Satu jamaah haji asal Lampung Barat atas nama Salma
Jaimin Mulum, warga Pekon Sukarame, Kecamatan Belalau, meninggal dunia
di tanah suci Makkah pukul 11.50 WAS. Selain itu, jumlah jamaah haji
asal kabupaten tersebut yang menderita sakit bertambah. Jika sebelumnya
hanya satu jamaah atas nama Kromo Yamin, warga Kecamatan Suoh, kini
bertambah Aksin Ahsan Santri, warga Pekon Penegahan, Kecamatan Lemong,
juga mengalami sakit. Keduanya sekarang ini masih menjalani perawatan di
Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI), Arab Saudi.
’’Informasi
dari Makkah, jamaah yang meninggal dunia itu tanpa mengalami sakit dan
mengembuskan nafas terakhirnya ketika berada di penginapan haji. Kini
jasadnya sedang diurus maktab untuk dimakamkan. Sedangkan dua jamaah
yang sakit diperkirakan karena kelelahan, sehingga keduanya tidak bisa
menjalankan ibadah haji,’’ ujar Kepala Kementerian Agama (Kemenag)
Lambar Drs. Khobiransyah kepada Radar Lambar (grup Radar Lampung)
kemarin.
Menurutnya, kini jamaah haji asal Lambar sudah kembali ke
pondokan di Makkah setelah selesai melakukan kegiatan armina. ”Prosesi
haji sudah selesai. Kini tinggal yang sunah-sunahnya saja sembari
menunggu ke Madinah untuk melakukan arbain. Selain kedua jamaah haji
yang sakit, Alhamdulillah jamaah yang lain seluruhnya dalam kondisi
sehat,” ujarnya.
Khobiransyah menambahkan, pihaknya berharap
masyarakat mendoakan untuk kesembuhan kedua jamaah yang sedang sakit itu
sehingga bisa melaksanakan ibadah haji dengan khusyuk. ’’Kita berharap
pelaksanaan ibadah haji tahun ini berjalan lancar dan seluruh jamaah
haji dapat kembali ke tanah air dengan kondisi sehat,” harapnya.
Terpisah, Kemenag tidak mau disalahkan dengan banyaknya jamaah haji
sakit dan manula yang diberangkatkan ke Saudi. Mereka menyebut Kemenag
tidak bisa pilih-pilih memberangkatkan jamaah yang sehat dan muda-muda
saja.
Inspektur Jenderal (Irjen) Kemenag Mochammad Jasin
mengatakan, Kemenag bukan berarti mengambil risiko dengan
memberangkatkan calon jamaah haji yang sakit dan manula dalam jumlah
besar. Jasin menjelaskan, pemberangkatan jamaah terkait dengan pelayanan
moda transportasi udara.
"Selama jenis penyakit dan tingkat
kesehatannya masih diperbolehkan dalam aturan penerbangan sipil, tidak
ada alasan untuk melarang," katanya saat dihubungi kemarin.
Jasin
menuturkan, berlaku aturan penerbangan sipil internasional. Dalam
aturan itu, memang ada sejumlah penyakit yang dilarang terbang. "Yang
dilarang dalam regulasi ini adalah kanker stadium 4 dan penyakit
berbahaya menular seperti HIV," ujarnya.
Menurut Jasin,
pemberangkatan jamaah haji dalam keadaan sakit atau manula sejatinya
tidak menjadi persoalan. Asalkan terdapat pendamping yang mengikuti
terus selama berhaji, Jasin mengatakan bisa mencegah kondisi memburuk.
Mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu menuturkan,
pembatasan atau bahkan larangan jamaah lansia dilarang berhaji tidak
bisa dijalankan pemerintah. "Karena berhaji itu menyangkut hak beribadah
seseorang," paparnya.
Jasin menjelaskan, sebagian jamaah
mungkin saat mendaftar usianya 40-an tahun sampai 50-an tahun. Tapi,
karena antrean haji sekarang panjang sekali, usianya menjadi tua saat
berangkat ke Saudi. "Tidak dipungkiri juga ada jamaah yang memang ingin
meninggal di Makkah atau Madinah," katanya.
Upaya paling
bijak, menurut Jasin, bukan melarang jamaah sakit atau manula berhaji.
Tapi, mengoptimalkan sosialisasi kesehatan dan kinerja tenaga medis.
Jasin berharap semakin banyak petugas kesehatan profesional yang dikirim
ke Saudi. Dia juga meminta seluruh tenaga medis harus fokus melayani
jamaah haji. Tidak seperti selama ini, konsentrasinya terpecah antara
melayani jamaah dan nyambi berhaji untuk dirinya sendiri.
Sementara itu, Jasin juga menjelaskan persiapan pemulangan jamaah haji
dari Jeddah yang dimulai hari ini (9/10). Di antara persiapan yang telah
dilakukan panitia adalah, pengumpulan dokumen dan pendataan paspor.
Kemudian juga menimbang bawaan jamaah sejak di Makkah supaya tidak di
bongkar-bongkar ketika berada di Bandara Jeddah.
Lalu, armada
bus yang mengangkut jamaah dari Makkah ke maktab Jeddah juga
dipersiapkan. "Pemberangkatan dari maktab Jeddah menuju bandara, kita
dorong dalam waktu delapan jam sebelum pesawat lepas landas," urainya.
Persiapan lainnya adalah pengadaan katering untuk jamaah selama di Bandara Jeddah.
Persiapan yang tidak kalah penting adalah mendeteksi suhu tubuh jamaah
yang akan pulang ke tanah air. Jika ditemukan jamaah dengan suhu badan
tinggi, akan diperiksa lebih lanjut. "Panas tinggi merupakan salah satu
gejala MERS-CoV dan ebola," ungkapnya.
Jamaah yang suhu badannya tinggi akan dirujuk ke BPHI di Makkah. Jika kondisinya parah, dirujuk lagi ke RS Arab Saudi.
Data terbaru dari pusat kesehatan haji Kementerian Kesehatan kemarin
sore, jumlah jamaah haji meninggal mencapai 138 orang. Jumlah jamaah
haji yang dirawat inap sebanyak 1.418 orang dan terbanyak di Makkah 913
orang. (lus/rnn/jpnn/p3/c2/ary)