Wednesday, May 25, 2022

SUHROWARDI KINI TELAH TIADA

 

15 MEI 2022 yang lalu bener benar kenangan yang sangat indah. Keindahan panorma Teluk Kenyo  dengan lafar belakang tanah pebukitan yang ijo royoroyu. Sebuah danau kecil disebut Teluk Kenyo itu terletak di tengahj tengah perkebunan sawit milik rakyat, membuat kami betah duduk duduk  saling berpandangan. Suasana teduh itu membuat hati ini senang dengan seneka melupakan harga sawit yang tak berdaya dinaikkan harganya. Kami mlupakan sejenak ketika Negeri tercinta ini sebagai penghasil sawit terbesar tetapi secara aneh bin nyata kami ketiadaan minya goreng, minyak goreng langka sehingga Emak Emak terpaksa antrian sekedar untuk membeli minyak goreng kebutuhan sehari hari. Karena Pemeritah kami dengan berat hati harus takluk kepada Aligarki yang berdiri sombong berkacak pinggang, Negara kami mereka kuasai secara huina. 

Kami terhibur ditengah rintihan duka nestapa  dalam ketidak berdayaan mengantisipasi keinginan oligarki dengan segala kecongkaannya. Saya, Alpian, Sunari dan Kasyati teman sekelas lulusan SDN 1 Pagelaran tahun 1968, kami lulus pada saat Indonesia berhasil melepaskan diri dari Penghianatan Komunis  kesekian kalinya. Dengan segala kepapaan kami  disaat kami Pensiun Negeri ini kembali sesng merasa kepedihan hidup, itu berhasil kami lupakan, sejenak kami melupakan kesusahan itu dengan reuni di teluk Kenyp Pasiukir Pagelaran Kabupaten Pringsewu.Tidak terlalu banyak kata dan canda kami lontarkan, tetapi kamisang dalam bertukar pandang, lamat lamat terucap doa untuk para sahabat  semoga disisa usia kita yang tak muda lagi ini semoga saja kita tidak didera dengan kesedihan kesusahan, kami tak tahu akan sampai kapan kami bisa bertahan hidup dan kembali menghadiri reunian yang diselenggarakan kawan kawan se alumni ini. 



Pada saat itulah Saudara kami seangkan Suhrowardi telah meninggal dunia. 

Thursday, April 21, 2022

JAUH DARI MAKSIMAL TAPI SAYA MENSYUKURI

 

FOTO YANG satu ini ingin saya katakan bahwa  ini adalah foto yang sangat berkesan bagi saya, saya bekerja di Kanwil Depdikbud Prov Lampung yang kelak diintegrasikan  dengan Dinas Pendidikan   di Bidang Permuseuman Sejarah dan Purbakala serta Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Bidang garapan pada saat masih di Kanwil antara lain Kesejarah dan Nilai Tradisional, Permuseuman dan Kepurbakaan  serta Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Saya sendiri pengalaman Pendidikan adalah Jurusan Aqidah dan Filsafat, maka begitu masuk ke lingkungan tempat kerja maka yang paling cepat saya bisa berintegrasi adalah dalam Bidang Kesejarahan dan Nilai Tradisioan, serta Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Sedangkan terkait Permuseuman dan Kepurbakaan terasa sekali saya memang membutuhkan waktu untuk bisa mengintegrasikan dengan disiplin ilmu yang selama ini saya dalami. 
 
Sesingkat saya bekerja di Kanwil Depdikbud Prop Lampung seingat saya ada dua orang arkeolog yang bekerja disitu yaitu Pak Enjat , Ibu Erna dan Pak Oki, lalu datang Laki Pak Budi. Pak Endjat dan Bu Erna disatukan Pemda sudah Mutasi ke Jakarta, sementara Pak OKI dan Pak Budi tetap bertahan di tugaska di Museum. 
 
Sebelum Kanwil Depdsikbud melebur ke Dinas Pendidiksan saya masih bertahan di Bidang Musjarah dan konsentrasi melaksanakan tugas  program, utamanya Program Kesejarahan dan  Nilai Nilai Tradisional  Sebenarnya yang saya tahu ada dua orang  yang memiliki latar belakang Study jurusan Sejarah, tetapi keduanya sunad mninggal dunia dan belum sempat menggarap aspek kesejarahan yang sebenarnya merupakan biudang garapan. Musjarah termasuk Museum sebagai UPTmya. 
 
