Senin, 14 April 2014

Gubernur Lampung Luncurkan Buku Di Alkhir Pengabdian


GUBERNUR Lampung Sjachroedin ZP meluncurkan buku "Merampungkan Tugas Sejarah" Memoar Komjen Pol (Purn) Drs Sjachroedin ZP SH Satu Dekade Memimpin Pembangunan Lampung (2004-2014), karangan Zulfikar Fuad, sekaligus tanda berakhir masa jabatannya pada 2 Juni 2014 nanti.

Gubernur Lampung Sjachroedin ZP menunjukkan buku biografi
"Merampungkan Tugas Sejarah" karangan Zulfikar Fuad yang
diluncurkan di Hotel Novotel Bandarlampung, Senin (17/3) malam.
(FOTO: ANTARA LAMPUNG/Kristian Ali).
Gubernur Sjachroedin ZP, di Hotel Novotel Bandarlampung, Senin (17/3) malam, mengaku pada awalnya tidak mau untuk dibuatkan sebuah buku, namun ada penulis dari Jakarta yang menawarkan sehingga akhirnya dia menyetujuinya serta mempersilakan mencari bahannya sendiri hingga dicetaklah buku ini.

Melihat Sejarah Lampung Dari Satu Sisi

Oleh Udo Z. Karzi

Dengan gaya tuturan langsung, akan sangat terlihat bagaimana kekhasan Sjachroedin berbicara: apa adanya, tanpa tedeng aling-aling, dan terkadang meledak-ledak. Cukup memadai untuk memahami karakter Oedin, terutama selama memimpin Lampung.

Data buku:
Merampungkan Tugas Sejarah: Memoar Komjen
Pol. (Purn.) Drs. H. Sjachroedin Z.P., S.H.
Satu Dekade Memimpin Pembangunan Lampung
(2004- 2014)

Zulfikar Fuad
Alifes Inc.-by PT Media Kisah Hidup, Jakarta
I, Januari 2014
xvi + 292 hlm.
MEMBACA, mendengar, dan menyaksikan sendiri sepak terjang seorang Sjachroedin selama satu dasawarsa memimpin Lampung memang terasa menggetarkan. Ya, memang butuh orang yang luar biasa dalam memimpin provinsi ujung pulau ini. Wajar jika ada ujaran yang menyebutkan, "Kalau bukan Bang Oedin..." Sungguh tak terbayang bagaimana jadinya Lampung.

Menjelang habisnya masa jabatannya, Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. memberikan kenangan indah bagi masyarakat berupa sebuah memoar: Merampungkan Tugas Sejarah, Memoar Komjen Pol. (Purn.) Drs. H. Sjachroedin Z.P., S.H. Satu Dekade Memimpin Pembangunan Lampung (2004-2014).

Memoar ini ditulis Zulfikar Fuad, seorang penulis kisah hidup yang berpengalaman menulis biografi berbagai tokoh, seperti Susilo Bambang Yudhoyono, B.J. Habibie, Andi Achmad Sampurnajaya, dan Abdurrachman Sarbini.

Ini memang bukan buku pertama tentang Sjachroedin. Sebelumnya, Demimu Lampungku, Padamu Bhaktiku, Untukmu Indonesiaku yang ditulis Harun Muda Indrajaya dkk. dan Inspirator Tanpa Kultus (2013) karya Hesma Eryani. Boleh dibilang ini buku ketiga mengenai Sjachroedin.

Namun, berbeda dengan dua buku sebelumnya yang menggunakan pendekatan biografis dengan sudut pandang orang ketiga (dia, Sjachroedin), Merampungkan Tugas Sejarah ditulis dengan pendekatan memoar dengan sudut pandang orang pertama (saya).

Minggu, 23 Maret 2014

Menjaga Muruah Budaya Lampung

Oleh Prof. Dr. Sudjarwo

SEBAGAI orang yang hidup, besar, dan—kalau boleh minta—mati di Lampung, ada semacam kebanggaan tersendiri jadi warga daerah ini. Perasaan keindonesiaan dari hari ke hari memang tumbuh tersemai dengan pupuk keanekaragaman suku bangsa dan keanekaragaman budaya. Ini menjadi semacam penanda yang khas di daerah ini.

