan saya jelas memberikan respon terhadap keduanya secara wajar, karena saya pernah ditugaskan oleh kantor sebagai tenaga peneliti kebudayaan, dan juga pernah ditugaskan sebagai vocal point budaya Lampung khususnya  tentang Piil Pesenggiri. Walaupun sebenarnya saya bukan arkeolog, seniman atau semacamnya, latar belakang pendidikan saya adalah Filsafat. Tetapi saya merasa sangat tertolong dalam melaksanakan tugas saya oleh disiplin ilmu yang saya dalami. Banyak teman teman yang sebenarnya diberikan tugas dan kesempatan yang sama tetapi mereka merasa kesulitan menggoreskan berbagai laporannya. Kelebihan saya dibanding mereka hanya soal kecintaan dan respon terhadap apa yang ditugaskan kepada kami itu.

Dalam meneliti budaya Lampung saya sering menempatkan diri sebagai orang luar dari komunitas komunitas yang ada, karena ada kebiasaan pendukung budaya Lampung ini seperti saling berebut sebagai siapa yang paling Lampung diantara mereka sesama orang Lampung. Saya ingin mengetakan seperti itu saja, karena saya sangat mencibtai Lampung. Walaupun tidak sepersis kasus cetik dan gamol. Tetapi sikap pembelaan dalam masalah ini seperti terulang kembali seperti kami sedang aktip meneliti. Itulah pula sebabnya dalam penelitian kami diberi label sebagai kegiatan inventarisasi dan tidak diwajibakan membuat kesimpulan.

Jika ada dua tokoh yang kita kenal dalam perkusi Lampung ini, maka tokoh Raja Cetik lebih memilih diam, apalagi dia merasa bahwa gelar rajanya didapat dari orang lain, yang prosedurnyapun dia tak tahu, apakah sesuao SOP atau tidak, dan bahkan dia tak tahu apakah ada SOP dalam pemberian gelar tak resmi itu, keadaan seperti ini membuat dia tak berdaya bila ingin membela diri, tetapi nampaknya dia tidak memiliki keinginan untuk membela diri. Sebenarnya Mamak Lil adalah pelaku seni perkusi ini, Tentang cara menabuh memang nampaknya dia sangat menonjol se Lampung Barat. Mamak Lil itu seorang seniman perkusi Lampung, jika orang ingin meneliti alat perkusi ini maka Mamak Lil siap menjadi narasumber, mulai dari cara memilih bambu, cara membuat, dan cara menabuhnya, walaupun beliau kurang mahir menterjemahkan irama musik ini secara somisasi, tetapi beliau bisa menunjukkan cara menabuh secara klear sehingga seniman akademik bisa mendapatkan nada solmisasi dari beliau secara sempurna dan utuh. Disamping itu Mamak Lil bisa bercerita banyak tentang lat musik perkusi yang satu ini seorang diri, sehingga beliau tak berkutik ketika digelari Si Raja Cetik.

Berbeda dengan Hasyim Kan Gamolan, beliau nampaknya terdorong untuk berusaha menjelaskan akan kebenaran teorinya di bangku Perguruan Tinggi, karena beliau adalah akademisi yang sebelumnya telah meneliti, menulis dan mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya sehingga beliau diperbolehkan menyandang gelar kesarjanaannya. Prestasi yang demikian bagis di dunia seni itu maka sangat pantas bila beliau menjadi tokoh yang sangat populer dalam dunia perkusi Lampung ini. Jelas belum ada duanya. Tetapi kita tak begitu saja mengerti mengapa belaiu sangat alergi mendengar kata Cetik itu. Mungkin nama ini sengaja tak dimasukkan dalam thesis atau disertasinya sehingga pasca pengujian thesis atau disertasinya orang seperti tak boleh lagi menyebut nyebut nama cetik itu.

