KEPURBAKALAAN: Ditemukan Kerangka Manusia Usia 2.000 Tahun
GIANYAR (Lampost/Ant): Kerangka manusia purba dalam peti jenazah yang terbuat dari batu—yang disebut sarkofagus—ditemukan di Subak Saba, Desa Keramas, Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali, Sabtu (28-8).
Dua peti jenazah manusia dari zaman prasejarah yang masih utuh itu diperkirakan berusia 2.000 tahun. "Hari ini kami temukan dua peti batu, tapi baru satu yang berhasil dibuka dan ternyata masih berisi kerangka manusia purba," kata peneliti pada Balai Arkeologi Denpasar Ayu Kusumawati di lokasi penemuan kemarin (28-8).
Ayu menyebutkan dua buah peti batu yang di bagian ujungnya dilengkapi aksesori mirip kepala kura-kura itu pertama kali ditemukan oleh penggali tanah di lokasi pembuatan batu bata. Dari temuan itu, tim Balai Arkeologi Denpasar kemudian melakukan pendalaman. Ternyata, kedua peti merupakan benda peninggalan purbakala yang disebut sarkofagus.
Ayu mengatakan salah satu dari dua barang temuan itu sudah berhasil dibuka bagian penutupnya oleh petugas dan ternyata masih berisi kerangka manusia dalam susunan tulang-belulang yang lengkap. "Sementara yang satunya lagi masih dalam keadaan utuh sehingga kami belum tahu isinya," ujarnya.
Ia menambahkan selain kerangka manusia, dalam peti jenazah manusia purba itu juga ditemukan sebuah kendi tua. "Kendi dengan panjang 15 cm itu berada persis di samping tengkorak kerangka manusia yang terkujur dalam peti," kata Ayu menjelaskan.
Ia mengatakan berdasarkan hasil pengukuran di lapangan, dua sarkofagus yang ditemukan memiliki ukuran yang berbeda. "Sarkofgus yang utuh merupakan peti mati tipe kecil dengan ukuran panjang 150 cm dan lebar 50 cm, sedangkan sarkofagus yang sudah dibuka memiliki ukuran panjang 100 cm dan lebar 12 cm," ujar dia.
Mengenai umur sarkofagus itu, Ayu Kusumawati memperkirakan kedua kerangka sudah ada sejak 2.000 tahun yang lalu atau sejak zaman prasejarah. "Pada zaman itu manusia telah mengenal masa perundagian serta alat logam. Hal ini dibuktikan dengan adanya tonjolan wajah manusia atau kedok yang mirip kura-kura pada bagian ujung sarkofagus yang kini ditemukan," kata dia.
Selain telah mengenal logam, kata Kusumawati, pada zaman itu juga sudah dikenal istilah gotong royong dan rasa persatuan dan kesatuan. "Tujuan dibuatkan kedok di bagian ujung peti kubur itu dimaksudkan untuk memberikan jalan bagi sang arwah menuju dunia lain," ujar dia.
Ia menjelaskan biasanya pemakaman dengan sarkofagus itu untuk orang yang berpengaruh pada zaman itu. "Hanya kaum bangsawan dan orang yang berpengaruh yang menggunakan peti kubur semacam itu," ujarnya.
Saat ini, kata Kusumawati, pihaknya bersama petugas lain masih melakukan peneitian lebih lanjut soal penemuan dua sarkofagus itu. "Kami masih harus di lokasi untuk melakukan penelitian lanjutan sebelum kedua sarkofagus itu dievakuasi ke Balai Pelestarian Benda Purbakala," kata dia.
Sumber : Lampost Edisi 29 Agustus 2010
Saturday, August 28, 2010
Thursday, August 26, 2010
TUBAGUS YAHYA MUSYAFIR PENYIAR QURAN DI KAHURIPAN
JEJAK ISLAM MASUK LAMPUNG (12)
PINTU masuk dari jalur selatan diyakini paling berpengaruh terhadap penyebaran Islam di Lampung. Hal tersebut ditandai dengan keberadaan situs-situs sejarah, seperti makam keramat.
Selain makam Tubagus Machdum di Kuala, Telukbetung Selatan, di Kahuripan, Telukbetung Barat, juga terdapat makam Tubagus Yahya. Kedua ulama ini masih memiliki keterkaitan keluarga, yakni berasal dari keturunan Sultan Hasanuddin, Banten.
Sama halnya seperti Tubagus Machdum, makam Tubagus Yahya juga acap dijadikan tujuan peziarah dari berasal warga sekitar maupun luar Lampung, seperti Pulau Jawa, tepatnya dari Serang, Banten. Biasanya peziarah memenuhi lokasi makam saat menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Juru kunci makam Masarim mengatakan Tubagus Yahya merupakan musafir yang datang dari Kenari, Jawa. Ia datang ke Lampung sekitar 1900-an. Saat pertama kali datang, Tubagus Yahya menetap di rumah H. Yusuf.
"Dalam kesehariannya, Tubagus Yahya yang dikenal sebagai musafir ini kerap menyiarkan ajaran-ajaran Islam, terutama tentang pengetahuan dan pandangan terhadap Alquran," kata Masarim, Minggu (22-8).
