Saturday, June 25, 2016

TITO



NAMA Tangga Buntung selama sepekan terakhir ini begitu akrab terdengar di telinga anak bangsa di negeri ini. Tangga Buntung adalah kampung halaman Muhammad Tito Karnavian, calon tunggal kapolri pilihan Presiden Joko Widodo.

Ada banyak nama tangga di Kota Palembang, di antaranya Tangga Panjang, Tangga Raja, dan Tangga Buntung. Masa kecil Tito banyak dihabiskan di Tangga Buntung, 36 Ilir, sebuah daerah yang dulu dikenal tempat preman bersembunyi.

Kini,  daerah itu disulap menjadi destinasi wisata terkenal. Terkenal karena terdapat situs Kerajaan Sriwijaya, tenun songket, tempat kuliner pempek dan kerupuk kemplang, serta dermaga–tempat dilepasnya lomba perahu bidar pada setiap peringatan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus.

Kehidupan Tito tergolong sederhana. Alumnus Akademi Kepolisian 1987 itu hasil perkawinan dari Achmad Saleh, seorang wartawan, penulis buku religi Baitullah, dengan Kordiah, bidan Puskesmas Karang Anyar, Palembang.

Anak kedua dari empat bersaudara itu meniti SD di Tangga Buntung 36 Ilir. Lalu Tito pindah sekolah ke SD Xaverius I hingga SMP Xaverius I. Jenjang SMA diselesaikan di SMA Negeri 2 Puncak Sekuning, Palembang.

Masa kecil Tito tidak jauh berbeda dengan anak-anak kampung lainnya. Dia menyenangi main layang-layang. Berenang di Sungai Musi. Bahkan, Tito kecil mampu menyeberangi sungai bersama temannya.

Sebuah kebanggaan anak di Palembang, sebelum terjun ke sungai dari Jembatan Ampera dan  berenang menyeberangi Sungai Musi, belumlah dikatakan lelaki. Tito memang anak yang memiliki tekad kuat dan komitmen yang tinggi.

Itu terungkap dari Kordiah. Ibu Tito menceritakan semasa sekolah, prestasi anaknya selalu mengundang iri orang tua lainnya.  "Dulu itu, ibu-ibu dari teman Tito datang untuk meminta resep supaya punya anak yang cerdas. Bahkan guru Tito pun datang. Padahal Tito sama saja dengan anak yang lain," tutur sang ibu dikutip Media Indonesia (grup Lampung Post).

Nama Tito yang dilahirkan di Tangga Buntung, 26 Oktober 1964, memiliki cerita tersendiri. Ayah Saleh mengenang saat memberi nama anaknya. “Tito diambil dari nama presiden Yugoslavia yang pada saat itu memimpin negara nonblok. Sedangkan Karnavian diambil dari karnaval. Saat itu saya sibuk mengurusi karnaval mahasiswa,” ungkap Saleh di kediamannya di Lorong Sungai Sawah 1, Jalan PSI Kenayan, Tangga Buntung, Palembang.

"Tito sejak kecil menerapkan hidup disiplin. Saat mendapatkan pekerjaan rumah dari sekolah, tugas itu diselesaikan sampai tuntas. Jika ada teman mengajak bermain akan tak diacuhkan," ucap Achmad.

Tak mengherankan jika Tito meraih bintang kelas, satu atau dua, saat duduk di bangku SD, SMP, dan SMA.  Sikap disiplin itu tidak pernah surut hingga saat ini.

***

Setelah Tito lulus SMA, ibunya sempat menyarankan agar melanjutkan kuliah Kedokteran. Permintaan ibu ditolak lantaran tak ingin membebani orang tua. Tito memilih Akademi Kepolisian, pada waktu itu Akabri.

Itu diselesaikan dengan meraih predikat lulusan terbaik.  Sesibuk apa pun di kepolisian, Tito selalu pamit dan minta doa restu jika bertugas luar. Seperti ke Papua dan Poso–menangkap teroris. Menurut Kordiah, di tengah kesibukan Tito tetap meluangkan waktu untuk kembali ke Palembang setiap Idulfitri walaupun hanya semalam. 

"Pindang kepala ikan tapa makanan kesukaan Tito. Kalau ketemu menu ini, Tito bakal nambah," ungkap Kordiah sambil tersenyum lebar.  

Kini Tito menjadi calon kapolri.  Jenderal muda ini sangat fenomenal. Namanya tidak masuk yang diusulkan menjadi kapolri karena dianggap masih junior. Namun, dia yang justru dipilih Jokowi. 

Wong Pelembang itu dalam pekan ke depan, menjalani uji kepatutan dan kelayakan Komisi III DPR. Banyak hal yang akan ditanyakan wakil rakyat kepada Tito. Rakyat berharap di tangan dingin Tito terjadi reformasi total di kepolisian.

Polisi masih sangat identik dengan rasa tidak nyaman dan takut masyarakat. Padahal, tugas utama polisi dalam UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia (Polri),  tertulis memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, memberi perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Faktanya? Polisi masih menjadi buah bibir yang tidak mengenakkan bagi rakyat.  Tito dituntut Jokowi mereformasi internal kepolisian. Peraih bintang Adhi Makayasa memulai dari sistem rekrutmen, karier, reward and punishment yang objektif. 

“Reformasi birokrasi, mentalitas terhadap pelayanan masyarakat yang lebih baik. Kemudian, menekan semaksimal mungkin budaya korupsi dan pelanggaran yang dilakukan anggota,” kata Tito, setelah namanya mencuat menjadi calon tunggal kapolri pilihan Jokowi.

Akankah Tito seperti Jenderal Polisi Raden Said Soekanto (mantan Kapolri pertama) dan Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso (mantan Kapolri kelima)? Kedua tokoh polisi panutan itu terkenal jujur dan hidup sangat  sederhana.

Keduanya tidak mau memanfaatkan jabatan untuk meraup keuntungan bagi pribadi dan keluarga. Untuk saat ini, jujur dan sederhana adalah dua kata yang sulit melekat dalam jajaran anggota kepolisian.

Patut kita renungkan, almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah berucap,  “Di Indonesia ini hanya ada tiga polisi jujur, yakni polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng.” 

Polisi satu ini selalu menolak bentuk gratifikasi. Semua barang pemberian dari bandar judi dibuangnya. Bahkan, Hoegeng membersihkan semua bentuk suap dan sogokan. Hingga suatu ketika istri Hoegeng, Merry Roeslani disuruh menutup toko bunga agar tidak dimanfaatkan orang-orang  yang ingin mendekati dirinya. 

Polisi Hoegeng, sebuah cermin baik bagi anak bangsa di negeri ini. Publik yakin dan percaya, jika nanti Jenderal Tito berkiblat kepada pendahulunya Soekanto dan Hoegeng dalam membenahi, memperbaiki citra kepolisian yang masih terpuruk dan belum naik peringkat terbaik itu.  ***

No comments:

Post a Comment