Karena beliau berusaha membantah setiap ucapan celetukan di WA saya merasa prihatin, saya pernah memiliki nasib yang sama ketika semua tulisan tulisan saya yang memang saya peruntukkan di komunitas yang ada sebagian Provinsi se Indonesia itu. Mereka biasa melontarkan istilah dan respon yang sedianya hanya ingin lucu lucu saja, lalu bila kita tanggapi secara serius maka kita akan kehabisan stamina, karena saya adalah sebagai penulis maka sasaran tembak tentu saja ditujukan kepada saya secara pribadi, akhirnya saya tak inginmelayani mereka, bila memang ada yang tidak sependapat dengan tulisan saya, saya persilakan untuk menulis dan saya menjamin akan dimuat di blog yang sama. Saya ingin menganjurkan Hasyim Kan Gamolan untuk tidak melayani celetukan celetukan itu. Tetapi belakangan justeru saya digolongkan sebagai orang yang mengalami rabun dekat dan gagal paham tentang Cetik dan Gamol ini.

Saya ingin katakan TERSERAH KAMULAH. Saya tak ingin pedulikan ungkapan yang cuma celetukan,  bagi saya yang penting musik perkusi Lampung mendapat kemajuan, saya jadi segan untuk menggunakan kata cetik atau gamol,  khawatir  ada yang kurang berkenan.




Friday, August 25, 2017

INGIN MENGABDI UNTUK PEMBINAAN BAHASA LAMPUNG

MENAWARKAN MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA LAMPUNG

Secara tidak terencana saya jumpa kembali dengan seorang sahabat yang sudah belasan tahun lalu tak jumpa, sebanarnya kami berada pada komunitas tertentu, yang dalam komunitas itu saya sering diminta untuk maju memberikan pencrahan dan motivasi untuk kemajuan dan perkembangan komunitas itu mestinya. Tetapi dia mengatakan bahwa sekalipun  sudah lama tak jumpa tetapi sejatinya dia merasa dekat karena sejak dahulu dia selalu mengikuti tulisan tulisan yang saya publikasikan melalui blog, dia menjadi senang katanya membaca blog itu karena bernuansa berbeda dengan tulisan tulisan lain yang ditampilkan oleh beberapa dari komunitas kami itu.

Seperti biasa pembicaraan ke Barat - Timur, hingga suatu tahap pembicaraan kami bicara tentang apa yang saya perbuat di hari hari tua, Saya katakan bahwa selain tetap mengelola beberapa blog, khususnya blog tentang komunitas kami saya ceritakan contoh yaoutube yang saya buat terkait beberapa hal, dan yang terakhir saya juga menceritakan ketertarikan saya untuk membuat cuplikan lagu sebagai sekedar bahan komunikasi antar sesama keluarga terutama yang telah jauh dan lama merantau dan anak anaknya mulai jarang mendengar bahasa Lampung. Baru baru beberapa lagu yang saya buatkan videonya, dan berniat untuk meningkatkan kualitas pembuatan video dan yaoutube agar nampak lebih provesional, karena banyak karya saya yang nampak indah di layar HP, tetapi ternyata beranbtakan di layar TV,

Perangkat Media Pembelajaran Bahasa Lampung.

Pembicaraan semakin seru karena dia ternyata sebelumnya telah mempersiapkan perangkat media pembelajaran bahasa Lampung, yang sesungguhnya telah dia tekuni sejak lama, dia ingin pembelajaran bahasa Lampung diajarkan dengan menggunakan media yang modern untuk percepatan dalam proses pembelajaran. Walaupun dia bukan asli Lampung tetapi dia tertarik dengan bahasa Lampung dan ingin berpartisipasi dalam pengembangan pembelajaran bahasa Lampungdi tingkat dasar dan menengah dan juga bisa diajarkan bagi mahasasiwa yang dipersiapkan untuk menjadi guru Bahasa Lampung.

Yang sudah terbilang selesai adalah penyusunan perangkat media pembelajaran, langkah berikutnya adalah materi atau bahan ajarnya. bersama perekaman suara, ini baru tergarap sebagian. Materi, bahan ajar dan suara tentu dilaksanakan  kemudian untuk disesuaikannya dengan kurikulum dan silabus yang berlaku. Baru kemudian diajarkan kepada para guru atau mahasiswa jusan bahasa Lampung  untuk bagaimana mempraktekkan pembelajaran yang menggunakan prangkat pembelajaran ini.