Dari sekian banyak Bidang Garapan saya banyak berpartisipasi dalam bidang nilai nilai tradisional dan keadatan, dan khususnya tentang Falsafah Piil Pesenggiri di mana Falsafah Piil Pesenggiri Lampung itu hingga saat ini memang selalu terucap dalam berbagai kesempatan, pertemuan dan pembelajaran, bahkan sekarang sudah banyak dijadikan bahan penelitian oleh para Mahasiswa untuk tugas akhir Studynya baik S1 maupun S2 cdan S3, karena memang ternyata di mata para akdemisi itu Falsafah Piil Pesenggiri memiliki nilai nilai edukasi yang sangat menjanjijkan. Dan saya memiliki ketrtarikam khusus fal safah Piil Pesenggiri yang muncul dan berkembang Lampung itu.







 

Wednesday, April 20, 2022

EH ... HITUNGAN ORANG MAORI MIRIP HITUNGAN ORANG LAMPUNG

' 

BULE AUSTRALI  ini gemar ngepreng bule lainnya dengan menggunakan bahasa Jawa yang dikuasainya secara luar biasa, banyak kita yang Non Jawa yang jujur tak keberatan memberikan acungan jempol kepada Bule Austraia yang satu uni dalam keterampilan berbahasa Jawa.  Tetapi dalam youtube yang satu ini si Bule Australi kena batunya, karena Ia nge-Preng seorang asing dengan bajhasa Jawa, dan yang menjadi sasaran  justeru berpura pura bego gak ngerti bahasa Jawa, 

Ada sekitar  puluhan menit orang di preng, tetapi yang bersangkutan pura pura dongok gak ngerti bahasa Jawa, sampai suatu saat dalam dialog bahasa Ingris si Bule mengaku dia tinggal di Madura, lalu secara mengejutkan yang di preng sontak bertanya anda tinggal di Madura nya di mana, sehingga terjadilah serangkaian dialog yang menggelikan. 

Maka terjadilah perkenalan secara baek baek dan dari perkenalan itu terjadilah dialog yang benar benar sangat mengejutkan. si Bule itu ternyata dari Selandia Baru, Saya sangat terkejut sekali ternyata setelah kedua narasumber itu saling tukar informasi ternyata bahwa Bahasa Maori itu adalah bahasa penduduk asli Selandia baru  Yang paling mengejutkan adalah ucapan atas hitungan versi Naori itu kok mirip sekali dengan bahasa Lampung antara lain  (1) Tai (Lampung Sai)  (2) Ruwa (Lampung Ruwa) (3) Teru  (Lampung Telu) (4) Pak (Lampung Pak)  (5) Rima  (Lampung Lima) (6) Ono ( Lampung Nom) 7 Witu ( Lampung Pitu) 8. Waru (Lampung Walu)  9. Iwa (Lampung Siwa) 10. Tekau (Lampung S'puluh)


Saya kira ini tidaklah berlebihan bila ini saya anggap bukan sesuatu yang hanya biasa, tetapi luar biasa, karena menurut saya bukanlah sesuatu yang hanya kebetulan saja. Walaupoun ini baru saja dalam hitiungan dari satu sampai sepuluh hampir keseluruhan memiliki kemiripan ucap kecuali angka sepuluh yang oleh orang orang Maoru disebut "Tekau" .  Bisa saja memang ada beberapa Bangsa memiliki kesamaan dalam mengucap hitungan satu sampai sepuluh, itu bisa saja. Tetapi kalaupun itu terjadi umpamanya juga saya yakin itu tidak terjadi secara kebetulan, artinya barangkali pernah terjadi kontok kontak diberbagai urusan, yang artinya ada pristiwa sejarah manusia dalam beraktivitas. Seperti apa yang saya samapikan di atas mungkin juga ada kontak antara  terjadi pada masyarakat Lampung dan Maori.

Tapi tyidaklah ada salahnya bila kebutulan Anda sebagai Orang Lampung memiuliki kesempatan jumpa  dengan orang Maori maka tidak salahnya bila Anda iseng iseng bertanya tanya dengan Sahabat Maori Anda mungkin saja ada menanyakan beberapa kebiasaan makanan dan kebiasaan lainnya siapa tahu kebiasaan itu masih mereka pertahankan sampai dengan sekarang. Semua bisa terjadoi koq ... hehe 

Wallohu A'lam.