KUE lapis legit berharga Rp700 ribu seloyang itu dibuat oleh nenek tua.
Padahal, di toko kue, nama yang sama harganya tidak separuhnya. Mengapa?
Loyang-loyang itu berjejer di dalam oven besar. Sesekali Nenek Hanim
(70) melongok ke dalam oven untuk memastikan kue lapis legit yang
dibuatnya tak gosong.
Sejak sepekan terakhir, nenek ini hanya berkutat di dapurnya, dari pagi
hingga malam hari. Ia baru akan berhenti saat waktu salat dan berbuka
puasa saja. "Pesanan legit dan engkak ketan sedang banyak," kata dia di
dapur kerjanya di bilangan Jalan Pagaralam, Bandar Lampung, Rabu lalu.
Ia hanya dibantu dua orang tetangganya yang sengaja dibayar untuk
membantunya. Tugasnya pun hanya sekadar mengadon dan menyiapkan
bahan-bahannya saja. Urusan takaran bahan sampai memasaknya di oven
mutlak menjadi kewenangan Nenek Hanim.
Ia khawatir jika semuanya diserahkan ke dua pembantunya itu akan membuat
kue-kue itu tak jadi. "Pinggang pegal sekali setiap hari," ujarnya.
Setiap loyang legit atau engkak ketan dijual seharga Rp700 ribu untuk
loyang besar dan Rp400 ribu untuk loyang kecil. "Semua harga bahan sudah
pada mahal. Telur, gula harganya naik semua karena bensin naik jadi
ikut-ikutan naik. Apalagi mau Lebaran.?
Demikian halnya dengan kue segubal. Ia mengaku bisa membuat kue berbahan
ketan yang dibungkus dengan daun pisang ini. Biasanya disandingkan
dengan tapai ketan.
Harga segubal lumayan murah, hanya Rp10 ribu per gulungnya. Tetapi ia
mengaku membatasi pesanan segubal ini karena ia kesulitan mencari daun
pisang untuk membungkus ketan itu. "Kalau tidak dibungkus dengan daun
pisang rasanya tidak enak. Sekarang cari daun pisang susah, kalau ada
yang jual harganya mahal. Makanya saya cuma buat 30 kilo ketan saja
untuk segubal, takut nanti malah nombok," ujar dia.
Saat menjelang Lebaran seperti sekarang ini, dia mengakui pesanan sangat
banyak. Dalam sehari, ia harus menyelesaikan sedikitnya 6 loyang.
Sampai dengan sehari sebelum Lebaran, pesanan sebanyak 49 loyang harus
sudah selesai.
Pemesannya tersebar dari mana-mana. Bahkan ada yang dari Jakarta, yang sengaja memesan kepadanya untuk dibawa ke Jakarta.
Ia bahkan terpaksa menolak jika ada pesanan baru karena khawatir tak
selesai."Ini saja buat orang semua. Buat di rumah saya sendiri aja belum
tahu kapan buatnya.?
Soal kue-kue klasik Lampung yang dijual di toko-toko kue, Nenek Hanim
mengatakan tidak sama. Kue lapis legit yang banyak dijual di toko-toko
kue umumnya sudah banyak mengalami modifikasi yang citarasanya jelas
jauh dari kue lapis legit yang asli.
"Kue legit atau engkak ketan yang asli itu seperti basah, karena ada
margarin dan gulanya dan tahan sampai berbulan-bulan. Tidak seperti
legit-legit yang dijual sekarang," kata Nenek Hanim.
Karena itu, jangan pernah menawar harga seloyang lapis legit yang ukuran
besarnya bisa mencapai Rp700 ribu. Karena membuat legit bukan seperti
membuat kue-kue biasa.
Demikian halnya, Ny.Tan, spesialis pembuat kue, mengakui tingginya
pemesan kue basah meski masih didominasi pelanggan-pelanggan lamanya.
"Banyak pesanan, walaupun kebanyakan pelanggan-pelanggan lama saya. Dari
nenek sampai cucunya sekarang masih pesan ke saya," kata Ny. Tan.
Situasi perekonomian saat ini yang membuat semua harga kebutuhan
melonjak naik memang memaksa Ny. Tan untuk memodifikasi kue-kue lapis
legit dan engkak ketannya seperti ukuran kue. "Karena itu harga kue yang
saya jual tidak pernah naik, hanya ukurannya saja yang saya kurangi."
Ia juga tak melulu menjual kue-kue itu dalam bentuk loyang. Kemampuannya
membuat kue akhirnya memodifikasi kue legit dan engkak ketan dalam
bentuk gulungan dan berbagai motif tak hanya berbentuk lapis saja tapi
juga berbentuk anyaman, sulam bahkan tapis.
"Kalau satu loyang itu sama dengan empat gulung, dengan motif yang
berbeda. Piring-piring kue meski hanya satu jenis kue legit tapi
motifnya berbeda-beda." (MEZA SWASTIKA/DIAN WAHYU/M1)
Sumber:
Lampung Post, Mingggu, 4 Agustus 2013