Dengan menggunakan srana ini maka guru bisa dengan cepat melaksanakan proses pembelajaran  dengan hasil yang cepat serta daya serap yang lebih banyak. Sehingga pembelajaran bahasa Lampung akan menghasilkan anak anak yang semula tidak pandai bercakap cakap dengan bahasa Lampung menjadi memiliki kemampuan bercakap cakap dengan bahasa Lampunh, bukan hanya sejkedar belajar aksara Lampung, selain aksara Lampung, juga yang lebih penting adalah bahasa Lampung. Perangkat ini bisa digunakanuntuk dialek A dan juga tersedia untuk dialek O. Tentu masing masing daerah akan memilih manayang mayoritas dan mana yang pengajarnya siap. Karena perangkat ini bukan sebatas belajar aksara, terapi juga bahasa.

Inspirasi Gagasan Pembelajaran Modern.

Mengingat bahwa masyarakat Lampung penutur bahasa Lampung bukanlah mayoritas di Lampung, artinya bahwa sebagian besar siswa yang ada di kota bukan pemakai bahasa Lampung, maka pembelajaran bahasa Lampung harus dibantu dengan prangkat  Pembelajaran bahasa Jawa di Jawa saja masih menggunakan perangkat media pembelajaran, agar proses belajar mengajar berlangsung secara efektif efissien. Dalam pembelajaran kita harus menargetkan daya serap siswa setinggi tingginya, dan menjadi ingatan yang sesetiya setiyanya. Dan dengan alat ukur yang sangat mudah dan nyata.

Dan dengan penggunaan media pembelajaran itu maka menargetkan pembelajaran bahasa Lampung hingga mengerti dan terampil berbahasa Lampung adalah sangat logis. Pilihan daerah pulau Jawa menjadi incaran pertimbangan karena di Jawa segalanya relatif terselenggara dengan baik. Dari suvey yang diselenggarakan maka perlu disampaikan bahwa perangkat pembelajaran dengan menngunakan teknologi ini menjadi pilihan.

Pertimbangan Strategis.

Bahasa Lampung adalah salah satu bahasa Ibu yang mulai terancam hilang, karena penutur bahasa Lampung semakin sedikit, juga belum diketemukan metaode dan cara pembelajaran yang benar benar modern. Pada saat ini baru muncul Kamus Bahasa Lampung, Jelas itu saja belum cukup. Dibutuhkan perangkat media pembelajaran bahsa Lampung yang canggih. Cara menulis, cara membaca dan suara dapat ditampilkan dalam media ini. Bukan hanya putra putri orang Lampung saja yang bisa belajar dengan alat ini, tetapi siapapun bisa mengikutinya, dan bisa memahami serta terampil berbahasa.

Dengan keterampilan berbahasa Lampung maka nilai nilai budaya Lampung dapat kita pelajarai dan selanjutnya bisa dipertahankan. Yang manakala perangkat ini bisa kita manfaatkan dan digunakan secara maksimal maka pembelajaran bahasa Lampung mendatang bukan hanya sebatas dapat menggunakan aksara Lampung sepatah sepatah, melainkan kita dapat memprogramkan sesuatu yang lebih nyata dalam upaya memperthankan sebuah nilai bilai, yaitu nilai nilai budaya Lampung.

Dengan tergalinya nilai nilai budaya Lampung, maka kita akan memungkinkan menggali potensi daerah dan lingkungan Lampung untuk mengupayakan kesejahteraan masyarakat Lampung, karena kita sangat memungkinkan membangun Lampung dengan tidak mencerabut dari budaya Lampung. Karena budaya Lampung adalah sesuatu yang harus kita pertehankan, kita gali dan kita kembangkan. Kemampuan berbahasa Lampung yang baiuk adalah merupakan langkah awal menuju itu semua.

