Sunday, April 24, 2016

Gitar Tunggal Tradisional Lampung, Pelajaran Dari Robeca.


Tak banyak yang tahu sebeleumnya bahwa di Universitas Lampung ada Mahasiswi asal America Robbeca namanya, jika saja tak ada festiuval Gitar Tunggal Lampung yang berakhir tanggal 17 April yang lalu. Pada malam final itu Rabecca muncul memtik gitar tunggal Lampung di dampingi seorang Ibu menyanyikan lagu Lampung sehingga pentilan gitar tangan halus Robecca menjadi lengkap untuk mengundang decak kagum penonton. Tak kurang dari seorang Kapolda Lampung Ike Edwin yang juga salah satu pewaris tahta kerajaan adat Paksi Pak Sekala Brak,  berkomentar, kita jangan kalah sama cewek bule dan nenek itu  katanya, menmgajak hadirin untuk meningkatkan apresiasi terhadap budaya Lampung, tampa memiliki apresiasi yang memadai tentu saja bidaya ini akan punah.

Saturday, March 5, 2016

Balada Kutukan Dari Lampung Tempo Doeloe

Oleh Endri Kalianda
Masih lebih lamakah kami kau tindas?
Karena uang hatimu telah menjadi kebal,
tuli terhadap tuntutan kedadilan dan akal,
menantang hati lembut bergelora kekerasan.
BAIT pertama pada sajak Balada Kutukan yang berjudul Hari Terakhir Orang Belanda di Pulau Jawa itu terjemahan Chairil Anwar dan dimuat dalam buku HB. Jassin.

Sajak yang menjadi penanda, ada seorang penjajah yang mengakui, darahnya mendidih dan memberontak karena menyaksikan penderitaan rakyat yang disaksikan, ditindas oleh bangsanya.

Sicco Ernst Willem Roorda van Eysinga atau kemudian lebih dikenal dengan nama Sicco atau SEW Roorda van Eysinga yang ternyata sehaluan dengan Multatuli atau Max Havelaar.

Apa bedanya Philippus Pieter (PP) Roorda van Eysinga (1796-1856) dengan SEW Roorda van Eysinga (1825-1887). Pertanyaan itu seketika terjawab dalam buku Mencari Jejak Masa Lalu Lampung oleh Frieda Amran ketika sampai di halaman 65.

Sunday, January 31, 2016

FRIEDA AMRAN, ANTROPOLOG, PERAWAT INGATAN TENTANG LAMPUNG

Penggila Udang dan Kepiting

oleh alexander gb

Sudah setahun ini, setiap pembaca koran harian Lampung Post, terlebih penyuka sejarah Lampung, tentu tidak asing dengan sosok satu ini, yang setiap minggu namanya terpampang di rubrik Lampung Tumbai. Satu rubrik yang mengulas tentang Lampung Tempo Doloe. Dia Frieda Amran, yang dengan tekun merawat ingatan–melawan lupa istilah Milan Kundera akan sejarah kita.

Bagaimana ia menikmati dan menjalani hidup, bagaimana ia mencintai dunia yang membuatnya jauh dari rumah, jauh dari kehangatan keluarga? Apa yang ingin dan bisa dilakukan wanita yang usianya sudah memasuki paruh baya tersebut?

Ada banyak pertanyaan yang berkelindan dalam benak saya, yang belakangan jumut dengan persoalan perkembangan dan pergaulan seni dan pemikiran, khususnya teater di Lampung. Meski pertemuan dengannya terbilang singkat, atau boleh dikata sepintas lalu saja. Tapi ada hal, yang secara umum bisa saya simpulkan, ia jatuh cinta pada kekayaan budayaan Sumbagsel. Karena rasa cintalah kami bisa bertemu, berbicara ngalor ngidul di jantung kota Bandar Lampung, di dekat kolam Hotel Grande, sebuah sore.