Menurut Masarim yang juga masih keturunan H. Yusuf, dalam syiarnya, Tubagus Yahya cenderung menggunakan media pengajian dan pondok pesantren.
Saat giat-giatnya menyebarkan Islam sekitar 1930, Tubagus Yahya meninggal dunia karena sakit. Setelah meninggal, Tubagus Yahya dimakamkan di Kahuripan, Telukbetung Barat, dan H. Yusuf kemudian menjadi juru kuncinya.
Kabar meninggalnya Tubagus Yahya, menurut Masarim, terdengar keluarganya di Pulau Jawa. Ahli waris Tubagus Yahya bernama H. Euyem kemudian datang dan melanjutkan syiar Islam orang tuanya.
Namun, pada 1950 H. Euyem kemudian meninggal dan dikebumikan di samping makam Tubagus Yahya.
Salah seorang pengunjung yang juga warga sekitar makam, Siti Khadijah, mengatakan dia rutin mengunjungi makam tersebut saat menjelang Ramadan maupun Idulfitri. Tujuannya, selain mengirimkan doa, juga menghargai dan mengenang jasa Tubagus Yahya yang menyiarkan Islam di Kahuripan, Telukbetung Barat. (IYAR JARKASIH/U-3)
Sumber : Lampost edisi 22 Agustus 2010
PINTU masuk dari jalur selatan diyakini paling berpengaruh terhadap penyebaran Islam di Lampung. Hal tersebut ditandai dengan keberadaan situs-situs sejarah, seperti makam keramat.
Selain makam Tubagus Machdum di Kuala, Telukbetung Selatan, di Kahuripan, Telukbetung Barat, juga terdapat makam Tubagus Yahya. Kedua ulama ini masih memiliki keterkaitan keluarga, yakni berasal dari keturunan Sultan Hasanuddin, Banten.
Sama halnya seperti Tubagus Machdum, makam Tubagus Yahya juga acap dijadikan tujuan peziarah dari berasal warga sekitar maupun luar Lampung, seperti Pulau Jawa, tepatnya dari Serang, Banten. Biasanya peziarah memenuhi lokasi makam saat menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Juru kunci makam Masarim mengatakan Tubagus Yahya merupakan musafir yang datang dari Kenari, Jawa. Ia datang ke Lampung sekitar 1900-an. Saat pertama kali datang, Tubagus Yahya menetap di rumah H. Yusuf.
"Dalam kesehariannya, Tubagus Yahya yang dikenal sebagai musafir ini kerap menyiarkan ajaran-ajaran Islam, terutama tentang pengetahuan dan pandangan terhadap Alquran," kata Masarim, Minggu (22-8).
Menurut Masarim yang juga masih keturunan H. Yusuf, dalam syiarnya, Tubagus Yahya cenderung menggunakan media pengajian dan pondok pesantren.
Saat giat-giatnya menyebarkan Islam sekitar 1930, Tubagus Yahya meninggal dunia karena sakit. Setelah meninggal, Tubagus Yahya dimakamkan di Kahuripan, Telukbetung Barat, dan H. Yusuf kemudian menjadi juru kuncinya.
Kabar meninggalnya Tubagus Yahya, menurut Masarim, terdengar keluarganya di Pulau Jawa. Ahli waris Tubagus Yahya bernama H. Euyem kemudian datang dan melanjutkan syiar Islam orang tuanya.
Namun, pada 1950 H. Euyem kemudian meninggal dan dikebumikan di samping makam Tubagus Yahya.
Salah seorang pengunjung yang juga warga sekitar makam, Siti Khadijah, mengatakan dia rutin mengunjungi makam tersebut saat menjelang Ramadan maupun Idulfitri. Tujuannya, selain mengirimkan doa, juga menghargai dan mengenang jasa Tubagus Yahya yang menyiarkan Islam di Kahuripan, Telukbetung Barat. (IYAR JARKASIH/U-3)
Sumber : Lampost edisi 22 Agustus 2010
PENGARUH FATAHILLAH HINGGA LEMPASING
JEJAK ISLAM DI LAMPUNG (10)
Agama Islam masuk ke Lampung sekitar abad ke-15 melalui tiga pintu utama, salah satunya yaitu dari arah selatan atau Banten oleh Fatahillah atau Sunan Gunung Jati, melalui Labuhanmaringgai di Keratuan Pugung pada 1525.(Lampung Post, 11 Agustus 2010)
Pintu masuk Islam dari jalur ini diyakini merupakan yang paling berpengaruh. Hal tersebut ditandai dengan keberadaan situs-situs sejarah seperti makam keramat Tubagus Machdum di Kuala, Telukbetung Selatan, dan makam Tubagus Yahya di Lempasing, Kahuripan. Diduga, kedua musafir yang membawa ajaran Islam ke Lampung ini masih keturunan Sultan Hasanudin, Banten.