ANTARA CETIK DAN GAMOL TIDAK SALING MEMATIKAN

Pulang agak malam sekita pukul 12.18 malan saya sempatkan membuka WA sekedar referesing, astaga saya temukan postingan yang membicarakan sesatu yang menurut saya tak terlalu mendesak di dibicarakan dan apalagi diperdebatkan, pertama karena tak akan selesai dengan berdiskusi di WA. kedua tak akan selesai diskusi tampa moderator seperti itu dan ketiga ini tak mendesak untuk dibahas. Memang bagi saya yang awam masalah kebudayaan ini mungkin tak terlalu sensitif. Tetapi seingat saya para akademisi juga sangat menyukai manakala ada suatu perbedaan panjang, yang akan selalu menark dibahas. Yang meributkan sesuatu perbedaan adalah dunia dagang, dunia bisnis, mereka seringkali sensitif dalam membahas sesuatu yang terkait merk daganmg mereka.

Pernah saya bertamu di ruang kerja seorang Profesor Zakiyah Daradjat, entah apa awal mulanya sehingga pembicaraan meluas sampai ke kegelisahan hatinya mengingat ada beberapa bagian dari tulisannya yang dianggapnya kurang tepat, dan beliau berminat ingin memperbaikinya, Karena buku tersebut menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa di beberapa perguruan tinggi.  Hal itu disampaikan kepada penrbit. Di luar dugaannya penerbit ternyata menolak, karena buku tersebut telah mengalami beberapa kali cetak ulang. Bila ibu ingin membantah tulisan itu silakan tulis buku baru, dan kami berjanji akan menerbitkannya.

Keahlian Prof. Zakiyah Daradjat sangat terkenal, tetapi tidak semudahj itu Ia boleh menidakkan sesuatui yang pernah ditulisnya sendiri. Tulisan itu adalah sesuatu yang membanggakan pagi pernerbit. Kalaupun telah muncul keyakinan, pendapat ataupun gagasan lain, maka itu dianggap adalah sesuatu yang berdiri sendiri. Tetapi kekeliruan itu ingin diabadikan dalam dunia akademik. Artinya hal hal yang jelas jelas salahpuin dalam dunia akademik sedapat mungkin akan mereka pertahan catatan akan keberadaannya.

Demikianpun antara Gamol dan Cetik yang memang merupakan realita, realitanya ada yang menyebut gamol dan ada yang menyebutnya cetik itu adalah suatu kekayaan belaka. Jelas gamol dan cetik adalah sesuatu yang sempat atau masih dituturkan oleh para pendukung alat instrumen seni perkusi asal Lampung itu. Terlepas dari Hasim Gamol tidak menyebutkan nama Cetik melainkan gamol, maka kami kami yang terbilang awam ini tidaklah merasa mendesak untuk membicarakannya, jika pembicaraan dimaksudkan untuk saling menidakkan.

Cetik Itu Ada.

Mungkin sikap kami sama dengan percetakan yang saya ceritakan di atas, kalaupun Prof. Berubah pikiran terhadap suatu teori maka dipersilakan Profesor menulis sebuah buku lagi khusus membantah teori yang pernah dilontarkannya sebelumnya. Jika terhadap tulisan sendiri saja seseorang diharuskan menulis buku kembali tetapi tetap mengakui adanya buku pertama. Kalaupun Hasyim Gamol ingin memakai nama Gamol bagi instrumen perkusi asal Lampung itu tidak masalah, tetapi bukan berarti bahwa yang menyebutnya Cetik tidak ada, orang yang menyebut ctik ada. Perkara adanya sejak kapan, itu sesuatu yang lain.Jika dalam tulisan atau Thesis Hasyim Gamolan menyebut Gamol Lampung, bukan berarti menidakkan Cetik. Karena realita penyebut cetik itu memang pernah ada.  Tetapi yang saya tahu sewaktu kecil adalah hanya gamol.