Sebagai nomenklatur keindonesiaan, pelan tetapi pasti, melalui instrumen budaya terus berproses. Akulturasi, amalgamasi, perlahan terus maju menyeruak ke jantung Lampung dalam arti budaya. Benar adanya, jika ada korban terpinggirkan, tetapi tetap harus diakui pelestarian, paling tidak pada tata nilai, tetap terus diperjuangkan.

Rabu, 26 Februari 2014

[Fokus] Gunungsari, Kampung Tua Bandar Lampung


Oleh Meza Swastika

Tak bisa dipungkiri, Gunungsari menjadi denyut nadi utama Bandar Lampung sejak 1950-an. Ia sebagai pusat perekonomian dan daerah transit karena stasiun dan terminal berada di situ.

Permukiman Kelurahan Gunungsari
MANDALAWANGI, bus ukuran tiga perempat itu berhenti di salah satu sudut Pasar Tengah. Serombongan pemuda langsung berlari ke arah penumpang yang turun dari bus engkel itu. Beberapa di antara mereka terlihat menarik barang-barang bawaan milik penumpang.

Buku "Mengapa Kita Berkonflik?" Masuk Perpustakaan Leiden



BUKU terbitan Indepth Publishing "Mengapa Kita Berkonflik?" yang ditulis para akademisi, peneliti, jurnalis, pemuka agama, dan aktivis LSM di Lampung, sudah masuk dan dapat dibaca di Perpustakaan KITLV Leiden Belanda.

Managing Director Indepth Publishing Tri Purna Jaya di Bandarlampung, Rabu (12/2), mengatakan bahwa pihaknya berusaha mendistribusikan buku-buku terbitan Indepth ke perpustakaan-perpustakaan ternama di dunia.


"Selain ke KILTV Leiden di Belanda, kami juga meminta bantuan penulis-penulis yang tengah menempuh studi di luar negeri agar dapat memasukan buku-buku itu ke perpustakaan di tempat mereka menempuh studi, seperti di Jepang, Prancis, Malaysia, dan berbagai negara lainnya," katanya.

Rabu, 12 Februari 2014

[Komunitas] Menggali Budaya Lampung lewat Komunitas Belajar

Oleh Dian Wahyu Kusuma

Sejak awal 2013 lalu berdiri, komunitas Lampung Belajar sudah membuka berbagai kelas belajar, di antaranya  kelas puisi, cetik, dan sulam usus. 

PEGIAT Lampung Belajar, Dewi Sophy Septeka, mengatakan walau baru satu tahun berdiri, komunitas ini sudah melakukan banyak kegiatan belajar bersama. Kelas yang sudah diselenggarakan, di antaranya menulis puisi oleh Ari Pahala Hutabarat dari Komunitas Berkat Yakin (Kober), teknik sulam usus oleh Aan Ibrahim, desainer, pemilik galeri sulam usus dan pegiat sulam usus di Lampung. 

Sabtu, 08 Februari 2014

Menciptakan Kiblat Baru Selain Rancage

Oleh Isbedy Stiawan Z.S.



Buku puisi Suluh karya Fitri Yani,
pemenang Hadiah Sastra Rancage 2014
untuk sastra Lampung.
BERUNTUNGLAH sastra berbahasa Lampung bisa eksis di tengah media lokal yang tidak menyediakan ruang (halaman) bagi karya sastra daerah (Lampung). Bahkan, beberapa nama sudah diakui di tingkat nasional melalui ajang pemilihan sastra berbahasa daerah yang digelar Yayasan Kebudayaan Rancage, yang berpusat di Bandung, Jawa Barat.

Sejak dibukanya penghargaan Rancage bagi sastra berbahasa Lampung, sebelumnya hanya berbahasa Sunda, Jawa, dan Bali, sudah tiga nama sastrawan (daerah) Lampung yang mendulang sukses. Mereka adalah Udo Z. Karzi, Asarpin, dan tahun ini diberikan kepada Fitri Yani untuk buku puisi berbahasa Lampung bertajuk Suluh (2013).