Tuesday, September 17, 2013

Kerjaan Skala Brak Digoyang


                       Lamban Gedung Istana Paksi Pak Skala Brak

KERAJAAN Paksi Pak Skala Brak digoyang, dipertanyakan keabsahannya. Hal ini dikuatkan oleh Lembaga Adat Megow Pak Tulangbawang, bersama Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) Lampung, serta pengamat kebudayaan Lampung. 
Menurut Wakil Ketua Perwatin Adat Megow Pak, Ratu Perwira, dalam Perda No:4/2008, tentang sesanti Sai Bumi Ruwa Jurai jelas tercantum, Lampung hanya memiliki dua jurai adat Sai Batin Pepadun. Sementara adanya Kerajaan Paksi Pak Skala Brak merupakan sebuah lagenda yang terjadi secara turun temurun dan tidak ada bukti autentik yang menyebutkan siapa dan bagaimana silsilah kerajaan itu.
" Dari perda tersebut jelas, tidak ada yang adat yang membawahi atau lebih tinggi dari adat lainnya, semuanya sama dan memiliki dan memiliki kedudukan yang tidak dibeda bedakan, serta dua adat tersebut tidak dapat disatukan sampai kapanpun. Saat ini kan jelas, Jika tidak ada lagi kerajaan dalam adat Lampung, sehingga bagi yang menobatkan diri sebagai raja, dimana bukti autentiknya." urai Ratu Perwira, saat ditemui Wartawan di Kantor Gubernur, Senin (16/9)

Dilanjutkannya, Kerajaan Skala Brak perlu dilakukan penelitian lebih lanjut, sehingga terkumpul bukti bukti yang kuat mengenai silsilah kerajaan, serta dapat teruji kebenarannya. Pasalnya sejak Lampung berdiri dan berbagai sejarahwan Lampung tidak memiliki data pasti, serta belum menemukan siapa keturunan kerajaan tersebut yang masih ada hingga saat ini.
"Kami minta jangan sampai adat Lampung ini dijadikan komoditi politik. Jangan termakan politisasi, dan tidak mudah terpecahbelah," imbuhnya.
Sementara Chairullah AY Pengamat adat Lampung menegaskan, Ia merasa keberatan dengan adanya Kerajaan Paksi Pak Skala Brak. Pasalnya saat ini tidak ada lagi dikenal istilah kerajaan. Hanya ada raja-raja kecil di lingkup adat.
"Saya hanya mengetahui di Lampung Barat, atau saat ini sudah menjadi Pesisir Barat, tidak mengetahui ada raja atau atau tidak. Dulu saya memang mendengar ada Kerajaan Skala Brak, namun tidak pernah mengetahui keturunan vertikal kerajaan itu. Dari tahun 1980 tidak pernah ada dan sudah saya telusuri," Ujar Chairullah.
Lanjutnya, di Krui terdapat empat paksi, seperti paksi Way Blunguh di Liwa dan way Nyerupa, Paksi Buay Prenong di Batubrak, Paksi Buay Bejalan di Way Kembahang.
Seperti diketahui, Edwarsyah Prenong, yang merupakan Sultan Kerajaan Skala Brak melakukan silaturrahmi  bersama para tokoh adat pepadun dan saibatin di Lamban Gedung Kuning Istana Kerajaan Islam Paksi Pak Skala Brak, di Korpri Sukarame, Bandar Lampung, sabtu (14/9). Dalam kesempatan tersebut tersirat kerajaan ini akan menyatukan Dua Jurai Adat Lampung, sehingga lembaga-lembaga adat di Lampung tidak menerima dan mempertanyakan keabsahan kerajaan itu (RK-6) (Sumber : Lampung Ekspres Plus, Selasa 17 September 2013)

7 comments:

  1. Ratu PerwiraChairullah AY Pengamat adat Lampung ??? apa yang dia amati sampai2 keberadan sekala brak ga mau dia fahami. atau dia mengamat sesuatu atas pesanan?? hadeh.. payah..

    ReplyDelete
  2. Seharusnya MPAL memanggil Syahpernong CS untuk Klarifikasi tentang Klaim2nya selama ini yg tidak ada bukti secara otentik, Bagaimana bisa seorang dari salah satu buay atau Marga di salah satu paksi menonjolkan diri sebagai Raja, sedangkan keturunan2 Keratuan darah Putih (Kalianda), Keratuan Melinting yg masih ada keturunannnya sekarang berani beliau di lengkahi.
    ni harus jadi perhatian utama untuk MPAL menyelesaikannya, maju terus MPAL, jaga Martabat dan Harkat Adat Budaya Lampung, Semoga Allah memberi kemudahan.

