Monday, May 23, 2011

Presiden SBY: Jaga Kerukunan Lampung

Utama Lampost : Sabtu, 21 Mei 2011



JAKARTA (Lampost): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan warga Lampung agar tetap menjaga kerukunan di tengah kemajemukan. Berbagai perbedaan justru menjadi modal dasar untuk mencapai kemajuan.

Presiden SBY secara khusus menyampaikan pesan tersebut saat bersama Ibu Ani Yudhoyono diwawancarai reporter cilik Lampung Post di Istana Negara, Rabu (18-5) lalu. "Lampung daerah yang sangat dinamis dan masyarakatnya majemuk. Hampir seluruh suku dan agama ada di Lampung. Suku Lampung, Jawa, Bali, dan lainnya hidup berdampingan secara rukun. Mereka punya tujuan yang sama untuk membangun Lampung," ujarnya.

Jika sejak masa kecil dibiasakan hidup toleran seperti di Lampung, kata SBY, niscaya tidak akan terjadi benturan seperti yang terjadi di daerah lain. "Agama berbeda, suku berbeda, kultur juga berbeda. Hiduplah yang rukun satu sama lain. Lampung kaya dengan adat istiadat dan budaya. Tradisi ini tolong dijaga," kata mantan Pangdam II Sriwijaya (1996—1997) itu.

Untuk anak-anak Lampung, SBY berpesan agar di tengah zaman yang terus berubah tetap berusaha menggapai cita-cita di berbagai bidang. "Gantungkanlah cita-cita setinggi langit untuk membangun negeri ini. Cita-cita itu harus diraih. Pada saatnya nanti kalian akan menjadi putra-putri terbaik bangsa," kata dia.

Kebangkitan Nasional

Terkait peringatan Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional, Presiden SBY mengatakan pembangunan pendidikan tidak hanya diarahkan kepada kecerdasan ilmu pengetahuan, tetapi juga budi pekerti dan kepribadian yang tangguh. Dengan demikian, 20 tahun ke depan diharapkan bakal muncul manusia-manusia yang unggul dan membawa Indonesia menjadi negara maju.

"Tapi untuk menjadi negara maju tidaklah datang dari langit. Tidak semudah membalikkan telapak tangan," ujar Presiden dalam acara peringatan Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional di area Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta, Jumat (20-5).

Presiden menyebutkan tiga syarat agar Indonesia menjadi negara maju. Pertama, tingginya kemandirian bangsa. Kedua, tingginya daya saing bangsa, dan ketiga membangun peradaban yang unggul dan mulia. "Itu semua dapat diperoleh apabila pendidikan di Indonesia dapat maju dan berkualitas."

Masih dalam suasana Hari Kebangkitan Nasional, Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. mengajak kaum muda mempelajari dan merenungi sejarah lahirnya gerakan kebangkitan nasional. Belajar dari sejarah, kata Gubernur, sesungguhnya kemerdekaan bukan karena inspirasi sporadis para pemuda, melainkan sebuah gagasan dari para pemikir kita, seperti Dr. Wahidin Soedirohusodo dan Soewardi Soerjaningrat. "Dari gagasan merekalah muncul kesadaran bahwa sebagai bangsa kita harus mandiri dan merdeka dari penjajahan bangsa lain," kata Gubernur.

Dari gagasan itu pula muncul perjuangan yang meminta banyak korban hingga Indonesia akhirnya mencapai kemerdekaan. "Mengapa saya mengajak melihat historis, karena faktanya kita ini mulai tercerai berai, bahkan dipermainkan pihak asing. Karena itulah kita mesti bersatu," ujarnya.

Kepada kaum muda, Gubernur meminta agar saling membangun kekompakan dan bahu-membahu menyelesaikan berbagai persoalan, khususnya di Lampung. "Di tangan generasi muda inilah nasib masa depan bangsa, termasuk Lampung ini dipertaruhkan. Jangan saling menjegal atau saling menjatuhkan karena itu tidak produktif," kata Gubernur. (MG2/HES/U-1)

Saturday, May 21, 2011

LEGISLASI: Dewan Rekomendasikan Peta Konflik Tanah



Bandar Lampung : Jum'at, 20 Mei 2011

BANDAR LAMPUNG (Lampost): DPRD Lampung merekomendasikan penyusunan database mengenai peta kerawanan dan potensi konflik pertanahan. Rekomendasi itu disampaikan kepada Biro Tata Pemerintahan Umum Setda Provinsi Lampung dan instansi terkait lain.