Saya lahir di Desa Pagelaran,  Ayah asal Pekon Awi Kebuayan Perenong, sedang Ibu asal Kembahang Kebuayan Buay Bejalan Di Way. Sebagai pewaris komunitas Kerajaan Sekala Brak. Samar samar dalam ingatan saya orang menabuh Gamol Lampung, tetapi setelah saya sedikit besar gamol itu tak lagi berbunyi karena penabuhnyapun telah tiada. Yang tersisa adalah syair lagunya yang berbunyi :

nak ni nak ni nak ni Kung
gamolan haji Kusai
wat mulli jak Gedung
Yaddo tamong ni Roai

Saya menjadi sangat terkesan karena Roai yang nama lengkapnya Roaini itu salah satu teman kecil saya, dan Tamongnya yang disebut dari Gedung itu adalah Ina Lunik Mari'ah dengan demikian maka gamol Lampung itu setia dalam ingatan saya, sesetianya ingatan terhadap teman kecil, dan nada lagu itu seingat saya adalah juga nada gamol Lampung yang ada dalam ingatan saya.

Pada suatu saat saya sangat bergembira mendengar kabar bahwa gamol Lampung akan digalakkan lagi melalui sekolah sekolah. Pihak Pemerintah berkenan ikut memfasilitasi dilatihkannya Gamol Asal Lampung Barat itu di di sekolah sekolah pada saat itu adalah baru pertama kali saya mengenal istilah cetik.  Dari kegiatan itu maka muncullah tokoh si Raja Cetik. Gembira rasanya gamol yang sempat melekat diingatan sejak kecil itu muncul lagi, sekalipun namanya Cetik, tetapi dalam otak saya cetik adalah Gamol, dan gamol adalah cetik.

Perkara Nama.

Sikap pribadi saya adalah sama sekali tidak mendukung sikap yang harus mengambil kesimpulan ceti atau gamol secara mematikan, saling menidakkan. Adalah kenyataan bahwa ada masanya orang menyebutnya sebagai gamol, ada pula masanya orang menyebutnya sebagai cetik. Hanya saja memang perlu penelusurat sejak kapan orang menyebut gamol ini cetik. Adakan penelitian terlebih dahulu, toh sampel penelitian sangat jelas dan sangat terbatas. Istilah gamol sangat mudah dipahami karena nama itu tersebar diberbagai wilayah di Indonesia, tetapi istilah cetik, dari kata apa, dan apa pula pengertiannya.

Saya serasa ingin tertawa sendiri, karena orang tua saya berasal dari Pekon Awi, memang di komunitas Peminggir  Sukaratu Pagelaran, sama halnya di Sukabanjar, Pardasuka, Kedondong, Cukuhbalak dan beberapa daerah lain itu Awi itu artinya bambu, tetapi bagi daerah lain Awi itu tabu menyebutnya. Kata pihak percetakan buku yang sudah beberapakali dicetak ulang itu tak perlu diperbaiki dan ditarik dari peredaran, silakan saja menulos buku baru dan dijamin akan diterbitkan, karena ini catatan sejarah.

Memang tak perlu pula kita menghioalngkan kata Cetik, hatta di daerah lain nama cetik itu adalah nama yang buruk di Bali. Maka harus ditelioti terlebih dahulu secara metodologis,siapa awal mula pemakaio nama cetik itu, jika memang nama cetik itu adalah pemberian orang Bali maka memang harus dipertanyakan maksud pemebrian nama itu. Tetapi manakala pemakai sendiri yang memberikan nama itu maka perlu dicatat kisah pemberian nama cetik, cetik berasal dari kata apa, arti katanya apa, arti dalam istilah juga apa, Siapa yang menyebutnya pertama dan siapa pula yang mengikutinya, mengembangkannya atau menyebarkannya, dalam kontek apa.

Manakala sudah ada hasil penelitiannya, bolehlah kita berkumpul bersama untuk membicarakannya, boleh juga kita tampilkan makalah pembanding atau dan sebagainya. Itupun masih tergantung ada atau tidaknya pihak yang memfasilitasi itu semua.

Akhirul Kalam.

Pada saat ini yang sebenarnya kita harapkan adalah bahwa instrumen perkusi khas Lampung itu bisa diopertahankan dan dikembangkan. Dipertahankan artinya semakin banyak orang yang mau menerima kehadirannya dan bahkan mau belajar menabuhnya dan mengembangkannya artinya menciptakan nada nada tabuhnya, bila perlu mengarangkan lagu lagu yang sangat mungkin bisa diiringi oleh instrumen yang hanya memiliki nada nada yang terbatas ini.