    ReplyDelete
  3. Dunia Islam kok pikirannya su'udzon dan fitnah. ?? itu aja deh yg di koreksi dulu. oke.. Ibda' binafsik... fahimtum. Monggo belajar sekala brak dari sekala brak ya mas arya purbaya ( FB ) jangan hanya dari luar, akhirnya kesimpulan anda menyesatkan.

    satu saja : Paksi Pak memiliki 4 sultan. seorang sultan memerintah paksi, dari dalam satu paksi terdapat banyak kelompok2 adat yang menyebar dan membentuk buay/ marga keluaran dari masing2 paksi. sudah selayaknya meraka selalu menghimpun diri dan hingga hari ini setiap buay/marga keluara paksi pak masih mencintai paksi asal mereka. Sedangkan untuk bukti2 kerajaan banyak sekali tersebar disekala brak, kalo arkeolog bisa faham itu, atau setidaknya pandai dalam menjaga ucapan, tapi klo orang2 ga mumpuni semacam ratu perwira n chairullah ay, dan mungkin juga arya purbaya (admin dunia islam) ini coba2 buat kesimpulan tak menemukan bukti, ya wajar lah begitu.

    Beliau sultan2 paksi hanya menjalankan amanah dan tradisi dari nenek moyangnya, punya silsilah jelas. nah kalo MPAL menjalankan amanah siapa ?? ( tentunya pesanan penguasa organisasinya itu ) dan mengakomodir segelintir orang seperti arya purbaya ini. salam. Tabik..

    ReplyDelete
  4. .(Non poltic,No SARA. )

    Ass.wr.wb..numpang singgah ,tp hanya sekedar mengulas koment.. Karena kt jg tdk bleh su,udyon juga,sesama saudara,injuk hani umpu ni tamong, dang telali ga, aji gila ikah lalika,.Begini,.menurut faham saya,namun faham ini bkn bermaksud menggurui. Barangkali,yg dimaksud puari jak keBuayan MegouPak, bahwa keraja,an yg bernama "sekala bgha" yg sdh dianuti slma ratusan tahun itu tdk pernah ada,karena,menurut literatur tiongko..yg tercatat di negri itu adalah nama To-la-po ang..kemudian di lapaz kan dngan bhs bibir kt,.dngan nama Tulang Bawang,.Dan puari jak Megoupak, meyakini bhwa nama tsb,adalah mastuten nya mrka,Sedangkan,.jika kt rajin membalik balik cttn sejarah..tolang poang, td nya,adalah translet dr kata nama. so-la-po-on. dari nama inilah ,generasi skrng bernama Lappung..Dmikian lah,hny skdr pencerahan..lain kik ngajak khigu :D

    ReplyDelete
  5. baik MPAL maupun Skala Brak saya duga masing2 ingin meninggikan diri / kelompoknya.
    saya juga melihat ini dari cara Skala Brak saat mengadakan acara marga pesisir kalianda "pulang kampung" ke skala brak.
    namun setelah diamati, para "kepala marga" yang mengaku mewakili marga2 kalianda tersebut tidak pernah diketahui dan tidak pernah ada di catatan / dokumen Hindia-Belanda.

    para kepala marga yang sebenarnya justru seperti coba dibenamkan dan disembunyikan oleh Edward Pernong dengan cara memunculkan "kepala marga" abal-abal.

    cara ini persis seperti yang dilakukan Belanda di awal tahun 1900. mengangkat anggota marga untuk dijadikan kepala marga tandingan demi tujuan "menyembah" Belanda.

    ReplyDelete
  6. Berhubung raja di lampung ini banyak jdi intinya semua nya adalah raja lampung, jadi artinya raja lampung ini lebih dari 1. jadi bukan 1 raja. kalo memang lampung ini terdiri dari 1 raja sejak dahulu (raja lampung), artinya dari jaman nenek moyang kita dahulu maupun orang2 tua dahulu (selampung) mereka tau mana yang raja yang sejak dahulu ada di akui sebagai raja. karna yang namanya raja sudah tentu dan pasti membela rakyat nya dan sudah pasti melawan belanda. itu lah raja sesungguhnya yang memang di akui oleh seluruh orang lampung, karna apabila sekali jadi raja akan selalu jadi raja. jadi seharusnya warga lampung sudah bisa menilai mana yang benar2 di akui menjadi raja sejak dahlu, raja untuk rakyat dan mana raja2 yang baru muncul atau populer. karna logika persentase nya jika 30% - 70% seluruh lampung mengakui yg 70% sudah pasti dia adalah rajanya. jika memang raja lampung (siapa saja) sudah pasti dan mutlak tanpa kampanye warga selampung yang mengakui nya bukan atas organisasi, atau segelintir masyrakat apa lagi perorangan.

    ReplyDelete
  7. jadi puakhi2 dan sekelik2 sekalian seharusnya kita sudah bisa menilai. Tidak perlu kita berbicara sepatah kata pun bahkan jika kita berjalan pun orang akan menundukan kepala apabila kita di akui sebagai raja oleh seluruh masyarakan. begitu juga sebaliknya. kalo ada yg tidak setuju dengan persepsi saya ini apa lagi ngotot berarti orang itu bodoh. udh gitu aja ngukurnya.

    ReplyDelete