Keberadaan situs-situs ini tidak jarang dijadikan warga sebagai tempat ziarah, seperti menjelang Ramadan dan Idulfitri. Mereka menilai makam keramat tersebut mempunyai arti tersendiri karena memilki nilai sejarah dalam penyebaran Islam.
Penjaga makam keramat Tubagus Machdum, M. Nadir, mengatakan kuburan yang dijaganya itu sering dikunjungi peziarah dari dalam dan luar Lampung, seperti Pulau Jawa.
Banyaknya peziarah yang datang dari Jawa menguatkan sosok Tubagus Machdum berasal dari tanah Jawa yang menyiarkan Islam di Sai Bumi Ruwa Jurai.
Ulama itu pertama kali menginjakkan kaki di Lampung pada awal 1700. Sebagai seorang perantau, dalam menyiarkan Islam, Tubagus Machdum hidupnya sering berpindah-pindah ke berbagai daerah di Lampung.
Dalam syiar keagamaan yang dibawanya, kata Nadir, Tubagus Machdum menekankan pada Alquran, salah satunya yaitu surat Yasin. Hal tersebut diketahui karena Tubagus Machdum selalu mengamalkan Yasin dalam menyiarkan Islam.
Tubagus Machdum meninggal dunia pada akhir 1700. Menurut Nadir, tokoh Islam itu meninggal karena dibunuh penjahat di bilangan pesisir.
Setelah wafat, jasad Tubagus Machdum dimakamkan tidak jauh dari lokasi saat dia terbunuh, yakni di daerah Kuala, Telukbetung Selatan. Sebuah tempat yang letaknya tidak jauh dari pinggiran laut di bilangan Jalan Yos Sudarso, Panjang.
Makam keramat itu menyerupai rumah yang di dalamnya terdapat tiga kuburan. Menurut Nadir, makam-makam tersebut di antaranya tempat peristirahatan terakhir Tubagus Machdum (diselimuti kelambu), lalu Hasanudin (juru kunci makam Tubagus Machdum), dan satu lainnya konon bukan makam manusia, melainkan kuburan benda-benda peninggalan Tubagus Machdum. (IYAR JARKASIH/U-3)
Sumber : Lampost edisi22 Agustus 2010
Agama Islam masuk ke Lampung sekitar abad ke-15 melalui tiga pintu utama, salah satunya yaitu dari arah selatan atau Banten oleh Fatahillah atau Sunan Gunung Jati, melalui Labuhanmaringgai di Keratuan Pugung pada 1525.(Lampung Post, 11 Agustus 2010)
Pintu masuk Islam dari jalur ini diyakini merupakan yang paling berpengaruh. Hal tersebut ditandai dengan keberadaan situs-situs sejarah seperti makam keramat Tubagus Machdum di Kuala, Telukbetung Selatan, dan makam Tubagus Yahya di Lempasing, Kahuripan. Diduga, kedua musafir yang membawa ajaran Islam ke Lampung ini masih keturunan Sultan Hasanudin, Banten.
Keberadaan situs-situs ini tidak jarang dijadikan warga sebagai tempat ziarah, seperti menjelang Ramadan dan Idulfitri. Mereka menilai makam keramat tersebut mempunyai arti tersendiri karena memilki nilai sejarah dalam penyebaran Islam.
Penjaga makam keramat Tubagus Machdum, M. Nadir, mengatakan kuburan yang dijaganya itu sering dikunjungi peziarah dari dalam dan luar Lampung, seperti Pulau Jawa.
Banyaknya peziarah yang datang dari Jawa menguatkan sosok Tubagus Machdum berasal dari tanah Jawa yang menyiarkan Islam di Sai Bumi Ruwa Jurai.
Ulama itu pertama kali menginjakkan kaki di Lampung pada awal 1700. Sebagai seorang perantau, dalam menyiarkan Islam, Tubagus Machdum hidupnya sering berpindah-pindah ke berbagai daerah di Lampung.
Dalam syiar keagamaan yang dibawanya, kata Nadir, Tubagus Machdum menekankan pada Alquran, salah satunya yaitu surat Yasin. Hal tersebut diketahui karena Tubagus Machdum selalu mengamalkan Yasin dalam menyiarkan Islam.
Tubagus Machdum meninggal dunia pada akhir 1700. Menurut Nadir, tokoh Islam itu meninggal karena dibunuh penjahat di bilangan pesisir.
Setelah wafat, jasad Tubagus Machdum dimakamkan tidak jauh dari lokasi saat dia terbunuh, yakni di daerah Kuala, Telukbetung Selatan. Sebuah tempat yang letaknya tidak jauh dari pinggiran laut di bilangan Jalan Yos Sudarso, Panjang.
Makam keramat itu menyerupai rumah yang di dalamnya terdapat tiga kuburan. Menurut Nadir, makam-makam tersebut di antaranya tempat peristirahatan terakhir Tubagus Machdum (diselimuti kelambu), lalu Hasanudin (juru kunci makam Tubagus Machdum), dan satu lainnya konon bukan makam manusia, melainkan kuburan benda-benda peninggalan Tubagus Machdum. (IYAR JARKASIH/U-3)
Sumber : Lampost edisi22 Agustus 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)