Wednesday, September 8, 2010

JEJAK ISLAM DI LAMPUNG (26)

NU AJARKAN "KITAB KUNING"

SEPERTI layaknya Persyarikatan Muhammadiyah, Organisasi kemasyarakatan Nahdlatul Ulama (NU) juga memulai kiprahnya di Lampung barat dengan jalur pendidikan. Selain madrasah, tokoh-tokoh NU kala itu juga membangun pondok pesantren.

Adalah K.H.A. Fattah yang menjadi penggerak pendidikan agama di Liwa, membuka Perguruan Tarbiyatul-Islamiyah (Perti) di Sukanegeri (kota Liwa). Pendidikan model pondok pesantren itu mengajarkan santrinya dengan “kitab kuning”, terutama untuk yang sudah mahir berbahasa Arab. "Santrinya banyak, dari Dusun Marga Liwa maupun daerah sekitar dan perguruan itu hanya mengajarkan tentang ilmu agama," kata tokoh NU K.H. Arif Mahya di Lampung Post beberapoa waktu lalu.

Namun, ada juga madrasah yang dibangun oleh kalangan NU di Liwa. Madrasah pertama yang dibuka NU terletak di Dusun Negeriagung, di bawah binaan seorang ulama tempaan NU yang pernah belajar di Jawa Timur, K.H. Fadhil. Saat itu memang sekretariat MWC NU Liwa berada di Negeriagung, tempat Pasiran Marga Liwa di masa itu. Sementara anggota NU semakin banyak dari dusun lainnya di Liwa.

Kemudian pada 1941, madrasah itu dikepalai K.H. Abdul Hay Ma'mun (ayah dari dosen Unila Zulyaden Abdul Hay) yang baru kembali dari belajar agama di Mekah. Dia sempat mendalami ilmu agama Islam di perguruan tinggi Darul Ulum, Mekah, Arab Saudi, saat datang langsung aktif di Majelis Wakil Cabang NU Liwa.

K.H. Abdul Hay Ma'mun dibantu sejumlah pengajar lainnya, seperti K.H. Husin dari Dusun Watos, M. Yatim (Padang Dalom), Ma'ad (Krui) dan M. Napis (Manna). Madrasah itu semakin pesat. Siswanya berasal dari berbagai daerah.

Pada masa itu, MWC NU Liwa juga semakin kuat dengan jumlah anggota yang banyak—terutama karena sebagian besar masyarakat berpaham ahlusunah waljamaah (aswaja). Bahkan di depan madrasah itu pernah digelar openbaar basar atau tablig akbar. Sejumlah tokoh NU dari Palembang datang pada kegiatan itu, seperti K.H. Abubakar Bastari, Abdullog Gathmyr, dan K.H. Tjik Wan.

Di bidang kepemudaan, pengurus MWC NU Liwa mulai membentuk Pandu Anshor untuk kegiatan anggota pemudanya dan Fatayat NU untuk anggota putri. Mereka saat itu diajarkan model kepanduan sebab pelajaran itu sangat berguna jika suatu saat akan bergerilya melawan tentara penjajah. (MUSTAAN/E-1)

Sumber : Lampost 6 September 2010

No comments:

Post a Comment