Anggota Komisi I DPRD Lampung Watoni Nurdin, Kamis (19-5), mengatakan pemetaan tersebut dipandang perlu untuk memudahkan penyelesaian sengketa pertanahan. Hal ini berkaitan dengan tugas Komisi I.

Oleh karena itu, Komisi I memberikan masukan kepada Pansus Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj.) 2010 agar penyusunan peta konflik pertanahan menjadi salah satu rekomendasi. "Kalau sudah ada pemetaan, penyelesaiannya menjadi lebih mudah," kata dia.

Anggota Komisi I DPRD Lampung Farouk Danial mengatakan peta konflik pertanahan yang dimaksud menyangkut pihak-pihak yang berkonflik, misalnya antara pemerintah dan masyarakat, perusahaan dan masyarakat, pemerintah dan perusahaan, antarperusahaan, atau antarkelompok masyarakat.




Wilayah yang banyak terjadi konflik adalah wilayah utara dan timur Lampung, meliputi Kabupaten Lampung Timur, Lampung Tengah, Metro, Mesuji, Tulangbawang Barat, Tulangbawang, Way Kanan, dan Lampung Utara. Sedangkan wilayah barat dan selatan Lampung dinilai tidak terlalu rawan konflik pertanahan.

"Pemetaan itu menyangkut pihak yang bersengketa. Kalau wilayah bisa di mana saja, tetapi kalau saat ini utara dan timur Lampung yang kelihatannya banyak masalah," ujar Farouk. Menurut dia, Komisi I belum merekap jumlah laporan persoalan tanah yang masuk di Komisi I sejak 2010 sampai sekarang. Namun, Farouk mengakui Komisi I sudah menangani banyak persoalan.

Berdasarkan catatan Lampung Post, Komisi I telah menerima dan menangani laporan terkait dengan sengketa tanah di wilayah Tulangbawang dari keluarga Suhaili, dan persoalan tanah menyangkut HGU PT Garuda Panca Artha di Tulangbawang. Selain itu, juga konflik tanah register, taman nasional, dan hutan lindung di Tulangbawang Barat, Mesuji, dan Lampung Timur. (WAH/D-2)
Cetak Berita

Thursday, May 19, 2011

KERIBUTAN: Tiga Pemuda Jadi Korban Pembacokan


Ruwa Jurai Lampost : Jum'at, 20 Mei 2011


PUBIAN (Lampost): Berniat ingin menangkap basah pasangan mesum, tiga pemuda justru menjadi korban pembacokan oleh sekelompok pemuda kampung. Korban masing-masing, Wil (40) yang menderita luka di dahi dan pinggul, Gok (47) mengalami luka di kepala, dan Hur (20) juga mengalami luka di kepala. Ketiganya warga Dusun Masjid, Kampung Gununghaji, Kecamatan Pubian, Lampung Tengah.

"Keributan terjadi di sebuah rumah kosong di Dusun Umbulgedek, Kampung Gununghaji, Kecamatan Pubian, Rabu (18-5) sekitar pukul 22.00," kata Kapolsek Padangratu AKP Handak, mendampingi Kapolres Lamteng AKBP Budi Wibowo, Kamis (19-5).

Peristiwa itu berawal dari kedatangan Ag (30), warga Kampung Gununghaji, dan Yu (33), janda asal Gedungdalem, Kecamatan Batanghari Nuban, Lampung Timur, ke sebuah rumah kosong di Dusun Umbul Gedek, Kampung Gununghaji.

Saat keduanya berada dalam rumah kosong itu, datanglah sejumlah warga yang didampingi aparat kampung. Mereka bermaksud mengusir keduanya yang diduga akan berbuat mesum, tapi Ag tidak terima dengan ulah sejumlah warga yang mendatanginya.

Tersulut emosi, Ag pulang ke rumahnya dan mengajak para pemuda kampungnya mendatangi tempat kejadian perkara (TKP). Kepada para pemuda kampung, Ag menceritakan ihwal kejadian yang baru saja menimpanya.

Mendengar penuturan Ag, sejumlah pemuda mendatangi lokasi penggerebekan dan menemui warga di sana. "Tidak tahu bagaimana ceritanya, kedatangan sejumlah pemuda itu ternyata malah menyulut keributan dan berujung aksi saling pukul," kata Handak. (HER/D-3)