Tetapi tentu saja bila ingin mengarangkan lagu dan syair untuk konsumsi gamolan atau cetik ini harus yang terkait dengan tanah atau wilayah Lampung, terkait atas aktivitas masyarakat adat Lampung, terkait adat istiadat Lampung dan semacamnya. Atau dengan kreasi baru, jika akan mengembangkan kreasi baru maka jangan lupa agar kreasi itu tidak keluar dari karakter dan filosofi masyarakat Lampung sehingga tak terlepas dari nilai nilai yang selama ini dijunjung oleh masyarakat Lampung. Terima kasih.

Friday, August 18, 2017

Upacara Suksesi Tradisional "Anjau Marga" Putih Doh-Cukuh Balak 1994/19...

Jangan Sampai Kita Ciptakan Budaya Daur Ulang.

FACHRUDDIN.

Masuknya budaya Eropa ke Indonesia sama sekali tampa filter yang berarti dari Pemerintah, dan memang nampaknya suatu saat harus kita bayar mahal, selain  kita akan kehilangan identitas, dan justeru diharuskan mencari identitas baru. Dan hampir dapat dipastikan identitas baru itu hanyalah merupakan budaya daur ulang. Budaya daur ulang itu sangat memungkinkan karena kono kabarnya banyak UU kita yang hanya kopi paste dari UU milik negara yang doianggap lebih maju, atau justeru kepentingan negera maju tersebut. Maka harus kita antisipasi keterpaksaan kita untuk memiliki budaya daur ulang tersebut.

Secara pribadi saya mensyukuri munculnya lembaga pseudo lembaga adat, agar bisa mewakili lembaga adat yang ada dalam berkomunikasi dengan Pemerintah. peran ini sangat memungkinkan manakala lembaga itu bisa ditempati wakil wakil dari lembaga adat yang ada, digabung dengan sejumlah intelektual daerah dan pejabat atau mantan pejabat Pemerintah agar juga serba sedikit akan mengetahui seluk beluk keuangan, karena peran lembaga ini tentu tidak akan terlepas dari peran pengelolaan atau penggunaan keuangan, dalam membangun budaya secara keseluruhan.

Tetapi memang agak menghawatirkan kartena tampilan awal lembaga pseudo lembaga adat seperti, seolah akan menggantikan peran fungsi lembaga adat. Hal itu tak mungkin akan gerjadi, bahkan  manakala akan dipaksakan, maka lembaga itu tak akan lebih hanya berperan sebagai lembaga pemborosan belaka, yang praktiknya adalah menghabiskan anggaran, sementara kemanfaatannya bagi komunitas adat.

Yang paling tepat lembaga pseudo lembaga adat bentukan Pemerintah itu memerankan diri sebagai forum komunikasi dari lembaga adat yang ada, yang tugasnya memberdayakan lembaga adat yang ada, dan menguoayakan dana yang difasilitasi Pemerintah untuk membentuk lembaga adat yang mandiri.

Adalah merupakan keharusan lembaga adat harus berkembang, dan saling mempengaruhi dengan nilai nilai budaya lain daerah melalui kontak jontak budaya, tetapi segala sesuatunya harus berjalan secara alami, jang sampai terjadi yang satu mendominasi yang lain. Itulah sebaganya lembaga pseudo adat bentukan Pemerintah itu juga harus dilengkapi dengan personal intelektual dari masing masing kelompok adat. Karena sesungguhnya perubahan perubahan yang harus dilakukan oleh kelompok komunitas adat itu tidak terlepas dari peran intelektual masing masing pihak komunitas tersebut.

Manakala itu berlangsung secara alami, maka tidak ada keharusan kita untuk menciptakan budaya daur ulang. Tetapi manakala ada terjadi kopy paste peraturan atau perundang undangan dariluar dengan latar belakang budaya yang berbedan dan bahkan bertentangan, maka berarti dengan demikian akan terjadi budaya gaur ulang produk bangsa lain. Itulah sebabnya kehadiran intelektual di masing komunitas adat itu mutlak dibutuhkan, karena akan ikut membantu proses perkembangan dan perubahan kebudayaan. yang alami.