Saturday, March 5, 2016

Balada Kutukan Dari Lampung Tempo Doeloe

Oleh Endri Kalianda
Masih lebih lamakah kami kau tindas?
Karena uang hatimu telah menjadi kebal,
tuli terhadap tuntutan kedadilan dan akal,
menantang hati lembut bergelora kekerasan.
BAIT pertama pada sajak Balada Kutukan yang berjudul Hari Terakhir Orang Belanda di Pulau Jawa itu terjemahan Chairil Anwar dan dimuat dalam buku HB. Jassin.

Sajak yang menjadi penanda, ada seorang penjajah yang mengakui, darahnya mendidih dan memberontak karena menyaksikan penderitaan rakyat yang disaksikan, ditindas oleh bangsanya.

Sicco Ernst Willem Roorda van Eysinga atau kemudian lebih dikenal dengan nama Sicco atau SEW Roorda van Eysinga yang ternyata sehaluan dengan Multatuli atau Max Havelaar.

Apa bedanya Philippus Pieter (PP) Roorda van Eysinga (1796-1856) dengan SEW Roorda van Eysinga (1825-1887). Pertanyaan itu seketika terjawab dalam buku Mencari Jejak Masa Lalu Lampung oleh Frieda Amran ketika sampai di halaman 65.

Sunday, January 31, 2016

FRIEDA AMRAN, ANTROPOLOG, PERAWAT INGATAN TENTANG LAMPUNG

Penggila Udang dan Kepiting

oleh alexander gb

Sudah setahun ini, setiap pembaca koran harian Lampung Post, terlebih penyuka sejarah Lampung, tentu tidak asing dengan sosok satu ini, yang setiap minggu namanya terpampang di rubrik Lampung Tumbai. Satu rubrik yang mengulas tentang Lampung Tempo Doloe. Dia Frieda Amran, yang dengan tekun merawat ingatan–melawan lupa istilah Milan Kundera akan sejarah kita.

Bagaimana ia menikmati dan menjalani hidup, bagaimana ia mencintai dunia yang membuatnya jauh dari rumah, jauh dari kehangatan keluarga? Apa yang ingin dan bisa dilakukan wanita yang usianya sudah memasuki paruh baya tersebut?

Ada banyak pertanyaan yang berkelindan dalam benak saya, yang belakangan jumut dengan persoalan perkembangan dan pergaulan seni dan pemikiran, khususnya teater di Lampung. Meski pertemuan dengannya terbilang singkat, atau boleh dikata sepintas lalu saja. Tapi ada hal, yang secara umum bisa saya simpulkan, ia jatuh cinta pada kekayaan budayaan Sumbagsel. Karena rasa cintalah kami bisa bertemu, berbicara ngalor ngidul di jantung kota Bandar Lampung, di dekat kolam Hotel Grande, sebuah sore.

Monday, January 25, 2016

Peradaban Lampung dari Tayuhan Agung Sekala Brak



BANDAR LAMPUNG -- Dua orang petugas kerajaan menghadap Saibatin Peniakan Dalom Beliau (SPDB) Sultan Pangeran Sekala Brak Ke-23 Brigjen Edward Syah Pernong di rumah adat Lamban Kuning, Sabtu (23/1) siang itu.

Setelah melakukan penghormatan kepada Sang Sultan, keduanya pun nagguh atau mohon izin dengan kata-kata: Natabik kilu mahap, sikindua jama SPDB Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23, nattahko adok nitian di Lambang Kuning jo, khadu kuguaiko sikam khua jon, di segala liyu kurang na, sikam ngahantunko kilu mahap. (Bahasa Lampung, artinya: Perkenankan kami menghaturkan salam hormat dan permohonan ampun kehadapan Paduka Yang Mulia SPDB, bahwa prosesi penganugerahan gelar adat sudah kami laksanakan, atas lebih dan kurangnya kami mohon dimaafkan).

Dengan begitu, resmilah sudah menantu Sultan, yakni Kompol Dofie Pahlevi Sanjaya, berhak menggunakan adok atau gelar adat Rajo Gusti Dalom Sesuhunan. Dia juga menerima keris pusaka Sapusan Bumi dari sang mertua Sultan Sekala Brak.