Sunday, November 28, 2010

RIBUAN KORBAN AMUK BELUM BERANI PULANG



MENGUNGSI. Puluhan warga Kampung Wirabangun, Kecamatan Simpangpematang, mengungsi ke Pondok Pesantren Darul Falah Al-Amin dengan pengawalan polisi, Jumat (26-11). Warga belum berani pulang karena merasa tak ada jaminan keamanan bagi mereka.
(LAMPUNG POST/JUAN SANTOSO)

Utama Lampost : Sabtu, 27 November 2010

MESUJI (Lampost): Suasana Kampung Wirabangun, Kecamatan Simpangpematang, pascapembantaian masih mencekam. Wirabangun tak ubahnya seperti kampung mati karena sebagian besar warganya mengungsi.

Dari 3.000-an penduduk Kampung Wirabangun, 70% meninggalkan kampung tersebut. Gelombang pengungsi terjadi mulai Kamis malam hingga kemarin pagi.

Hingga menjelang magrib kemarin, belum tampak warga yang kembali ke rumah masing-masing. Padahal, dua kompi aparat kepolisian masih berjaga-jaga di tempat itu.

Di tiga kampung yang berada di Kecamatan Simpangpematang saja ada 1.095 pengungsi. Mereka tersebar di Kampung Simpangpematang 698 jiwa, Kampung Budiaji (149), dan Kampung Harapan Jaya (248).

"Jumlah tersebut hingga pukul 17.00," ujar Sekretaris Kampung Simpangpematang, Ansori, yang mengoordinasi data pengungsi untuk diserahkan ke pihak kecamatan.

Sementara itu, jumlah warga yang mengungsi ke tempat lain seperti Kecamatan Pancajaya, Mesuji Timur, dan Way Serdang belum tercatat. Di tempat pengungsian, seperti di Simpangpematang, para pengungsi tinggal di rumah-rumah penduduk.

Selain itu, beberapa warga tinggal di ruko yang belum terpakai di Simpangpematang. Kemarin ratusan anak sekolah dari kampung tersebut tidak bersekolah karena takut.

Tiga sekolah di Kampung Wirabangun yakni SDN 1 Wirabangun dengan murid 479 orang, SMP Setia Budi (150), dan MTs Satu Terapat (70). "Itu belum termasuk anak SMA dari sini (Wirabangun)," kata Sekretaris Kampung Ngatnianto.

Di Kampung Wirabangun, warga yang masih tinggal diungsikan ke Pondok Pesantren Darul Falah Al-Amin di RK 5 kampung tersebut dengan penjagaan 1 kompi Brimob Lampung.

Di ponpes tersebut ada 100-an pengungsi yang hampir semua ibu dan anak. Rowi (39), staf pengajar di ponpes tersebut, mengaku saat peristiwa tersebut ia sedang duduk di halaman ponpes.

"Waktu itu saya lagi nongkrong. Tiba-tiba di jalanan ribut. Saya lihat, saat itu saya dikejar oleh massa yang membawa golok. Saya langsung lari," ujarnya. Seorang pengungsi, Sutirah (60) hingga kemarin malah belum bertemu suaminya, Siam (70), sejak peristiwa tragis itu.

Sepakat Damai

Kemarin Kapolda Lampung Brigjen Pol. Sulistyo Ishak didampingi Kepala Biro Operasional Kombes Rahyono W.S. mendamaikan dua pihak yang bertikai.

Dari Kampung Wirabangun diwakili Sekretaris Kampung Ngatnianto dan tokoh masyarakat Hasan. Dari Pematangpanggang, hadir Camat Mesuji OKI-Sumsel A. Diham, Kepala Kampung Pematangpanggang Raden Isye, Danramil Pematangpanggang Kapten Usman, dan Kapolsek AKP Arkamil.

Sementara dari Pemkab Mesuji hadir Sekkab Agus Salim dan beberapa asisten. Inti pertemuan tersebut, kedua belah pihak sepakat berdamai.

Kapolda juga tak memberi jawaban tegas mengapa tidak ada pelaku yang ditangkap. "Kami sedang mencari bukti-bukti, saksi-saksi, terkait pembunuhan itu," ujarnya.

Sejumlah warga Wirabangun juga mendesak agar polisi mengusut kasus itu hingga tuntas. "Kalau pelaku tidak ditangkap, tentu akan semakin semena-mena. Lalu, apa gunanya juga ada polisi kalau kasus seperti ini dibiarkan," ujar seorang tokoh yang enggan disebut namanya dengan alasan demi keselamatan.

Menurut Kabid Humas Polda Lampung AKBP Fatmawati, keributan itu diduga bermula saat Hasan, warga Pematangpanggang, tepergok hendak mencuri ayam bersama rekannya, Kamis (25-11) sore. "Sebelum beraksi, mereka berpura-pura mengadu ayam," ujarnya, Jumat (26-11).

Karena terdesak massa, kata Fatmawati, Hasan beserta rekannya kabur dan sempat membacok Suliyanto, salah satu warga yang mengejarnya, hingga tewas. Tapi, Hasan tertangkap dan dikeroyok hingga tewas.

Rekan Hasan yang selamat mengadu ke warga di desanya, Pematangpanggang. Lalu, 200-an warga menuju Kampung Wirabangun. "Sampai di Kampung Wirabangun, massa menyerang warga yang ditemui," kata dia. Akibatnya, dua orang lagi tewas dan dua luka-luka yaitu Ag dan Sg. Selain itu, satu rumah dibakar, 10 rumah rusak ringan, dua motor dibakar, dan satu motor warga hilang. (UAN/MG13/R-2)

No comments:

Post a Comment