Saturday, June 25, 2016

TITO



NAMA Tangga Buntung selama sepekan terakhir ini begitu akrab terdengar di telinga anak bangsa di negeri ini. Tangga Buntung adalah kampung halaman Muhammad Tito Karnavian, calon tunggal kapolri pilihan Presiden Joko Widodo.

Ada banyak nama tangga di Kota Palembang, di antaranya Tangga Panjang, Tangga Raja, dan Tangga Buntung. Masa kecil Tito banyak dihabiskan di Tangga Buntung, 36 Ilir, sebuah daerah yang dulu dikenal tempat preman bersembunyi.

Kini,  daerah itu disulap menjadi destinasi wisata terkenal. Terkenal karena terdapat situs Kerajaan Sriwijaya, tenun songket, tempat kuliner pempek dan kerupuk kemplang, serta dermaga–tempat dilepasnya lomba perahu bidar pada setiap peringatan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus.

Sunday, April 24, 2016

Gitar Tunggal Tradisional Lampung, Pelajaran Dari Robeca.


Tak banyak yang tahu sebeleumnya bahwa di Universitas Lampung ada Mahasiswi asal America Robbeca namanya, jika saja tak ada festiuval Gitar Tunggal Lampung yang berakhir tanggal 17 April yang lalu. Pada malam final itu Rabecca muncul memtik gitar tunggal Lampung di dampingi seorang Ibu menyanyikan lagu Lampung sehingga pentilan gitar tangan halus Robecca menjadi lengkap untuk mengundang decak kagum penonton. Tak kurang dari seorang Kapolda Lampung Ike Edwin yang juga salah satu pewaris tahta kerajaan adat Paksi Pak Sekala Brak,  berkomentar, kita jangan kalah sama cewek bule dan nenek itu  katanya, menmgajak hadirin untuk meningkatkan apresiasi terhadap budaya Lampung, tampa memiliki apresiasi yang memadai tentu saja bidaya ini akan punah.

Saturday, March 5, 2016

Balada Kutukan Dari Lampung Tempo Doeloe

Oleh Endri Kalianda
Masih lebih lamakah kami kau tindas?
Karena uang hatimu telah menjadi kebal,
tuli terhadap tuntutan kedadilan dan akal,
menantang hati lembut bergelora kekerasan.
BAIT pertama pada sajak Balada Kutukan yang berjudul Hari Terakhir Orang Belanda di Pulau Jawa itu terjemahan Chairil Anwar dan dimuat dalam buku HB. Jassin.

Sajak yang menjadi penanda, ada seorang penjajah yang mengakui, darahnya mendidih dan memberontak karena menyaksikan penderitaan rakyat yang disaksikan, ditindas oleh bangsanya.

Sicco Ernst Willem Roorda van Eysinga atau kemudian lebih dikenal dengan nama Sicco atau SEW Roorda van Eysinga yang ternyata sehaluan dengan Multatuli atau Max Havelaar.

Apa bedanya Philippus Pieter (PP) Roorda van Eysinga (1796-1856) dengan SEW Roorda van Eysinga (1825-1887). Pertanyaan itu seketika terjawab dalam buku Mencari Jejak Masa Lalu Lampung oleh Frieda Amran ketika sampai di halaman 65.