Sunday, November 28, 2010

AMUK MASSA DI MESUJI LAMPUNG

Utama Lampost : Minggu, 28 November 2010

Sejarah Buruk itu Berulang di Wirabangun

MESUJI—Tidak satu pun dari 557 keluarga Wirabangun, Kecamatan Simpangpematang, Kabupaten Mesuji, mengharapkan peristiwa kelam Kamis (25-11) itu terjadi. Perkampungan transmigran seluas 1.791 hektare itu dipaksa dua kali mencatat sejarah buruk.

Peristiwa berdarah serupa pernah terjadi pada 2002. Saat itu sembilan nyawa melayang: empat warga Kampung Wirabangun dan lima warga Simpangpematang. Pemicunya pencurian seekor kambing yang tepergok warga. Emosi warga memuncak karena ternak sering hilang dan pencuri tewas seketika.

Aksi itu langsung mendapat balasan. Gerombolan massa dari Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan, merengsek ke Kampung Wirabangun melalui sungai belakang kampung, penanda batas wilayah Lampung dan Sumatera Selatan. Permukiman yang pertama ditemui menjadi sasaran membabi buta. Satu tewas dan satu rumah warga Wirabangun dibakar. Warga pun mengungsi.

Sayangnya peristiwa itu berlalu begitu saja. Tidak satu pun pelaku pembunuhan ditangkap dan diadili. "Memang sedih. Tapi mau bagaimana lagi. Setelah kejadian, ya habis begitu saja," kata Ngatenianto, sekretaris Kampung Wiralaga, Sabtu (27-11).

Ngatenianto yang pada 2002 menjabat sebagai carik harus menerima kenyataan: kampung halamannya kembali porak-poranda akibat amuk massa. Kamis (25-11) menjelang sore, Hasan (pelaku) yang membunuh Suliyanto, warga Wirabangun, tepergok mencuri ayam. Aksi itu menyulut kemarahan warga dan akhirnya menghabisi pelaku.

Emosi warga Kampung Simpangpematang tersulut. Ratusan warga mengamuk, membabi buta, menghunus senjata, membunuh siapa saja yang terlihat. Tragisnya, aksi itu dilakukan di depan aparat keamanan. Kini kampung yang semula damai dicekam ketakutan.

Kampung Wirabangun merupakan areal trasmigrasi lokal pada 1983. Awalnya Wirabangun hanya memiliki 557 kepala keluarga (KK) dengan jumlah penduduk 2.150 orang. Kini menjadi 632 KK dengan jumlah penduduk hampir 3.000 KK. Sebelumnya, Kampung Wirabangun mempunyai sembilan suku (dusun). Pada 2003 dimekarkan menjadi dua kampung, Bangunmulyo dan pada 2008 Kampung Rejobinangun.

Dari sejarahnya, pemberian nama Wirabangun bertujuan agar masyarakat yang berasal dari Kasui, Banjit, dan Wiralaga itu dapat menjadi makmur, tenteram, dan damai. Mayoritas penduduk bermata pencarian sebagai petani kebun sawit dan karet. Selain itu, terdapat juga petani padi dengan membuka lahan persawahan meskipun hanya 10 hektare. (JUAN SANTOSO/R-3)

No comments:

Post a Comment