Hasan Muarif Ambari sebagai arkeolog kenamaan di Indonesia setidaknya menuliskan bahwa aktivitas dakwah Kesultanan Banten pernah mengalami keberhasilan dakwahnya secara mengesankan, sebelum pada perkembangan berikutnya Kesultanan Banten banyak diterpa prahara, banyak kejahatan, huru hara dan semacamnya seperti layaknya manakala terjadi guncangan terhadap kursi kekuasaan yang pada saat itu memimpin, yang perkembangan lanjut Banten benar benar dipimpin oleh raja yang lemah, seperti apa yang diinginkan oleh para pihak yang ingin menguasai potensi ekonomi Banten dan sahabat sahabatnya, Lampung sebagai sahabat, yang kebetulan memiliki lahan subur itu banyak dijadikan lahan tembak bagi para pihak yang berhasil menguasai perekonomian Banten. Pelabuihan Banten adalah saksi bisu akan dominasi pihak penguasa ekonomi terhadap pihak Kesultanan yang sejatinya mulai lumpuh itu. Dan reduplah aktivitas dakwah di Kesultanan Islam Banten.
Banyak orang yang hanya tertarik untuk menuliskan Kesultanan Banten pada saat keislaman redup ditangan beberapa orang Sultan yang lemah. Ibarat contoh seperti para penulis pemerhati sejarah pemberontakan PKI hanya menuliskan sejarah mulai dari tanggal 2 Oktober 1965 yang sudah barang tentu saja maka PKI yang sebenarnya pemberontak itu oleh mereka justeru dicatat sebagai kurban kejahatan politik yang dilakukan oleh Pemerintah, karena mulau periode itu terjadi penumpasan PKI besar besaran yang berlanjut pada pembubaran PKI secara resmi. Tentu saja generasi mda yang membaca penggalan sejarah pemberontakan PKI marah besar kepada Pemerintah.
Sunday, July 10, 2016
Thursday, July 7, 2016
KESULTANAN BANTEN ITU KERAJAAN DAKWAH, BUKAN PENJAJAH.
Sejumlah Kerajaan atau Kesultanan Muncul pada saat dirasakan Kerjaan Islam Demak mulai melemah sementara aktivitas dakwah adalah suatu aktivitas yang tidak boleh terhenti, maka berdirilah sejumlah Kerajaan atau Kesultanan dan mungkin dengan menggunakan istilah lain yang tujuannya tak lain adalah melanjutkan dakwah ke seantero Nusantara untuk melanjutkan dakwah Islam sebagai cita cita utama berdirinya Kerajaan Demak. Sejumlah Kesultanan berhasil melaksanakan visi dan misinya, tetapi ada juga yang gagal atau kurang berhasil, dan belakangan ada yang berusaha membelokkan image terhadap Kesultana Kesultanan Islam itu sebagai Kesultanan Penjajah, barangkali pemikiran pemikiran yang akan dikembangkan adalah dalam rangka memberikan gambaran buruk terhadap Kesultanan Islam, dan salah satunya adalah dalam kontek Bantren dan Lampung yang mereka gambarkan Kesultanan Banten Sebagai Penjajah dan dan Lampung sebagai wilayah terjajah. Banyak penulis belakangan yang mengutip secara tidak kritis, padahal yang dikutipnya sengaja menyembunyikan maksud dan tujuan demi keuntungan
tulisan orientalis
tulisan orientalis
Saturday, June 25, 2016
TITO
NAMA Tangga Buntung selama sepekan terakhir ini begitu akrab terdengar di telinga anak bangsa di negeri ini. Tangga Buntung adalah kampung halaman Muhammad Tito Karnavian, calon tunggal kapolri pilihan Presiden Joko Widodo.
Ada banyak nama tangga di Kota Palembang, di antaranya Tangga Panjang, Tangga Raja, dan Tangga Buntung. Masa kecil Tito banyak dihabiskan di Tangga Buntung, 36 Ilir, sebuah daerah yang dulu dikenal tempat preman bersembunyi.
Kini, daerah itu disulap menjadi destinasi wisata terkenal. Terkenal karena terdapat situs Kerajaan Sriwijaya, tenun songket, tempat kuliner pempek dan kerupuk kemplang, serta dermaga–tempat dilepasnya lomba perahu bidar pada setiap peringatan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus.
Subscribe to:
Posts (Atom)
